
"Bos, bagaimana kalau menyandera seorang wanita agar ia tidak melawan?" saran Julius yang menyamar sebagai alasan agar ia bisa memilih adiknya.
"Ide yang bagus. Kalau begitu kau seret seorang wanita kemari."
"Baik."
Julius tentunya langsung memilih adiknya sendiri sebagai sanderanya. Julia yang sedikit terkejut karna tiba-tiba dipaksa berdiri seketika segera memberontak melepaskan diri. Walau tubuh Julia terbilang cukup kecil bagi Julius, namun ia sedikit kerepotan menahan tubuh adiknya yang memberontak itu.
"Hei! Apa-apa ini?! Lepaskan aku," teriak Julia.
"Julia!" teriak Wendy dan Febby sambil berusaha menahan temannya itu agar tidak diseret pergi.
"Diam! Jangan ada yang melawan," kata Julius berpura-pura mengancam kedua teman Julia.
Karna ancaman tersebut membuat Wendy dan Febby menjadi takut dan tanpa sengaja melepaskan tangan Julia. Tidak terima teman-temannya diperlakukan seperti itu dan juga ketidaktahuan Julia kalau yang menariknya adalah kakaknya sendiri membuat ia melucurankan satu pukulan menggunakan sikunya.
"Lepaskan aku! Hiiah!" pukulan tersebut tepat mengenai perut Julius.
"Sial, pukulan adikku benar-benar menyakitkan," batin Julius sambil menahan sakit. "Sstt... Diamlah. Ini aku," bisiknya pada Julia.
Julia tersentak begitu mengenali suara tersebut. "Kakak?! Teryata kau dalang dari penyanderaan ini."
"Sembarang! Untuk apa juga aku menyadera tempat ini?" bantah Julius sambil berbisik.
"Oho... Dia gadis kecil yang teramat manis." ujar bos dari penyanderaan ini.
Pria itu mencoba menyolek dagu Julia namun dengan cepat Julius menarik Julia melangkah mundur seolah-olah Julia masih memberontak yang menyebabkan mereka temundur ke belakang.
"Lepaskan dia! Bukankan aku yang kalian inginkan?" teriak Sean yang begitu tahu Julia ikut menjadi sandera utama dan itu kerna dia.
"Jangan melawan, maka dia akan aman."
"Baik. Tapi jika ia mengalami luka gores sedikit saja, aku tidak akan segan-sengan menghajar kalian."
"Oh... Apakah dia kekasihmu?"
Sean tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya. Ia tidak bisa mengatakan kalau Julia merupakan kekasihnya tapi ia juga tidak bisa berbohong kalau ia menyukai Julia.
"Ini bangus. Kita dapat menyandera sepasang kekasih. Bukankah ini akan menjadi penyelamatan penyanderaan yang dramastis. Hahaha...."
"Hahaha...." tawa para penyandera itu memenuhi setiap sudut mall tersebut.
"Aku baru tahu kalau kau sudah punya kekasih, Julia," bisik Julius.
__ADS_1
"Dia bukan kekasihku! Aku saja tidak mengenal dia!" protes Julia. "Abaikan itu. Apa yang kakak rencanakan sekarang?"
"Berpura-puralah ingin pergi ke kamar mandi agar kita bisa berbicara lebih leluasa disana."
"Baiklah jika kakak bilang begitu," Julia menari nafas panjang sebelum berakting. "Aah.... Lepaskan aku!"
"Diam! Atau aku akan menembakmu!" bentak Julius untuk menyempurnakan akting mereka.
"Tapi aku ingin ke toilet."
"Kau bisa menahannya."
"Tidak bisa. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku mohon lepaskan aku."
"Berisik! Kau cepat antar dia ke toilet. Pastikan dia tidak melarikan diri," perintah bos mereka pada Julius.
"Baik, bos."
Julius segera menarik Julia pergi menuju toilet yang ada disisi kiri mall. Setelah merasa hilang dari padangan semua orang Julius membiarkan Julia berjalan sendiri.
"Kenapa kita malah toilet pria?" tanya Julia disaat melihat papan tanda yang tertempel diatas pintu.
"Masa iya aku harus masuk ke toilet wanita," Julius membuka pintu toilet dan melangkah masuk.
"Tidak ada orang juga disini," Julius menutup pintu setelah Julia ikut melangkah masuk. "Jadi bagaimana situasi diluar sana? Apa kau sudah punya cara untuk melawan mereka?"
"Kakak mau mengejekku?"
"Tidak. Aku cuman berpikir mungkin adikku sudah beraksi sendirian tadi, sebab itu aku cepat-cepat datang kemari."
"Hah... Aku juga tidak bisa melakukan tanpa senjata. Dan lagi mana mungkin aku membunuh orang dihadapan teman-teman ku. Oh, iya. Ngomong-ngomong, darimana kakak tahu aku disini?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang mau jalan-jalan ke kota hari ini? Setelah melihat berita ada sekelompok orang menyandera pengunjung mall, tentunya firasat ku mengatakan kalau adikku pasti ada disana. Harap maklumlah adikku ini memang selalu terlibat dengan masalah yang terjadi kemanapun ia pergi."
"Apa katamu?!! Kakak mau aku pukul lagi?!!" bentak Julia kesal sambil mengepalkan tinjunya pada Julius.
"Hahaha.... Aku sangat suka melihat wajah cemberutmu ini."
Julia semakin mencemberutkan wajahnya. Ia membuang muka dengan kesal. "Jadi apa rencananya?" tanyanya.
"Kita perlu tahu dulu apa tujuan dari para penyandera itu."
"Menurut apa yang aku dengar mereka berencana meminta tebusan berupa uang pada Tn. Gelael untuk pembebasan sandera. Selain itu mereka juga meminta disisiapkan pesawat pribadi. Rencananya setelah uang dikirim ke akun bank mereka. Mereka akan pergi dari pulau ini dengan menggunakan pesawat. Mereka akan membawa salah satu sandera agar mereka bisa pergi dengan aman ke bandara. Kemungkinan sandera akan mereka tinggalkan begitu saja di bandara."
__ADS_1
"Bukankah rencana ini banyak kelemahan? Para polisi bisa saja mengikuti mereka dan mengambil kesempatan menyelamatkan sandera dan menangkap mereka semua sebelum berhasil keluar dari pulau ini."
"Aku juga berpikir demikian. Dilihat dari permintaan mereka yang jauh memilih pesawat dari pada kapal membuktikan bahwa mereka bukanlah orang sembarangan."
"Kau benar. Tidak semua orang bisa menerbangkan pesawat. Mereka memang bukan orang sembarangan."
"Bagaimana kalau kita habisi mereka sekarang sebelum mereka berhasil keluar dari mall ini? Kita tidak perlu pusing-pusing mencaritahu siapa mereka senbenarnya. Itu bukan urusan kita," saran Julia.
"Aku tinggal membawamu keluar dari sini saja tugasku sudah selesai. Sisanya biarkan para polisi itu yang menyelesaikannya. Itu kan memang tugas mereka."
"Tidak bisa begitu. Teman-teman ku masih ada diantara ratusan sandera itu. Mana mungkin aku meninggalkan mereka."
"Ya sudah, bunuh seluruh anak buahnya tapi pastikan bos mereka tetap hidup."
"Kenapa?"
"Itu tugas polisi. Telah membantu sejauh ini saja seharusnya mereka sudah berterima kasih."
"Kakak benar. Tapi aku tidak mungkin membiarkan teman-teman ku melihat aku membunuh orang."
"Aku akan coba menghasut bos mereka untuk memerintahkan semua sandera ditutup matanya. Dengan begitu kita bisa bergerak dengan bebas."
"Tidak. Itu membutuhkan waktu terlalu lama. Apa kakak tidak punya semancam obat bius yang bisa digunakan dalam sekla besar?"
"Jika aku punya, lebih baik aku gunakan pada para penyandera itu ketimbang membius semua sandera. Lagi pula karna buru-buru kemari aku sama sekali tidak membawa racun apapun kecuali Pieper yang ikut denganku."
Pieper mengeluarkan kepalanya dari balik jaket yang dikenakan Julius. Mereka berdua mencoba memikirkan cara bagaimana membereskan para penyandera itu tanpa diketahui oleh semua orang. Tidak sampai semenit tiba-tiba Julius menjentikan jarinya.
"Benar juga. Aku baru ingat. Sebelum aku memberi makan Pieper tadi, aku sedikit melakukan penyempurnaan pada bom asap yang aku buat," Julius merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak kecil yang berisi dua butir bola kecil seukuran kelereng.
"Jadi itu bom asap. Kecil sekali."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε