Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kunjungan ke rumah sakit


__ADS_3

Keesokan harinya. Rayner dan Briety datang sekitar jam 09.00. Lalu disusul Kaito yang datang sekitar tiga jam kemudian. Penerbangan dari Jepang ke bandara internasional yang ada di ibu kota memang memerlukan waktu yang cukup lama. Ditambah lagi Kaito harus menunggu penerbangan selanjutnya untuk bisa sampai di pulau Balvana. Rayner dan Briety juga baru mengetahui tentang kehamilan putrinya kandung mereka, Via. Hal itu disambut gembira oleh mereka.


Sore harinya Wendy dan Febby datang menjeguk Julia bersama Jeffry dan Carl yang juga ingin menjeguk Julius. Mereka baru mengetahui tentang teman mereka yang masuk rumah sakit dari Prof. Via yang masih menyempatkan diri mengajar di sekolah Anthony. Mereka sepakat berangkat bersama setelah pulang sekolah. Daniel, Lina dan yang lainnya mempersilakan untuk teman-teman putra dan putri mereka untuk berbicara lebih leluasa. Lagi pula ruangan tersebut cuman dibatasi 6 orang selain pasien.


"Uaaaahh....... Julia, inilah yang aku takutkan tapi kau bersikeras mau pergi sendiri. Sekarang lihatlah dirimu terbaring di rumah sakit," tangis Febby begitu berjumpa dengan Julia.


"Jangan sedih begitu, Febby. Aku cuman mengalami luka kecil dan sekarang sudah baikan," kata Julia menenangkan temannya satu ini. Kondisi Julia memang sudah lebih baik dari kemarin. Saat ini ia sudah bisa duduk tanpa harus bersandar mengunakan tempat tidur yang ditegakkan bagian atasnya.


"Apa kau yakin? Wajahmu saja masih sepucat kertas tulis itu mau dikatakan sudah baikan. Aku tidak percaya."


"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku juga tidak percaya kalau kau cuman mengalami luka kecil. Sebuah luka kecil tidak akan membuatmu berakhir di rumah sakit dan diharuskan menjalani rawat inap," tanya Wendy penasaran.


"Jika Julia tidak mau cerita, aku bisa memaksa Nisa untuk menceritakannya. Ayok katakan Nisa, apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang telah Rica lakukan sampai Julia terluka seperti ini?" tanya Febby pada Nisa.


"Ini bukan salah Rica. Kalian jangan salah sangkah dulu padanya."


"Lalu salah siapa? Sudah jelas Rica yang menyerang kita dan menculikmu agar Julia datang menyelamatkan mu," kata Wendy.


"Ini..." Nisa melirik ke Julia.


"Maaf, aku tidak bisa memberitahu kalian hal yang sebenarnya karna ini masalah pribadi keluarga Flors. Rica dan Nisa cuman kebetulan terlibat tapi mereka tetap tidak mengetahui semua ini."


"Baiklah, kami tidak akan memaksa ingin tahu. Masalah yang terjadi di keluarga kalangan atas memang rumit dan kami tidak mau ikut campur."


"Hidup di keluarga berpengaruh juga ternyata tidak ada enak-enak, ya? Aku pikir kehidupan kalian pasti sangat menyenangkan. Kalian bisa melakukan apa saja yang kalian mau dengan cuman menjentikan jari saja, tapi nyatanya kalian sangat rentan terancam bahaya. Banyak masalah yang terjadi dan berbelit-belit. Semuanya tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Belum lagi soal perebutan kekuasaan atau persaingan yang ketat. Rata-rata keluarga kalangan atas itu cuman memakai topeng tapi hati mereka penuh kelicikan...


"Hei, sudah bicaranya?" kata Marjorie menyadarkan Febby yang terus mengoceh.

__ADS_1


"AAH!! Ma, maafkan aku," Febby baru tersadar kalau Julia berasal dari kalangan yang ia gerutui. "Bukan itu maksudku. Yang aku bicarakan mereka, bukan keluargamu. Maafkan aku jika aku menyinggumu. Kita masih berteman, bukan?"


"Tidak apa-apa, Febby. Semua yang kau katakan benar. Semua itu cuman topeng, senyum yang mereka berikan antara satu sama lain hanyalah sebuah kepalsuan belakang. Jauh dalam hati mereka tersimpan berbagai macam cara licik untuk saling menjatuhkan. Kami dari kalangan atas cuman mengenal prinsip 'Siapa yang kuat dia lah yang berkuasa' persaingan yang ketat memang sering terjadi."


"Perselisihan yang terjadi di kalangan atas memang rumit. Aku saja yang sudah sering melihat cara-cara licik mereka dibuat pusing, apa lagi bagi mereka yang bersaing saling menjatuhkan," tambah Marjorie.


"Hei, para gadis. Apa yang kalian bicarakan?"


Jeffri tiba-tiba menyela pembicaraan mereka sambil merangku bahu Marjorie dan Wendy. Karna kaget Marjorie tanpa sengaja mengayunkan satu pukulan ke wajah Jeffri. Sangking kuat pukulan tersebut membuat Jeffri terduduk di lantai.


"Aw..." rintih Jaffri kesakitan.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Salah kau juga seharusnya kau jangan mengagetkanku seperti itu. Kau tidak apa-apa?"


"Sebagai seorang gadis, tenagamu lumayan kuat juga. Kepalaku pusing," Jeffri segera bangkit dan kembali menampakan gaya menjengkelkannya. "Tapi pukulan kecil itu tidak terlalu berpengaruh bagi pria tangguh sepertiku ini."


"Paling sebentar lagi ia akan menjerit. Lihat saja."


Dan ternyata perkiraan Julius benar. Disaat Jeffri hendak merayu Marjorie, tiba-tiba Pieper seketika keluar dari balik sarung penyaga tangan Marjorie dan mendesis marah pada Jeffri. Jeffri yang tidak menduga hal itu dibuat sangat terkejut. Ia berteriak dan pergi menjauh ke sudut ruangan. Wendy, Febby dan Nisa juga dibuat terkejut atas kehadiran ular di rumah sakit ikut melangkah mundur dari Marjorie.


"AAH!! Makhluk itu lagi. Kepada bisa ada padamu, bukanya ular itu milik Julius?" tanya Jeffry yang bersembunyi dibalik sofa.


"Pieper? Itukan ular peliharaanmu, kak. Kenapa bisa akrab dengan Marjorie?" tanya Julia pada Julius.


"Mana aku tahu. Sejak kenal dengannya, Pieper malah ingin terus bersamanya."


"Sepertinya ia memiliki majikan baru," ujar Carl.

__ADS_1


Dari obrolan santai yang terjadi di dalam dan gelak tawa kecil melihat tingkah Jeffri yang ketakutan, diluar ruangan tersebut sendari tadi Rica memperhatikan mereka. Ia berinisiatif datang dengan alasan mau melihat keadaan Nisa dan mengantarkan pakaian ganti untuknya. Karna memang sejak kejadian itu Nisa tidak kunjung pulang ke rumah maupun ke asrama sekolah. Tapi melihat teman-teman Julius dan Julia yang lain ada diruangan itu membuat Rica ragu-ragu untuk menemui mereka. Apa yang akan mereka katakan nanti setelah melihatnya? Wendy dan Febby sudah tahu kalau masalah terluka nya Julia sampai separah itu berawal darinya. Andai saja ia tidak terhasut oleh perkataan Lady Blue, Julia pasti tidak akan berakhir seperti ini. Akibat terus melamun di depan pintu masuk membuat Rica tidak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya.


"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa tidak masuk?" tanya Daniel membuat Rica menoleh.


"Ah, Tn. Flors?!" teriak Rica sangking kaget nya. "Sa, saya disini cuman diminta melihat kondisi Nisa. Sepertinya dia baik-baik saja. Saya akan segera pergi," katanya mencari alasan dan malah berbalik pergi.


"Nanti," panggil Daniel.


Langkah Rica terhenti lalu ia berbalik. "Iya, Tn. Flors."


"Tidak perlu mencari alasan jika kau ingin menemui mereka. Jumlah tamu yang diperbolehkan berkunjung cuman dibatasi 6 orang, mereka baru berlima."


"Em... Sebaiknya lain kali saja."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2