Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Tidak menjadi seperti yang diharapkan


__ADS_3

"Aku cuman sedikit penasaran."


"Tidak perlu menunggunya. Kami mungkin akan lama," Yusra berusaha mencoba menggadeng tangan Julia lagi.


"Menurutmu begitu?" Julia malah berbalik dan melipat kedua tangannya di dada. Ia tahu persis apa yang mau dilakukan oleh Yusra. "Jika apa yang kau tunjukan ini sama sekali tidak menarik perhatianku, aku akan langsung pergi."


"Kau bisa menilainya sendiri," kali ini Yusra terang-terangan mengulurkan tangannya.


"Tunjukan saja tempatnya."


Julia berjalan mendahului Yusra yang terlihat terdiam beberapa detik. Yusra berbalik lalu segera menyusul Julia. Ia menuntun Julia ke suatu tempat yang ada disisi lain taman atau lebih tepatnya pergi ke halaman belakang asrama khusus. Begitu memasuki asrama khusus, Julia sudah disambut dengan rangkaian bunga mawar merah disepanjang jalan. Selain bunga mawar, disisi kanan dan kiri jalan ini juga didekorasi dengan penuh kemewahan begitu semakin mendekati tempat yang Yusra maksud. Julia cukup terkesan dengan usaha Yusra yang telah menyiapkan semuanya. Sinar kemasan dari cahaya matahari yang terbenam menambah indah tempat ini. Ini merupakan momen yang pas bagi seseorang jika teringin menyatakan perasaannya pada orang yang ia sukai.


"Lumayan," kata Julia yang melirik setiap dekorasi yang ada.


"Ini masih belum seberapa. Kupersembahkan padamu..."


Sampailah mereka di ujung jalan. Yusra menarikkan tirai merah yang menutupi apa yang ada di baliknya. Bukannya dibuat terkesima, Julia malah bingung atas apa yang dipersembahkan Yusra padanya. Sebuah ruangan dengan dekorasi yang sudah berantakan tak karuan. Meja dan kursi yang kemungkinan digunakan untuk tempat makan malam kini telah berbalik dengan semua yang ada di atas nya berhamburan di lantai. Semuanya hancur. Tempat ini seperti baru diserang angin topan.


"Bagaimana? Apa kau terkesan?" kata Yusra menanyakan pendapat Julia. Tapi dia tidak melihat apa yang telah terjadi dibelakangnya.


"Wow... Simulasi setelah bencana angin topan yang bagus dan tampak asli."


"Apa?" mendengar itu membuat Yusra menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat apa yang ada di depan matanya. "Siapa yang telah berani melakukan semua ini?!!"


"Aku yang melakukannya," kata seorang gadis yang tiba-tiba keluar dari balik


Yusra tampak kaget begitu tahu siapa gadis itu. "Veronica?! Beraninya kau merusak hal yang sudah susah payah aku buat!"

__ADS_1


"Tentu saja aku harus merusak nya begitu aku tahu kakak mau menyatakan cinta pada gadis itu!" tunjuk Veronica pada Julia dengan nada tinggi.


"Kau tidak berhak atas urusan pribadiku!"


"Ooh, tentu aku sangat berhak. Ini menyangkut masa depan keluarga kita. Apa yang akan dikatakan orang-orang diluar sana jika tahu putra dari keluarga Arlo ternyata pacaran dengan gadis rendahan seperti dia!" Veronica melirik tajam pada Julia yang berdiri di sebalah kakaknya. "Dan lagi kau, bukankan aku sudah pernah memperingatkan mu untuk tidak mendekati kakakku lagi."


"Siapa juga yang mau mendekati kakakmu? Kakak mu inilah yang mengajakku kemari."


"Lantas kanapa kau mau? Jika aku tidak ada disini, kau pasti sudah menggodah kakak ku atau mungkin melakukan hal yang lebih buruk lagi. Biasa orang rendahan sepertimu suka melakukan hal licik..."


Plak!


Satu tamparan yang sangat keras sudah mendarat di pipi sebelah kanan Veronica. Tanda merah kini melekat disana. Yusra yang menyaksikan itu dibuat terdiam dan tak percaya atas apa yang dilakukan Julia. Bahkan kejadian itu terjadi terlalu cepat dan tak terduga.


"Jangan bicaramu itu ya nona. Aku masih menahan diri. Jika kau berani lagi, aku tidak akan segan-segan mengulitimu!" ancam julia dengan aura tatapan tajam membunuh.


"Kau... Kau berani menamparku?" kata Veronica dengan bibir gemetar dan tangan kanannya menempel di pipi. Tampak juga genangan air mata di pelupuk matanya. "Aku putri dari keluarga Arlo, berani-beraninya kau menamparku dan bakhan mengancam ku! Kau pikir siapa dirimu itu, hah?!! Apa kau sudah bosan hidup!!"


"Mau membunuhku? Ber-mim-pi-lah. Kau bahkan belum perna melihat darah segar, sudah sok-sokan mengancam mau membunuh seseorang. Sebaiknya pergi pulang dan cuci piring sana."


Julia melepaskan cengkraman tangannya dan sedikit mendorong Veronica. Hal itu membuat Veronica terjungkan kebelakang. Bukanya membantu adiknya atau melakukan apa, Yusra sama sekali terlihat tidak peduli.


"Kakak, lihat sendiri apa yang dilakukan gadis ini pada adikmu. Tidak kah kau mau membantuku membalas dendam padanya?!!"


"Kau memang pantas mendapatkan semua itu. Siapa suruh kau merusakkan rencanaku. Sebaiknya ku pergi dari sini sebelum aku bertindak kasar padamu," usir Yusra dengan mata melotot.


"Kakak bahkan lebih membela gadis rendahan ini dari pada adik kandungmu sendiri. Aku akan melaporkan hal ini pada ayah!" dengan air mata tak tertahankan lagi, Veronica berlari pergi sambil menangis.

__ADS_1


"Baru segitu juga sudah nangis. Dasar cengeng!" gumang Julia. Dia juga berbalik dan hendak pergi. Tidak ada gunanya lagi terus berlama-lama disini. "Terima kasih untuk apa yang tidak perna kau berikan. Aku sungguh terkesan."


"Tunggu Julia. Aku minta maaf atas kelakuan adikku barusan. Aku mohon biar aku menebusnya," cegat Yusra.


"Seharusnya kau bersyukur adikmu cuman mendapat satu tamparan dariku. Kebanyakan orang yang berani menghina ku berakhir dalam keadaan tidak utuh lagi. Tafsirkan itu sesuka hatimu saja."


Julia pergi meninggalkan Yusra sendirian disana. Yusra tidak bisa menahan kepergian Julia. Rencana yang dengan susah payah hancur berantakan karna ulah adiknya sendiri. Ia menendang salah satu kursi yang tergelatak disana sampai terpental jauh untuk meluapkan kekesalannya. Sambil meremas rambutnya dengan kesal, Yusra terduduk di lantai. Cukup lama ia duduk disana sendirian dan bahkan sampai malam menjelang. Seorang pelayan wanita datang mendekati Yusra untuk menyampaikan kalau ayahnya memanggil dan memintanya datang ke ruangan bersantai di asrama khusus. Dengan pakaian berantakan seperti orang mabuk, Yusra berdiri setelah menghela nafas panjang. Tanpa merapikan pakaiannya terlebih dahulu, ia melangkah masuk begitu saja ke asrama khusus untuk menemui kedua orang tuannya. Sampai disana Yusra melangkah masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu lagi. Di dalam ruangan tersebut cuman ada ayah dan ibunya. mereka benar-benar terkejut melihat penampilan putra mereka yang kacau.


"Yusra, apa yang terjadi?" tanya ibunya sambil memberikan helaian rambut putranya itu.


"Tidak ada yang terjadi. Ada perlu apa memanggilku?"


"Yusra, aku dengar dari adikmu kau menyukai seorang gadis dari kalangan menengah."


"Hah?! Apa itu benar, Yusra?" ibunya cukup terkejut mendengar itu.


"Jika memang benar, kenapa?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2