
"AAH ! ! ! Aku tidak mau di suntik!" pekik Julia histeris begitu dinginnya alkohol tersebut menyentuh kulitnya. Ia sampai berdiri dan menjauh dari Julius.
"Ju-Julia ternyata kau sudah sadar sendari tadi," ujar Wendy, Febby dan Nisa bersamaan.
"Dia bukannya sudah sadar tapi memang tidak pingsan. Kau berpura-pura tidak sadarkan diri untuk menghindari hukuman. Apa aku benar, adikku?" tebak Julius dengan tepat.
"Hehe... Maaf."
"Hehe... Apanya? Kau membuat kami takut tahu! Kami kira kau benar-benar pingsan karna penyakit tertentu," teriak Wendy dan Febby meluapkan kekesalannya.
"Sudahlah Wendy, Febby, yang terpenting dia baik-baik saja, kan?" kata Nisa dengan lembut pada dua temannya.
"Wah... Cuman Nisa yang paling baik denganku," Julia melompat dan kemudian memeluk Nisa dengan erat.
"Kau terlalu baik padanya," kata Julius pada Nisa. "Jadi, bisakah ceritakan apa yang terjadi sebenarnya?"
Wendy dan Febby secara bergantian menceritakan semua yang terjadi, dari awal rencana mereka ingin pergi ke atap gedung sekolah sampai berakhir di ruang kesehatan. Tidak ada satupun yang terlewat.
"Oo... Jadi seperti itu ceritanya."
"Itu bukan salahku. Rica duluan yang menantang ku. Sekarang rasakan sendiri hukumannya membersikan toilet sekolah."
"Ingin sekali aku melihat mereka, dua tuan putri yang manja diminta harus membersikan toilet," kata Wendy.
"Aku juga. Toilet sekolah sekarang pasti menjadi istimewa karna diberikan langsung oleh tuan putri. Hihi..."
"Kau benar sekali Febby. Hihi..."
Dengan begitu asiknya Wendy dan Febby cekikikan di dekat pintu masuk tanpa memperdulikan Julius, Julia dan Nisa. Arah obrolan mereka juga sepertinya sudah berubah dari yang tadi, namun mereka masih terlihat asik sendiri.
"Isi kepala mereka berdua persis sama," kata Julius begitu melihat tingka keduanya.
"Hal wajar karna mereka sudah berteman sejak kecil. Tapi... Kalau boleh tahu, apa benar yang kau katakan tadi Julius soal penyakit yang diderita Julia?" tanya Nisa mengalikan pembicaraan.
"Itu benar," jawab Julia.
"Lalu, apa kau juga benar lupa meminum obatmu?"
"Aku tidak perna lupa minum obat. Tapi obat yang mama kirimkan waktu itu berbeda dari obat yang biasanya. Baru minggu ini aku mencoba obat tersebut."
"Cobalah tanya mama malam ini. Beritahu semua yang kau rasakan."
"Baiklah."
"Hei, Julia. Ngomong-ngomong aku mau tanya. Dari ketiga pria itu, siapa yang kau pilih?" tanya Febby pada Julia.
__ADS_1
Julia yang tak tahu arah percakapan mereka berdua dibuat bingung dengan pertanyaan tersebut. "Hah? Kalian sebenarnya sedang membicarakan apa?"
"Aku dan Wendy cuman bertanya-tanya, dari ketiga pria yang sedang memperebutkanmu saat ini, siapa yang kau pilih? Apa itu, Alwen tadi? Sean? Atau Yusra?" ujar Febby memperjelas pertanyaannya.
"Iya. Mengingat selama ini mereka terus mencari perhatian dirimu. Kau membuat sebagian para gadis iri, terutama Rica," sambung Wendy.
"Itu benar. Dengar-dengar Rica sangat menyukai Yusra. Temanku di kelas juga cerita kalau ia perna tanpa sengaja melihat Rica menyatakan perasaannya pada Yursa namun ditolak secara halus oleh Yusra."
"Benarkah? Apa mungkin itu sebabnya Rica semakin membenci Julia, karna sang pujaan hati menyukai wanita lain?"
"Bisa jadi. Bisa jadi."
"Rica memang menyukai Yusra sejak pertama kali melihat Yusra muncul di tv," kata Nisa malah ikut bergosip.
"Oh... Ternyata cinta pandangan pertama."
"Diam-diam kau rupanya memperhatikan gerak-gerik Rica, ya Nisa?" Wendy menyenggol pelan bahu Nisa menggunakan bahunya.
"Rica terbilang tidak pandai menyembunyikan rasa sukanya pada seseorang."
"Aku baru tahu."
"Aku juga."
"Hah... Sekarang Nisa malah ikut-ikutan," Julia cuman bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan teman-temannya sendiri.
"Untuk yang dua orang itu mah selalu, tapi Nisa baru sekarang ia berani membicarakan kakak tirinya itu."
"Kembali ke pertanyaan awal. Jadi siapa yang kau pilih, Julia?" kata Febby mengulangi pertanyaannya.
"Tidak ada satupun diantara mereka!" jawab Julia dengan tegas.
"Kenapa tidak ada yang kau suka? Kalau dilihat-lihat, Sean orangnya lumayan baik walau sedikit jahil, kalau Alwen... Dia juga baik dan peduli pada semua, sedangkan Yusra..."
"Sedikit sombong," sambung Wendy. "Aku harap kau tidak memilih dia. Aku masih setuju jika kau memilih antara Alwen dan Sean."
"Coba saja mereka mendekati adikku. Tidak ada satupun yang pantas," batin Julius.
"Aku belum memikirkan untuk berpacaran. Aku masih ingin menikmati keseharian ku dengan bebas. Kita baru kelas satu SMA, belum lagi kuliah dan akhirnya kerja. Waktu masih panjang bagi kita untuk mencari pasangan. Kenapa harus buru-buru? Aku tidak peduli apa yang mau mereka lakukan, aku tetap tidak akan memilih diantara ketiganya. Masih banyak laki-laki di dunia ini, kenapa pilihanku dibuat sempit begitu?"
"Tidak salah juga jika kau berpikir demikian."
"Lalu, bagaimana dengan mu, Julius? Dari sekian banyak gadis yang mengejarmu, pasti ada satu yang kau suka, kan?" tanya Febby pada Julius yang sendari tadi melamun.
"Hah?" dengan raut wajah bingungnya, ia melirik Febby.
__ADS_1
"Kalau soal itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Julius pasti menyukai Marjorie," kata Wendy seketika membuat Julius terkejut.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Sudahlah, aku mau kembali ke kelas dulu. Karna kalian aku jadi terlambat mengikuti pelajaran," Julius berajak dari tempat duduknya lalu melangkah keluar dari ruang kesehatan tersebut.
"Julius! Biolamu ketinggalan!" teriak Nisa mengingatkan sebelum Julius pergi jauh.
Mendengar teriakan itu membuat Julius kembali dan mengambil biola nya.
"Aku baru pertama melihat raut wajah kakak seperti tadi," kata Julia setelah kakaknya pergi.
"Itu berarti kakakmu memang menyukai Marjorie."
"Uuh... Ternyata siswa terpopuler di sekolah kita sudah mendapat tambatan hati. Pantas saja ia dingin pada semua gadis."
"Siapa Marjorie?" tanya Nisa yang memang belum bertemu dengan Marjorie.
"Oh, Nisa memang belum bertemu dengannya. Marjorie merupakan gadis yang satu kelas dengan Julius. Dia miliki rambut pirang keemasan yang cantik dan bermata biru," jelas Wendy.
"Itu loh, siswi yang selalu bersama dengan Yusra," kata Febby.
Nisa mencoba mengingat-ingat. "Iya, aku ingat dia. Dia memang cantik tapi tidak perna tersenyum."
"Dia memang jarang tersenyum namun orangnya ramah. Kapan-kapan kita ajak jalan-jalan akhir pekan ini, bagaimana?" saran Julia.
"Ide bagus. Dia terlihat sibuk beberapa hari ini, mungkin ia mau ikut bersama kita."
"Apa kita juga harus mengajak Julius?"
"Sebaiknya Jangan. Nanti mereka berdua sibuk sendiri berduan," kata Febby dengan nada ejekan.
"Hahaha.... Kau benar sekali Febby."
Tawa mereka di ruang kesehatan tersebut seolah-olah tidak ada yang sakit sama sekali.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε