Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Mengikuti kemanapun


__ADS_3

"Em... Tn. George, apa boleh saya ke kota hari ini? Saya harus membeli bahan obat-obatan tambahan untuk obat penawar racun Gold crystal."


"Kau tidak perlu minta izin. Samuel bisa menemanimu ke kota hari ini."


"Maaf. Hari ini aku tidak bisa. Ada pertemuan penting pagi ini," kata Samuel mencari alasan. Ia masih canggung berbicang dengan Lina.


"Kau bisa mengundurnya. Pagi ini kau temani Velia ke kota. Aku tidak akan tenang jika membiarkannya berkeliaran di kota sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?"


"Aku tidak yakin bisa terjadi sesuatu pada wanita ini. Tidak akan ada yang berani macam-macam dengannya," batin Samuel. "Tapi, ayah. Klienku hari ini berasal dari luar negeri. Pertemuannya tidak bisa diundur."


"Kalau begitu cari saja klien lain."


"Tn. George tidak perlu sampai seperti itu. Saya bisa ke kota sendiri."


"Tapi..."


"Saya yakin tidak akan terjadi apa-apa pada saya," kata Lina berusaha meyakinkan George.


"Baiklah, aku percaya padamu. Tapi jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku."


"Iya."


Selesai sarapan Lina bersiap untuk pergi ke kota. Ia diantar sopir pribadi George. Samuel tidak bisa tenang jika membiarkan Lina pergi sendiri, walau ia tahu tidak akan mungkin terjadi apa-apa pada Lina. Jadi ia memutuskan untuk mengikuti Lina diam-diam.


Di ibu kota, Lina mengunjungi apotek tempat biasa ia membeli bahan-bahan obat. Cuman apotek ini satu-satunya yang menyediakan sebagian besar bahan-bahan obatan hebral dari mancanegara yang Lina butuhkan.


"Mohon maaf, kami kehabisan Cyanthillium cinereum yang anda inginkan," ujar stap apotek itu sambil menyerahkan bahan-bahan yang Lina pesan.


"Apa ada apotek lain yang menyediakan Cyanthillium cinereum ini?" tanya Lina.


"Saya kurang yakin ada apotek lain di kota yang menyediakannya. Em... Mungkin anda bisa memesannya secara online," saran stap apotek itu.


"Memesan secara online? Itu memerlukan waktu untuk melakukan pengiriman. Saya membutuhkan bahannya hari ini."


"Apa mama ingin membuat obat penawar racun?"


Suara lembut nan manis yang datang dari belakang Lina membuat ia menoleh dan mungkin harus sedikit menunduk. Ia cukup dikejutkan atas kehadiran dua anak imut yang menatapnya dengan senyuman.


"Mama," kata Julia sambil memeluk kedua kaki Lina.


"Mama? Tunggu dulu. Sa, saya bukan mama kalian..."


"Wah... Putra-putri anda sangat manis," ujar stap apotek itu disaat ia melihat Julius dan Julia.


"Bukan. Saya saja tidak mengenal mereka."


Lina berlutut menyelaraskan tingginya dengan Julius. Sedangkan Julia, bukannya melepaskan pelukannya ia mala beralih merangkul leher mamanya. Lina membiarkan itu.

__ADS_1


"Kalian tidak bisa mengenali sembarang orang sebagai mama kalian."


"Kami tidak salah mengelai orang. Kau mama kami," kata Julius.


"Iya. Bukannya mama hilang ingatan? Kami disini ingin mengembalikan ingatan mama," sambung Julia.


"Dari mana mereka tahu? Apa mereka sungguh anakku? Tidak. Aku tidak bisa percaya begitu saja.


Terlalu janggal disini. Bagaimana mungkin anak-anak seumuran mereka bisa sendirian ada di kota dan tahu betul aku ada di apotek ini?" pikir Lina. "Kalian sungguh manis, tapi maaf. Mungkin kalian sungguh salah mengenali orang."


Lina melepaskan rangkulan tangan Julia kemudian berdiri kembali. Julia yang memang sangat merindukan mamanya merasa belum puas hatinya memeluk sang mama. Lina juga merasakan hal yang sama. Walau merasa ragu terhadap kehadiran Julius dan Julia, namun di hati kecilnya ada perasaan kedekatan yang mendalam.


"Aku harus memastikannya terlebih dahulu. Selagi ingatanku belum pulih sepenuhnya, aku tidak bisa mempercayai siapapun."


Dengan berat hati Lina melangkah keluar apotek tersebut meninggalkan Julius dan Julia di sana. Tidak mau kehilangan mamanya lagi, Julius dan Julia bergegas mengikuti Lina dari belakang.


"Aku sudah bilang, aku bukan mama kalian. Berhentilah mengikutiku."


Julius dan Julia tidak mendengarkan. Mereka terus mengikuti Lina kemanapun Lina pergi. Seperti ke minimarket saat ini. Sebelum pulang Lina ingin membeli sedikit camilan. Jarang-jarang ia bisa ke kota dan membeli sesuatu yang ia inginkan sekarang. Ia merasa tidak enak hati jika harus minta dibelikan camilan atau makanan yang sedang dinginkannya pada Samuel. Selesai membeli semua apa yang diinginkannya Lina keluar dari minimarket. Ia berencana pulang tapi bingung dengan dua anak-anak yang mengikutinya ini. Kemana ia harus mengantar mereka pulang?


"Dimana rumah kalian? Biar kuantar kalian pulang." kata Lina pada mereka.


"Kami tak ingin pulang."


"Kami ingin terus bersama mama kemanapun mama pergi."


"Hiks... Hiks... Huaaa.......aah...... Mama tidak sayang lagi sama Julia. Mama benar-benar sudah lupa pada kita. Huhu........huu......"


Lina merasa bersalah telah membentak gadis kecil yang kini menangis di depannya. Ia tidak tega melihat wajah imut itu bersedih namun ia kebingungan bagaimana cara menenangkannya


"Ssutt... Ssutt... Berhentilah menangis. Maaf, maafkan... Mama. Mama tidak bermaksud membentak kalian."


"Hiks... Hiks..." Julia masih menangis terseduh-seduh.


"Aduh... Bagaimana ini? Em... Bagaimana kalau mama belikan es krim?"


"Es krim?" Julia melirik Lina dengan mata berlinang.


"Iya, mama akan belikan es krim. Jadi manis, berhentilah menangis, okey," dengan lembut Lina menyekat air mata Julia.


"Aku sayang mama," peluk Julia dengan senyum kembali di wajahnya.


"Hah... Apa boleh buat. Aku tidak akan bisa membiarkan wajah seimut ini bersedih."


"Berpura-pura sedih dan penuh kasihan memang sangat efektif," kata Julius pelan pada Julia.


"Tentu saja. Kakak harus mencobanya," balas Julia berbisik.

__ADS_1


"Itu tidak akan perna terjadi."


Lina menggandeng tangan Julius dan Julia pergi ke kedai es krim yang ada di dekat taman kecil sebrang minimarket. Setelah membeli es krim, mereka menikmati es krim tersebut di kursi taman yang memang banyak tersedia taman tersebut.


"Mmm.... Makan es krim di bawah rindamnya pohon sungguh sangat nikmat," kata Julia yang begitu menikmati es krimnya.


"Kalian sepertinya sangat suka sekali es krim," kata Lina.


"Sangat suka karna mama juga menyukainya," jawab Julia.


"Apa yang mama dan papa suka, kami juga menyukainya."


"Kecuali jeruk."


"Kalian tidak suka jeruk?"


"Tidak terlalu," jawab Julius singkat.


"Aku mala sangat tidak menyukainya. Aku benci buah satu itu," raut Julia telah menggambarkan betapa ia tidak menyukai jeruk.


"Kenapa tidak suka jeruk? Jeruk kan manis, penuh vitamin, baik untuk kesehatan tubuh."


"Itu menurut semua orang tapi tidak untukku. Rasa jeruk itu... Hmp!" Julia menahan mulutnya dari rasa mual yang datang tiba-tiba saat ia membayangkan rasa jeruk baginya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Lina sedikit khawatir.


"Kau masih trauma dengan rasa jeruk?" kata Julius membuat Lina menoleh padanya.


"Trauma? Memang ada orang yang trauma pada buah-buahan? Bagaimana bisa?" Lina sedikit bingung dengan kata-kata Julius.


"Dulu aku perna sakit dan mendapat resep obat yang cukup banyak. Salah satu obat itu ada yang rasa jeruk tapi baunya mengerikan. Aku selalu muntah saat meminumnya. Sejak saat itulah aku sangat tidak menyukai jeruk. Melihat jeruk saja bisa membuatku mual," jelas Julia.


"Oh... Jadi itu awal mulanya."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2