Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Ini Rahasia


__ADS_3

"Iya, aku juga tidak setuju. Julia harusnya menjadi miliki ku."


"AAHH ! !" teriak mereka kaget secara bersamaan karna kemunculan Alwen yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka.


"Alwen! Kau membuat kami terkena serangan jantung!" bentak Sean sambil mengatur nafasnya sangking kaget nya karna Alwen sempat menepuk pundaknya.


"Hihi... Kau curang Sean. Kau malah ingin memiliki sendiri semua gadis cantik ini," tawa Alwen melihat raut wajah terkejut temannya itu.


"Kau mengacaukan kesenanganku. Dimana Yusra?" tanya Sean mengalihkan pembicaraan.


Alwen mengubah posisinya menghadap keluar sambil menatap laut. Rambut ikalnya sedikit bergoyang saat angin malam menerpa. "Dia sudah pulang duluan. Ia terlihat cukup kecewa. Kau tahu sendiri 'kan tujuan dia datang ke pesta ini, yaitu menjumpai anggota Black Mamba. Tapi sayangnya Tn. Norman yang diajaknya kenalan itu ternyata palsu."


"Ngomong-ngomong tentang Black Mamba, sebenarnya siapa sih mereka itu? Kenapa semua orang terlihat takut begitu mendengar nama mereka?" tanya Wendy sedikit ingin tahu.


"Eh, kalian tidak tahu dengan mereka?"


"Aku saja baru mendengar nama mereka malam ini."


"Anggota Black Mamba adalah salah satu kelompok mafia terbesar dari tiga kelompok mafia yang terkenal di ibu kota. Kelompok ini dikenal sangat kejam dan sadis selama beberapa generasi penerus yang dirahasiakan. Tidak ada yang tahu siapa bos utama dari kelompok ini. Menurut rumor yang beredar di kalangan dunia bawah tanah, kelompok mafia Black Mamba didirikan oleh keluarga Flors," jelas Nisa panjang lebar membuat semua orang terdiam.


"Kau cukup tahu banyak ya Nisa," lirik Julia pada Nisa.


Nisa segera tersadar atas apa yang ia katakan barusan. "Ha?! Maaf aku nona Flo..."


Sebelum Nisa keceplosan membongkar identitas Julia, dengan sigap Julia menutup mulut Nisa. "Nisa..." bisik Julia.


"Hihi... Maaf."


"Kalian berdua sepertinya menyembunyikan sesuatu dari kami," ujar Febby yang mencurigai tingkah Julia dan Nisa.


"Tidak, kami sedang tidak menyembunyikan sesuatu. Benarkan Nisa," Julia berusaha menyangkalnya.


"I, iya. Itu benar. Memangnya apa yang kami sembunyikan, tidak ada gunanya juga," Kata Nisa ikut membantu.


"Tingkah kalian semakin membuatku berpikir kalau kalian memiliki rahasia yang tidak ingin kami mengetahuinya," Febby malah semakin mencurigai keduanya.


"Sudahlah, jangan memaksa mereka jika mereka tidak ingin mengatakannya. Sebagai seorang teman kalian seharusnya saling menghargai," lerai Sean membantu Julia. Ia tahu betul klau Julia pasti tidak ingin teman-temannya mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak memaksa kalian untuk cerita. Tapi aku berharap suatu hari nanti kalian mau memberitahu kami rahasia yang kalian sembunyikan."


"Semua ada waktunya tapi tidak sekarang."


"Tapi Nisa, aku cukup kaget juga kau mengetahui tentang anggota Mafia Black Mamba. Aku saja tidak tahu sejauh itu," kata Alwen.


"Soal itu... Sebenarnya aku sedikit tertarik dengan dunia bawah tanah ini," Nisa sedikit malu mengakuinya.


"Sulit dipercaya. Nisa yang dikenal pemalu ini teryata tertarik dengan sesuatu tindak kriminal," ujar Wendy sambil menyenggol bahu Nisa.


"Tapi aku takut juga. Untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan mafia seperti tadi," kata Febby.


"Tunggu dulu, bukankah teman paman Rica tadi mengaku-ngaku sebagai anggota Black Mamba dan kedatangan tuan muda Arlo juga untuk berjumpa dengan pria ini, yang berarti mereka bedua ingin membangun hubungan baik dengan anggota Black Mamba. Apa mungkin mereka..."


Mendengar kejangalan dalam benak Wendy yang ia utarakan pada teman-temannya membuat Sean dan Alwen hanya bisa menebar senyum. Melihat senyum itu semakin membuat Wendy yakin atas apa yang dipikirkannya.


"Semakin sedikit yang kalian tahu semakin baik," kata Julia dengan senyum kecil di wajahnya.


Mereka berenam terus tetap ada di atas atap restoran sampai pesta yang diselenggarakan di bawah selesai. Percakapan biasa terjadi diantara mereka dan soal mafia itu tidak disebutkan lagi. Tidak ada perasaan canggung atau malu-malu, mereka malah bercanda tawa tanpa terhalang status sosial. Harap maklumlah kedua orang pria yang bersama mereka saat ini merupakan tuan muda dari keluarga terpandang. Hal yang wajar bagi Wendy dan Febby sedikit merasa canggung berbicara dengan mereka.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Sementara itu, mundur 15 menit sebelumnya. Diluar, saat hendak menghampiri rekan-rekannya yang lain, Norman mendapat telpon dari Daniel. Ia cukup tersentak melihatnya. Apa Daniel sudah tahu apa yang terjadi? Norman menarik nafas sebentar lalu menghembuskannya perlahan, kemudian baru ia mengangkat telpon tersebut.


"Halo," kata Norman menjadi sapaan pertama.


"Norman, aku dengar kau dan anggotamu buru-buru pergi ke pulau Balvana, apa itu benar?" tanya Daniel membuat Norman berkeringat dingin.


"I, iya tuan. Begini, saya mendapat kabar dari nona Julia kalau ada seseorang yang menyamar sebagai salah satu anggota Black Mamba. Sebab itu saya langsung kemari," jelas Norman dengan hati-hati.


"Dari Julia?"


"Iya. Saat ini ia ada di pesta yang diadakan salah satu temannya di restoran Moon."


"Oh, apa dia baik-baik saja? Tidak ada yang mengganggunya, kan?"


"Memangnya siapa yang berani mengganggu gadis imut itu?" pikir Norman. "Tidak, tidak ada. Dia baik-baik saja."

__ADS_1


"Syukurlah. Oh, iya Norman. Mumpung kau ada di pulau Balvana, aku minta kau pergi ke Casino Lotus. Bantu Julius menjemput seseorang disana," perintah Daniel.


"Baik. Saya akan segera kesana sekarang juga."


Daniel memutuskan telponnya. Norman menarik nafas lega karna Daniel tidak mengetahui prihal hilangnya tanda pengenal keanggotaan Black Mamba miliknya. Dengan begitu ia bisa terhindar dari hukuman.


"Kalian duluan saja. Aku harus pergi ke Casino Lotus dulu," kata Norman pada rekan-rekannya.


"Tapi Tn. Norman, bagaimana dengan orang ini?" tanya salah satu dari mereka.


"Terserah mau kalian apakan. Aku pergi dulu" Norman lekas berlalu pergi menjalan perintah dari bosnya secepatnya.


"Em... Enaknya diapakan ya?" kata salah satu dari mereka mempertanyakan pendapat dari rekannya yang lain.


Ide jahil mereka seketika muncul. Mereka tersenyum antara satu sama lain. Pria yang sempat menyamar menjadi Norman itu sudah merasa tidak enak melihat senyum yang muncul dari mereka semua.


"AAAAAHH ! ! ! Turunkan aku! Naikan aku! Atau apapun diantara keduanya!" teriak pria itu diketinggian.


Tepat di atas helikopter yang sedang terbang, pria itu diikat dan digantung di atas ketinggian beberapa ratus kaki dari permukaan air laut. Sesekali pilot helikopter merendahkan terbangnya sampai pria itu bisa mencicipi asinnya air laut pada malam hari atau terbang setinggi-tingginya sampai pria itu berteriak histeris.


"Hahaha... Aku suka pekerjaanku," ujar pilot helikopter itu sambil tertawa.


Mereka semua tertawa dengan lucunnya melihat pria tersebut yang berteriak ketakutan tergantung di udara. Malam itu menjadi hiburan mereka tersendiri.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2