
"Selamat malam pasangan kekasih," kata seorang pria yang muncul dari kegelapan.
"Kalian pikir dapat kabur dari kami?" muncul seorang dari arah belakang mereka.
Marjorie dan Julius segera waspada, tidak. Mereka tentunya terlihat tenang-tenang saja menghadapi kedua pria itu, biarpun kedua pria itu menenteng senjata tajam. Julius saja baru mengalahkan sekelompok orang dan Marjorie belum lama ini membunuh seseorang, kenapa mereka harus takut jika terpaksa melawan dua orang lagi?
"Baiklah kalian berhasil menangkap kami," kata Julius sambil mengangkat kedua tangannya.
"Dalam hitungan ketiga aku minta kau pergi dari sini. Aku akan menangani mereka sendirian," bisik Marjorie.
Julius dibuat tak percaya atas apa yang barusan di dengarnya. "Apa?! Mana mungkin aku membiarkan seorang gadis melindungi ku? Seharusnya kaulah yang sebaiknya menyingkir sebentar nona dan biarkan aku menghajar mereka."
"Kau sepertinya mengalami gegar otak akibat terbentur tadi. Kau tidak tahu apa-apa! Mereka bukanlah preman jalanan yang amatiran itu."
"Teruslah mengoceh sayang. Maka aku tidak akan menyisakan mereka untukmu," Julius mulai menyerang pria dihadapannya.
"Eeee!! Aku malah akan menghajarmu lebih dulu dari pada mereka!!" teriak Marjorie dengan kesal.
Marjorie juga tidak tinggal diam. Ia menyerang pria yang satunya. Pertarungan sengit di taman tersebut tidak terelakan. Karna dua lawan mereka memiliki senjata, sebisa mungkin mereka menghindari setiap ayunan senjata tersebut. Walau sebenarnya keadaan Julius sekarang ini tidak seperti pertarunganya melawan sekelompok orang di Casino sebelumnya, tapi mengalahkan mereka bukanlah perkara sulit. Ia sempat bertanya pada Marjorie, apa boleh ia membunuh mereka? Marjorie memperbolehkan asalkan tidak meninggalkan jejak sama sekali. Mendengar itu membuat Julius bersemangat. Ia merebut senjata tajam yang digunakan lawannya lalu balik menyerang pria itu dengan senjatanya sendiri. Dalam sekejap pria itu tersekur ke tanah bersimbah darah. Ia seketika tewas akibat senjata tajamnya memotong lehernya. Selang beberapa detik Marjorie juga berhasil membunuh lawannya dengan cara yang sama.
"Fiiuuh.... Melawan mereka sedikit melelahkan," Julius terduduk di atas rerumputan sambil mengatur nafasnya.
"Kau terluka," tunjuk Marjorie ke bagian belakang leher Julius yang terlihat ada aliran darah disana.
Julius menyekat bagian belakang lehernya dan benar saja ada bekas darah menempel di telapak tangannya. Darah tersebut berasal dari kepalanya yang terluka sebelumnya. Akibat pertarungan melawan pria tadi membuat lukanya semakin terbuka sampai mengeluarkan darah yang cukup untuk mengalir ke bagian belakang lehernya.
"Bukan sesuatu yang serius. Aku akan mengobatinya nanti," Julius bangun dari istirahat singkatnya dan sedikit meregangkat tubuhnya.
"Tidak bisa dibiarkan begitu! Kau harus cepat membersihkan lukamu dan mengobatinya, kalau tidak bisa infeksi."
Marjorie menarik tangan Julius menuju mini market terdekat. Ia membeli sekantung kapas, beberapa plester luka dan sebotol air mineral. Setelah membayar di kasir, Marjorie kembali menarik tangan Julius menuju taman tadi cuman sedikit menjauh dari tempat dua pria yang terbaring tewas itu. Julius membiarkan Marjorie mengobati luka-lukanya. Dibasahinya kapas menggunakan air mineral lalu Marjorie menggunakan kapas tersebut untuk menyekat sisa darah di leher serta luka di kepala Julius.
"Sstt..." Julius mendesit disaat Marjoret tanpa sengaja menyentuh lukanya.
"Maaf. Aku akan lebih hati-hati."
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
Selesai mengobati luka Julius, Marjorie membereskan semuanya. Tidak ada percakapan diantara mereka. Suasananya menjadi terasa canggung. Mereka tidak tahu harus memulai percakapan dari mana sampai Marjorie memberanikan diri berkata...
"Em... Terima kasih karna sudah menolongku," kata Marjorie tanpa berani melirik Julius.
Julius menatap wajah manis yang duduk disebelahnya. Cukup lama sampai Marjorie menoleh dan padangan mereka bertemu. Dengan cepat Julius mengalihkan pandangnya kesisi lain taman.
"Itu tadi cuman kebetulan. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu karna telah mengobati lukaku."
"Sama-sama. Hoam..."
Marjorie menguap akibat mengantuk. Sangking ngantuk nya dan tak mampu menahan kelopak matanya tetap terbuka. Marjorie seketika membaringkan kepalanya di pangkuan Julius dan mulai tertidur. Sedikit kaget karna hal itu, Julius mencoba membangunkan Marjorie namun tidak berhasil.
"Astaga, apa boleh buat. Terpaksa aku harus membawanya kembali kalau seperti ini. Dia sepertinya ngantuk berat."
Julius membetulkan helaian rambut yang menutupi wajah Marjorie. Ditatapnya lama-lama wajah yang sedang tertidur itu.
"Tuan muda Julius!" panggil Norman sambil berlari menghampiri.
Norman segera mengeri begitu melihat seorang gadis terbaring dipangkuan Julius. "Maafkan saya."
"Apa yang paman lakukan disini? Dan bagaimana paman tahu aku ada di taman ini?"
"Papamu menyuruhku untuk membantumu membereskan orang-orang yang ada di Casino Lotus. Teman-temanmu bilang kalau anda berkeliling sebentar untuk mencari udara segar, tapi tidak kunjung kembali. Sebab itu saya mencarimu."
"Apa semuanya sudah dibereskan?"
"Sudah. Kesebelas orang tersebut telah diamankan dan biaya ganti rugi juga telah dibayar. Em... Ngomong-ngomong tuan muda, siapa gerangan gadis ini? Apa dia pacar mu?" tanya Norman sedikit lancang.
"Urus saja perkerjaanmu," Julius berdiri sambil membopong tubuh Marjorie dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. "Apa paman Norman bawa mobil kesini?"
"Iya. Aku menyewanya di tempat sewaan terdekat."
"Bagus. Antar kami ke vila milik paman Samuel?"
__ADS_1
"Siap terlaksa tuan muda Julius."
Norman segera menyiapkan mobil untuk mengantar Julius ke vila milik Samuel. Bukan tanpa alasan Julius kesana. Cuman tempat itu yang terdekat dan tak mungkin juga ia mengantar Marjorie kembali ke asrama sekolah. Menginap semalam di vila milik pamannya itu menjadi pilihan terbaik. Lagi pula Samuel sudah bilang sendiri kalau Julius dan Julia bebas datang kapan saja ke vila tersebut. Diperjalanan Julius sepat memberi kabar pada Jeffri dan Carl agar mereka tidak khawatir mencarinya.
Tidak sampai 10 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai. Norman segera membantu membukakan pintu mobil untuk Julius dan membantunya menekan bell pintu vila tersebut. Seorang pria paru baya membukakan pintu dan mempersilakan Julius masuk. Dia adalah pengurus vila tersebut. Norman tidak menemani. Ia masih harus menyelesaikan tugasnya dan mengembalikan mobil sewaan itu.
"Julius, siapa gerangan gadis ini?" tanya Samuel saat diberitahu pengurus vila kalau Julius datang.
"Dia teman sekelas ku. Kami bertemu di kota dan mengobrol sebentar, tapi tidak tahunya ia tiba-tiba tertidur," jelas Julius setelah membarukan Marjorie di kamar tamu.
"Aku pikir dia pacarmu," kata Samuel dengan nada menggoda.
"Jangan berpikir sembarangan! Kami belum pacaran."
"Oh... Jadi ada kemungkinan kalian akan pacaran atau kau yang belum berani menyatakan perasaanmu padanya?"
"Paman, sudahlah! Aku mau tidur," Julius buru-buru pergi ke kamarnya untuk mengakhiri percakapan yang membuat Julius malu itu.
"Tapi aku akui Julius, seleramu lumayan manis juga!" teriak Samuel tidak henti-hentinya menggoda Julius.
"Paman...!"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1