Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Batu giok


__ADS_3

"Tuan besar Flors, anda tidak meminum pil yang aku berikan?"


"Tidak. Pil seperti itu terlalu berharga untuk orang tua sepertiku ini."


"Lina, apa sungguh tidak ada cara untuk menyelamatkan ayahku?" tanya Rayner berharap.


"Daniel, sebaiknya kau kejar Tn. Stevan sebelum ia pergi jauh. Tuan besar Flors serahkan saja padaku. Selama masih ada aku disini tidak akan kubiarkan malaikan maut menjemputnya hari ini."


"Aku mohon padamu kucing kecil. Aku percaya padamu," Daniel mengecup kening Lina sekali lalu beranjak pergi.


"Pastikan kau menangkapnya hidup-hidup karna aku ingin mengulitinya!!!"


"Baiklah!" teriak Daniel sambil berlari.


Lina tiba-tiba menyayat pergelangan tangannya sendiri. Darah mengalir dari luka yang dihasilkan. Yang lain tidak bisa berkata apa-apa melihat tindakan tersebut. Lina meneteskan darahnya tepat ke bibir Tn. Flors yang terlihat telah memucat.


"Minumlah sedikit darahku tuan besar Flors. Darahku cukup kuat untuk memperlambat penyebaran racunnya sampai ke jantung anda. Dalam masa itu aku akan mencoba membuat penawar racunnya."


Tn. Flors menjilati darah yang menetes ke bibir. Tiga tetes darah saja sudah cukup. Setelah itu Ducan membantu memperban luka di pergelangan tangan putrinya itu menggunakan sapu tangan miliknya. Sedangkan Rayner baru selesai membalut luka ayahnya.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya aku berterima kasih padamu. Nyawaku ini perna diselamatkan oleh ibumu dan sekarang kau menyelamatkan aku. Tapi apa yang telah aku lakukan? Aku perna sempat membentakmu, mencoba mengusirmu, tidak merestui hubungan kalian dan yang lebih parah lagi aku mala berencana memisahkan mu dengan anakmu. Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku."


"Aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi tuan besar Flors. Aku memaklumi ketidaktahuanmu. Seandainya kau tahu sejak awal, kau tidak akan berbuat seperti waktu itu."


"Apa kalian sudah selesai disana? Cepatlah keluar!" kata Via dengan tegas.


"Ada apa Via?"


"Tn. Stevan baru saja mengaktifkan bom! Ada beberapa bom di berbagai sudut bangunan yang durasi ledakannya berbeda-beda. Yang pasti markas ini hancur tak bersisa kurang lebih dari lima menit," jelas Via.


"Apa tidak bisa dimatikan?" tanya Rayner sambil membantu ayahnya berdiri.


Ducan juga ikut membantu. Mereka semua mulai bergerak meninggalkan ruangan inti tersebut. Para bawahan mereka juga telah diminta segera keluar dari bangunan itu.


"Tidak bisa. Begitu bom ini diaktifkan maka tidak bisa dinonaktifkan lagi. Kami akan berusaha menghambat durasi ledakannya," kata Briety sambil tangannya sibuk di depan layar monitor yang sedang menunjukan hitungan mundur.

__ADS_1


DUAR ! ! !


Suara ledakan yang dasyat terdengar dari sisi bagian kiri mereka. Akibat ledakan itu membuat aliran listrik menjadi terganggu. Lampu beberapa kali mati dan menyala kembali. Mereka mempercepat langkah mereka agar bisa keluar dari tempat itu sebelum ledakan lainnya terjadi.


BOOM ! ! !


Kali ini ledakannya terjadi lebih dekat dan dasyat. Percikan api terlihat jelas dari bebagai aliran listrik yang ada. Beruntung bagi mereka karna sudah dekat dengan lif. Disana sudah menunggu Qazi, Jony, Rey dan Tony. Mereka tentunya tidak mau meninggalkan bos mereka begitu saja. Pintu lif terbuka mereka semua bergegas masuk.


BOOM ! ! !


Ledakan kembali terdengar sampai-sampai membuat lif berguncang. Sampai di atas, Briety dan Via menyambut mereka di depan pintu lif. Mereka semua segera keluar dari bangunan tersebut. Terlihat ada retakan kecil di lantai yang membuat ngeri. Salah langkah dan tidak berhati-hati lantai tersebut bisa saja amblas. Mereka semua berhasil keluar sebelum syara ledakan kembali terdengar dan ledakan kali ini menyebabkan sisi belakan bangunan tersebut roboh sampai tenggelam ke dasar.


"Ayok cepat tinggalkan tempat ini," ajak Rayner setelah membantu ayahnya masuk ke mobil.


Briety menarik Via untuk duluan masuk ke mobil yang berbeda. "Dimana menantuku?" tanya Briety begitu tidak mendapati keberadaan Lina dan... Violet.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Violet! Kembalikan batu giok milik ibuku!" bentak Lina.


Lina sendari tadi mengejar Violet yang mencoba melarikan diri. Mereka saat ini ada disisi lain halaman gedung. Sebagian dari bangunan itu tidak berbentuk lagi dengan kobaran api yang menghiasinya.


"Dasar tidak tahu malu! Semua itu milik ibuku. Kau tidak berhak mendapatkannya!"


"Tidak berhak? Kau lah yang tidak berhak Lina. Kau itu cuman gadis desa dan semua orang tahu itu. Hanya aku satu-satunya putri dari keluarga Cershom! Kau sebagai putri yang hilang sebaiknya menghilanglah selamanya!"


"Violet, kau ini memang harus diberi pelajaran... Sttt!" tiba-tiba Lina merasakan kram diperutnya yang membuat ia sedikit membungkuk menahan sakit sambil menopang perutnya menggunakan kedua tangan.


"Ha, kau tidak akan bisa menghentikan aku dengan perut besar mu itu. Sampai jumpa lagi nanti. Kau jangan melahirkan dulu disaat aku kembali," Violet berlari pergi meninggalkan Lina. Tapi tak berselang lama...


DUAR ! ! !


Suara ledakan kembali terdengar dari bawah bangunan. Hal itu membuat tanah bergetar hebat lalu memunculkan retakan besar tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Retakannya semakin besar dan akhirnya memunculkan lubang yang mulai menelan apa saja di atasnya. Violet bergegas menghindari retakan itu yang mengarah padanya. Namun sayangnya ia tidak cukup cepat.


"AAAA....... ! !" teriak Violet begitu terjatuh ke dalam lubang.

__ADS_1


"Violet!" pekik Lina. Ia tidak bisa membantu, dan lagi lubang itu semakin membesar mengarah ke arahnya.


"Nona Lina!" panggil Judy yang menghampiri Lina bersama Emma. "Apa yang anda lakukan disini?"


"Judy, Emma."


"Kita harus pergi dari sini," Emma menarik tangan Lina menjagaknya meninggalkan tempat itu.


"Tapi..." Lina melirik tempat dimana Violet terjatuh.


"Apa yang anda tunggu? Tempat ini akan hancur kurang dari 30 detik lagi," Judy memaksa menarik Lina meninggalkan tempat itu.


Mobil mereka semua melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan bangunan yang telah sepenuhnya terbakar. Lina masih terus melirik ke belakang begitu mobil semakin jauh. Kobaran api masih tampak jelas membumbung tinggi. Bagaimana dengan nasif Violet? Apa ia tewas disana? Sangat kecil kemungkinan ia dapat selamat.


"Ada apa? Apa kau kepikiran dengan Violet?" tanya Ducan.


Lina sempat menceritakan apa yang terjadi pada ayahnya. Lina tidak menjawab. Ia tertunduk sambil mengelus perutnya.


"Ini takdir yang sudah ditetapkan untuknya. Karna keserakahannya yang telah membawahnya kepada karma nya sendiri. Mungkin aku akan sedikit merindukan sifat manja dan cerobohnya itu."


"Entahlah. Ini pertama kalinya aku merasa kasihan pada musuhku. Apa ini karna bukan aku sendiri yang membunuhnya atau ada alasan lainnya. Tapi dari semua itu aku menyesali tidak berhasil mendapatkan kembali batu giok peninggalan ibu. Batu giok itu ikut terbawa oleh Violet."


"Jangan khawatirkan hal itu. Kau masih tetap bisa mewarisi rumah lelang tanpa atau ada batu giok tersebut."


"Batu giok itu lebih berharga dari rumah lelang. Ada kenangan ibu dalam batu giok itu yang membuatnya tak ternilai."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2