Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Persiapan memasuki sekolah SMA


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu. Tidak ada berita kemunculan Lady Blue setelah kejadian waktu itu. Semuanya berjalan seperti biasa tanpa ada gangguan sama sekali. Dipertengahan tahun ini, Julius dan Julia sudah memasuki alam persekolah SMA. Mereka berdua sepakat mendaftar di SMA diluar ibu kota. Ada alasan tertentu mereka memilih bersekolah disana. Alasan paling mendasar iyalah bosan melihat suasana ibu kota yang itu-itu saja, bising dengan jalan mobilitas yang serba cepat. Mereka ini merasakan suasana baru seperti ketenangan di kota-kota kecil lainnya. Tidak terlalu sibuk sampai di pagi harinya kau bisa bangun tanpa bantuan klason mobil atau malamnya tertidur nyenyak tanpa penyumbat telinga.


Terpilihlah satu kota yang cocok dengan kriteria yang mereka inginkan. Sebuah kota kecil nan makmur di pulau Balvana. Disana terdapat satu SMA yang memiliki fasilitas terlengkap, gedung asrama, stap pengajar profesional dan pemandangan danau yang luas. Dan menariknya lagi, ada satu bangunan megah yang dikhususkan untuk siswa/siswi berderajat tinggi. Tidak sembarangan orang dapat menginjakan kaki mereka dikawasan tersebut. Pada bangunan itu cuman tersedia 10 kamar berinterior ala hotel bintang lima. Untuk sarapan, makan siang dan makan malam dimasak langsung oleh koki bersertifikat dan memang sering melayani kalangan terhormat. Fasilitas yang disediakan disana seperti GYM, kolam pemandian air panas, spa, perpustakaan, ruang musik, ruangan untuk bermain billiard, ruang bersantai dan banyak lagi. Tambahan, bagi siswa/siswi yang menempati bangunan tersebut, mereka terbebas dari peraturan sekolah. Walaupun mereka melanggar juga tidak ada yang berani berurusan dengan mereka termasuk staf sekolah.


"Julius, Julia, apa kalian yakin ingin bersekolah disana?" tanya Daniel di meja makan.


"Tidak ada salahnya, bukan? Sekolah itu juga termasuk dalam jajaran sekolah terbaik di negara ini," jawab Julia sebelum menyatap makan malamnya.


"Iya. Lagi pula tempatnya lumayan menenangkan," sambung Julius.


"Kami tidak melarang kalian mau bersekolah dimanapun. Jika kalian suka ya silakan saja. Papa dan mama akan selalu mendukung kalian."


"Mama dengar sekolah itu menyediakan asrama khusus. Bagaimana kalau..."


"Tidak," potong Julia. "Aku sudah memutuskan untuk tinggal di asrama biasa."


"Kenapa kakak memilih asrama biasa?" tanya Adelia. "Kan enak tinggal di asrama khusus. Kamar disana lebih luas dan tidak perlu berbagi dengan murid lainnya. Fasilitas yang diberikan juga lengkap, hampir sama dengan rumah ini."


"Memang benar, tapi aku ingin bersekolah dan berinteraksi seperti murid dari kalangan menengah agar aku bisa mendapat lebih banyak teman. Secara kalau aku bergaul dengan mereka menggunakan identitas ini, mereka biasanya terlihat sungkan begitu dan takut."


"Bukan karna hal lain?" Lina mencoba membaca pikiran putrinya itu.


"A, apa maksud mama? Te, tentu tidak ada maksud lain."


"Kenapa kau jadi gugup begitu? Mama kan cuman tanya."


"Su, sungguh tidak ada. Jangan berpikir sembarangan," Julia memalingkan mukanya dari mamanya.


"Iya, iya. Mama percaya. Jangan sampai kelewatan saja," Lina tidak henti-hentinya menggoda Julia.


"Mama...!"


"Hihi..."


"Bagaimana denganmu, Julius? Apa kau juga mau tinggal di asrama biasa?" tanya Daniel pada putranya.


"Asalkan teman sekamarku tidak berisik, semuanya aman-aman saja."


"Oh, iya. Kalau tidak salah... Samuel sekarang ada di kota itu, bukan?" kata Lina mengingat-ingat.

__ADS_1


"Iya. Dia lah yang memberitahu kami soal sekolah itu," jawab Julius.


"Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Memberi kabar pun cuman sesekali. Dasar Samuel! Sudah 10 tahun ini ia tidak pulang ke ibu kota. Tidakkah ia rindu pada keluarganya sendiri?"


"Padahal paman Samuel hampir setiap tahun pulang. Hanya saja ia masih tidak sanggup bertemu dengan mama," batin Julia.


"Ia terlalu sibuk dengan perkerjaannya," kata Daniel.


"Sibuk ya sibuk, tapi jangan sampai lupa untuk pulang. Apa ia tidak merindukan ayahnya? Kalau aku jadi dia, aku pasti tidak sanggup jauh dari


keluargaku biarpun cuman satu hari."


"Samuel memang tidak pulang tapi kan Tn. George bisa menjeguknya."


"Bisa jadi."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Tiga hari kemudian, Julius dan Julia sedang menyiapkan barang-barang apa saja yang akan mereka bawa ke sekolah baru mereka. Tepat jam 8 pagi pesawat yang mereka tumpangi akan take off dari bandara ibu kota menuju kota tujuan. Transportasi tercepat memang lewat jalur udara, kalau jalur laut paling tidak butuh waktu sampai 4 atau 5 hari lamannya untuk sampai di pulau tersebut.


"Julius, apa kau sudah membereskan barang bawaanmu?" tanya Lina sambil membuka pintu dan melangkah masuk.


"Sudah. Semuanya ada dalam koper itu," tunjuk Julius. Saat ini ia masih sedikit disibukan dengan mengurus hewan kesayangannya. Beberapa serangga eksotis yang ia dapat dari berbagai negara.


"Iya. Itu cuman barang-barang yang menurutku penting. Untuk beberapa keperluan lainnya, nanti bisa membelinya disana."


Lina mendekati koper tersebut dan melihat-lihat apa saja yang dibawa putranya. "Kau juga bawa biola?"


"Aku berencana ikut kelas musik."


"Kau tidak ingin mencoba alat musik lain?"


"Jika bosan, mungkin aku akan coba belajar alat musik yang lain."


"Selama kau disana, siapa yang kau percayai mengurus semua serangga peliharaan mu itu?" tanya Lina lagi sambil mendekati Julius.


"Siapa lagi kalau bukan Adelio. Tidak mungkin aku percayakan mereka pada Adelia yang ceroboh itu. Tapi untuk Pieper, mungkin aku akan membawanya."


"Sekolah memiliki aturan tidak memperbolehkan bagi murid-muridnya membawa hewan peliharaan."

__ADS_1


"Asalkan mereka tidak tahu, aku rasa bukan masalah."


"Berhati-hatilah, jangan sampai ia terlepas. Bisa gawat kalau ada ular putih berkeliaran di lingkungan sekolah."


"Aku jamin itu tidak akan terjadi."


"Ya sudah. Mama mau menemui adikmu. Apa ia sudah selesai mengemasi barang-barangnya atau belum?"


Lina melangkah keluar dari kamar Julius. Sekarang ia pergi menuju kamar Julia yang ada disebelahnya. Baru sampai di depan pintu kamar Julia, tiba-tiba Lina mendengar ngemuru barang berjatuhan. Panik, Lina seketika membuka pintu. Ia mendapati Julia sudah terbaring di lantai dengan berbagai barang berhamburan disekitarnya.


"Julia?!"


"Selamat malam mama," sapa Julia yang masih terbaring di lantai.


"Apa yang terjadi?"


"Aku terpeleset."


"Hm... Makanya hati-hati," Lina mengulurkan tanganya membantu Julia berdiri.


"Maaf," Julia menerima uluran tangan mamanya itu. "Ada perlu apa mama datang ke kamar Julia?"


"Cuman datang untuk memastikan apa kalian sudah berkemas. Dan sepertinya kau belum selesai sama sekali," Lina melirik ke sekitarnya yang masih berhamburan.


"Iya. Aku bingung mau bawa apa lagi."


"Bawa yang penting saja dan untuk beberapa barang lainnya bisa tinggal dibeli disana, seperti kakakmu. Sini, biar mama bantu kau berkemas. Dimana kopermu?"



.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2