
Keesokan harinya. Hari yang paling di tunggu-tunggu Julia. Hari ini adalah hari perlombaan sains dan teknologi yang akan diselenggarakan pukul 08.00 pagi. Sangking semangatnya Julia sampai bangun pertama kali dari yang lain. Ia bergegas mandi dan bersiap-siap. Beruntung kejadian malam tadi tidak sampai membuat ia jatuh sakit hari ini. Julius benar-benar mengantar Julia sampai ke kamarnya dan masih sempat membelikan minuman hangat untuk adiknya itu sebelum pergi. Wendy, Febby dan Nisa kembali ke kamar cukup larut malam itu karna mereka mencari Julia yang tiba-tiba menghilang disisi mereka. Julia menceritakan semua yang terjadi tanpa melewatkan satupun kecuali tentang Sean yang menyatakan perasaannya. Mereka cukup terkejut begitu mengetahui kalau Julia dan Sean harus dibuat berenang di danau hanya karna kelelawar.
Disela-sela percakapan sebelum tidur, Julia sempat menanyakan tentang robot dan laptopnya pada teman-temannya. Ternyata selama Julia pergi Wendy lah yang mengambil alih mengendalikan robot lebah itu. Ia menunjukan hasil rekamannya pada Julia. Julia sangat terpesona dengan rekaman puncak peluncuran kembang api yang berhasil diambil kamera drone lebah nya. Nisa juga menunjukan hasil jepretan kameranya pada Julia dan itu juga sangat cantik. Mereka membagikan rekaman serta foto-foto tersebut ke media sosial dan mendapat banyak like dari orang-orang yang menyukai postingan mereka.
Pagi ini Nisa dan Julia segera pergi ke ruang kerja mereka untuk mempersiapkan semua keperluan untuk penampilan mereka nanti. Semua dicek satu persatu, perlengkapan, kondisi sistem, dan lainnya. Uji coba keseluruhan dilakukan sekali lagi sebelum perlombaan takutnya terjadi kendala yang tidak dinginkan saat di tengah-tengah lomba. Sedangkan Wendy ikut Febby ke toko kuenya. Walau belum buka tapi ada beberapa hal yang harus Febby lakukan bersama rekan-rekannya yang lain disana. Alasan Wendy ikut Febby cuman ingin memastikan apa benar Alwen menyukai Febby.
Sementara para peserta lomba mempersiapkan diri dan project sain mereka, para penonton juga sudah mulai berdatangan dan langsung menempati kursi mereka masing-masing. Tidak seperti kemari, kali ini Daniel dan Lina secara terang-terangan datang sebagai keluarga Flors. Dengan menggunakan mobil hadiah pernikahan mereka ke-16 bermerek Bugatti, semua orang terperangak melihatnya memasuki pintu gerbang sekolah. Mereka saling berbisik antara satu sama lain dan saling bertanya-tanya siapa gerangan orang dibalik mobil tersebut.
Daniel dan Lina keluar dari mobil berserta Adelia dan Adelio. Hampir sebagian besar orang di sekolah ini tidak mengenali mereka karna memang ini merupakan pertama kalinya mereka datang ke pulau Balvana. Popularitas perusahan Flors memang sudah terkenal dimana-mana bahkan sampai di kanca internasional. Namun sosok dibalik perusahaan ini lah yang jarang diketahui kebanyakan orang diluar ibu kota, hanya sedikit orang yang berkesempatan bisa bertemu langsung dengan Daniel. Masyarakat luas paling cuman lebih sering mendengar rumor-rumor tentang kehebatan perusahan Flors dalam bidang teknologi dan robotika.
"Aku sudah tidak sabar melihat project sains buatan putra dan putri kita. Pastinya sangat luar biasa," kata Lina dengan bersemangat nya.
"Pastinya. Sebaiknya kita segera menuju tempat duduk kita. Via bilang ia sudah meminta kursi khusus untuk keluarga kita pada Tn. Vincent."
"Tempat duduk seperti kemarin juga tidak apa-apa asalkan aku bisa melihat putra dan putriku tampil sudah cukup."
Tidak mau melewatkan acara perlombaan, mereka segera pergi menuju ruangan yang biasa diperuntukan untuk menggelar acara teater atau musical. Di sana sudah disediakan ruang khusus bagi tamu-tamu terhormat untuk menonton. Sebenarnya Lina ingin menghubungi Via terlebih dahulu untuk mengetahui ruangan mana yang mereka tempati tapi Daniel malah bersikeras kalau itu tidak perlu. Ia menyakinkan istrinya kalau ia sudah tahu ruangan mana yang akan mereka tempati. Lina mengiyakan saja apa kata suaminya. Dengan Daniel sebagai penunjuk arah, sampailah mereka di depan sebuah pintu besar dengan seorang penjaga disana.
"Apa kau yakin itu ruangannya?" tanya Lina sedikit ragu.
"Via bilang tempatnya ada disekitar sini. Kalau bukan yang itu, yang mana lagi? Dan juga tepat di atas pintu itu jelas tertulis ruang VIP."
"Mungkin kali ini papa benar karna bukan pertama kalinya papa salah masuk ruangan," celoteh Adelia.
"Sembarangan kau ini. Setidaknya jagalah harga diri papamu ini sedikit."
"Sedikit saja nih?"
__ADS_1
"Ya setidaknya berilah pujian pada papamu ini."
"Pujian? Baiklah. Papaku adalah papa terbaik di dunia ini walau dikenal sangat dingin, kejam dan tanpa perasaan," kata Adelia seperti tanpa dosa.
"Dikatakan salah tapi benar juga," timpal Adelio.
"Hah... Begitu juga boleh."
"Hihihi..." Lina tertawa kecil melihat kelakuan mereka.
Sampai di depan pintu bukannya disambut dengan baik, mereka malahan dicegat masuk oleh seorang penjaga.
"Orang yang tidak bersangkutan dilarang masuk. Ruangan ini khusus untuk kalangan terhormat saja."
"Oh, kami sebenarnya tamu yang datang dari ibu kota. Tn. Vincent pasti sudah memberitahu anda, bukan?" jelas Lina masih bersikap sopan. Ia sama sekali tidak meminta Daniel untuk bicara.
"Iya, itu kami."
"Tapi tiba-tiba Tn. Vincent kemudian bilang untuk tidak perlu repot-repot menyiapkan nya," ujar pria itu dengan nada tidak menyenangkan.
"Apa maksudmu?" seketika Daniel mengerutkan dahinya.
"Aku tidak tahu apa-apa soal ini. Aku cuman menjalankan perintah dari Tn. Vincent saja. Mungkin kalian itu tidak lah dianggap sebagai tamu terhormat. Ketahuilah kalau ruangan ini cuman diperuntukkan bagi keluarga yang berstatus sosial tinggi seperti keluarga Gelael, keluarga Abend dari Jerman, keluarga Arlo yang menjadi keluarga paling berkuasa di kota ini."
"Hm, paman benar. Semua keluarga ternama itu memang tidak bisa dibandikan dengan keluarga kami karna mereka semua terlalu rendah," kata Adelia dengan ekspresi anak-anaknya.
Mendengar itu lantas pria tersebut tidak terima. "Jaga bicaramu anak kecil! Kau itu tidak tahu apa-apa..."
__ADS_1
Seketika pria tersebut terdiam begitu Adelio mengacungkan sebuah pistol berukuran kecil kearahnya.
"Jangan berani kau sentuh kakak ku atau kepalamu berlubang," ancam Adelio namun raut wajahnya masih terlihat santai.
"Adelio, jangan disini," cegat Lina sebelum terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. Ia menutup ujung pistol tersebut menggunakan jempolnya.
"Kau membawa senjatamu?" tanya papanya.
"Pelajaran ke-5, jangan pernah tinggalkan senjatamu. Bahaya selalu datang kapan saja termasuk orang-orang menjengkelkan," jelas Adelio.
"Hehe... Ayah sepertinya sudah mendidik mesin pembunuh berdarah dingin," gumang Lina.
"Atau menjadi pengawal yang hebat," Sambung Adelia yang bersembunyi dibelakang adiknya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1