
"Kenapa kau jadi gugup begitu? Jangan malu jika kau memang menyukainya," melihat ekspresi Nisa, Julia semakin nakal menggodanya.
"A, aku bilang tidak! Kau membuatku malu Julia."
"Hihihi..."
"Kalian juga mendaftar di klub musik?" tanya seorang guru muda berparas menawan, bertumbuh tinggi dengan rambut coklat panjang bergelombang dan mata hazel.
"Iya," jawab mereka serempak kecuali Julia.
"Perkenalkan, nama saya Felisia. Kalian bisa memanggilku bu Feli. Saya yang akan mengajar musik untuk ke depannya," sapa guru cantik itu memperkenalkan diri. "Bersiap-siaplah, nanti giliran kalian. Saya mau menilai permainan musik kalian. Untuk yang tidak membawa alat musik, kalian bisa mengunakan alat musik yang disediakan sekolah. Masing-masing ambil satu saja ya."
"Baik bu Feli."
Julius yang sendari terlalu menghayati permainannya tidak menyadari kehadiran empat orang gadis di ruangan tersebut. Setelah permainannya selesai, ia membuka mata. Awalnya ia terlihat masih belum sadar dengan kehadiran Julia. Dengan santainya ia melirik sekilas dari masing-masing mereka, kemudian pandangannya beralih menyetel senar biola nya.
"Okey, sekarang giliranmu Julia," kata bu Feli mempersilakan Julia untun Bermain suling.
Mendengar nama itu membuat Julius mengangkat kepalanya. "Julia?! Apa yang kau lalukan disini?" tunjuk Julius pada adiknya sendiri.
"Main futsal. Menurutmu? Ya tentu saja bargambung ke klub musik untuk belajar bermain musik," jelas Julia.
"Ju-Julia, kalian saling mengenal?" tanya Wendy.
"Bisa dibilang begitu. Dia... Kakakku," Julia terlihat enggan mengakuinya.
"Apa?! Kenapa kau tidak bilang kalau kakakmu adalah siswa terpopuler tahun ini?" kata Wendy dan Febby bersamaan.
"Untuk apa memberitahukannya pada kalian? Apa kalian ingin mengambil kesempatan mendekati kakakku ini?"
"Ah... Hehe... Kau bisa saja," ujar Febby pelan dengan perasaan sedikit malu.
"Tapi ngomong-ngomong, kalau diperhatikan kalian berdua memang sangat mirip. Kalian juga masuk sekolah pada tahun yang sama. Apa mungkin kalian berdua... Kembar?" tanya Wendy menebak-nebak.
"Sayangnya itu benar."
"Wah... Ini bagus sekali. Kalian bisa menjadi pasangan kembar untuk tampil di pertunjukan pada acara-acara yang biasa diadakan sekolah," kata bu Feli mengutarakan idenya.
"Tidak, bu Feli. Aku tidak mau tampil di acara apapun. Aku bermain musik hanya untuk menghibur diriku sendiri," tolak Julia. "Lagi pula, siapa juga yang mau duel bermain musik bersama dia."
"Ha! Kau pikir aku mau? Paling juga kau bisanya cuman mengacau," ejek Julius pada Julia.
"Apa?! Kakak lah yang biasanya sering mengacau!" bentak Julia tidak terima.
"Oh, apa aku harus mengingatkan mu lagi, nona. Dulu kau perna mengubah susunan not musik seenak jidat mu sendiri saat pertunjukan."
__ADS_1
"Aku mengubahnya karna susunan not musik nya memang jelek."
"Iya, tidak ditengah-tengah pertunjukan yang sedang berlangsung! Lagi pula bukan susunan not musik nya yang jelek tapi melainkan kau yang lupa not musik nya."
"Kenapa kakak harus marah? Lagi pula semua itu juga sudah berlalu dan acaranya malahan sukses besar."
"Kau tidak tahu saja, waktu itu aku harus putar otak agar kekacauan yang kau perbuat tidak semakin menghancurkan pertunjukan! Aku terpaksa harus memainkan not berbeda agar permainan mu sejalan dengan yang lainnya. Kau pikir itu mudah?"
"Setidaknya karna aku, kakak mendapat banyak pujian. Seharusnya kakak berterima kasih padaku," kata Julia seperti tidak merasa bersalah.
"..."
Dan begitulah pertengkaran mereka berlanjut. Yang lainnya hanya bisa menonton dan tidak mampu melerai mereka. Untuk apa melerai? Bagi Wendy dan Febby ini adalah pertunjukan yang jarang sekali bisa ditonton.
"Hehe... Aku rasa hubungan kakak adik ini tidak terlalu baik," kata Wendy.
"Sangat berbeda dari bayanganku."
"Aku sedikit kasihan pada Julius. Ia pasti kesulitan menghadapi tingkah Julia yang terkadang bisa tidak terduga."
"Itu suatu tanggung jawab yang berat."
"Sudah cukup kalian berdua!" bentak bu Feli yang sudah tidak sanggup lagi melihat pertengkaran Julius dan Julia. Ia menjewer telinga keduanya untuk melerai mereka.
"Aduduuuuh.... ! Sakit, bu Feli!" teriak mereka bersamaan.
"Tidak, tidak. Maafkan kami, bu Feli."
Bu Feli melepaskan telinga mereka berdua. Terilihat Julius dan Julia sama-sama menggosok telinga mereka yang merah akibat jeweran bu Feli.
"Ini benar-benar jauh dari prediksi," kata Julius pelan.
"Aduuh... Tidak aku sangka ternyata bu Feli bisa galak, sama seperti mama," rengek Julia.
"Hah... Kalian berdua ini..."
Tok! Tok! Tok!
Suara di pintu membuat mereka semua menoleh ke sumber suara. Bu Feli beranggapan kalau itu mungkin saja murid-murid lainnya yang ingin belajar bermain musik. Ia mempersilakan masuk. Begitu pintu di buka ternyata bukanlah seorang siswa ataupun siswi, tapi melainkan seorang pria yang mengenakan setelan jas abu-abu.
"Paman Samuel, ada perlu apa datang kesini?" tanya Julia.
"Aku cuman mengantarkan kiriman dari mamamu. Dia memintaku untuk memberikannya langsung padamu untuk memastikan kau menerimanya."
Samuel menyerahkan paper bag kecil yang berisi kotak berbalut rapi plastik pembungkus. Julia menerima itu dan meletakanya di kursi yang menjadi tempat duduknya sekarang.
__ADS_1
"Terima kasih paman."
"Sama-sama."
"Kau wali mereka berdua?" tanya bu Feli pada Samuel.
"Wow, cantik sekali," dalam sesaat Samuel sempat terpanah oleh kecantikan bu Feli. "Oh, iya, iya. Untuk sementara saya yang bertanggung jawab atas mereka bedua di kota ini. Em, ada masalah?"
"Apa mereka memang sering bertengkar disaat bertemu?"
"Selalu," kata Samuel sambil melirik sekilas Julius dan Julia. "Tapi walaupun begitu mereka saling menjaga satu sama lain dan terkadang kompok untuk urusan tertentu."
"Oh... Begitu."
"Kenapa?"
"Ah, tidak ada."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu kembali terdengar. Kali ini yang datang adalah murid-murid yang mengikuti klub musik. Baik yang sudah lama maupun yang masih baru. Mereka datang silih berganti dan jumlahnya cukup banyak. Rata-rata mereka tidak membawa alat musik sendiri karna sebagian menyimpan alat musik mereka di ruangan yang tersediakan dan sisanya masih menggunakan fasilitas sekolah.
"Ramai sekali. Peminat musik di sekolah ini tinggi juga," ujar Samuel.
"Iya. Saya cukup kewalahan mengajari mereka seorang diri. Mengajar musik tidak sama dengan mengajar melukis atau teater. Ada banyak sekali jenis alat musik dan berbeda-beda cara memaikanya."
"Apa tidak ada guru lain yang bisa membantumu mengajar?"
"Dulu perna ada tapi sekarang ia sudah pindah ke sekolah lain. Saya juga sudah perna mengusulkan untuk menambah guru musik baru ke pihak sekolah, tapi sampai sekarang belum ada kepastian."
"Bagaimana kalau saya membantumu mengajar?" kata Sumuel mengusulkan diri. "Kebetulan saya memahami sebagian jenis alat musik. Contohnya biola."
Tanpa meminta izin lagi dan bertanya, Samuel tiba-tiba merebut biola milik Julius. Tentu Julius protes karna biola kesayangannya direngut begitu saja dari dirinya. Samuel tidak memperdulikan hal itu. Ia mulai memainkan biola tersebut dengan alunan lembut. Seisi kelas yang tadinya lumayan berisik seketika senyap mendengar suara musik biola yang dimainkan Samuel.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε