
Tak berlangsung lama mobil hitam lainnya berhenti di depan Lina. Kaca mobil diturunkan dan terlihat Qazi yang duduk di depan kemudi.
"Qazi?! Kau yang menjemput ku hari ini?" tanya Lina sambil melangkah masuk ke mobil.
Qazi menancap gas. Mobil kini melaju meninggalkan gerbang universitas. "Iya. Rey baru saja dipanggil tuan muda. Jadi aku yang di perintahkan untuk menjemputmu."
"Oh..."
Tidak ada percakapan diantara mereka setelahnya. Senyap dengan pikiran masing-masing.
"Apa mungkin yang dikatakan Ira benar? Aku dan Daniel memang sedikit jarang menghabiskan waktu berdua bersama mereka dua minggu terakhir ini. Kami terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing," pikir Lina. Ia mengelus kandungannya perlahan. Beberapa tendangan kembali ia rasakan. "Oh, iya Qazi. Bisa kau lebih cepat?" Lina membetulkan posisi duduknya senyaman mungkin.
"Kau terlihat kesulitan. Apa kau yakin mau menambah kecepatan?" lirik Qazi dari balik kaca spion.
"Aku cuman ingin lebih cepat sampai di rumah."
"Baiklah. Aku akan menambah kecepatannya sedikit."
Qazi mempercepat laju mobilnya memotong kendaraan lain. Ia sempat melirik Lina dari kaca spion yang sepertinya tidak merasa terganggu dengan kecepatan mobil yang semakin meninggi. Lina hanya menyadarkan tubuhnya sambil menatap keluar kaca jendela dengan tangan masih mengelus perutnya.
Tidak sampai 5 menit mobil berhenti tepat di depan pintu rumah. Lina segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Kali ini ia menggunakan lif untuk sampai lantai dua. Di kamarnya, Lina melepaskan korset yang memeluk kandungannya. Rasa lega begitu dirasakannya. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa melengkung yang memang disediakan khusus untuknya. Lina menarik bajunya sampai memperlihatkan perutnya yang besar. Dielusnya lagi perutnya disaat janin-janinya kembali bergerak. Lina tersenyum. Ini merupakan momen paling indah selama masa kehamilannya.
Beberapa saat kemudian Lina bangkit dari sofanya. Ia mengambil Headphone dan menyambukannya ke perangkat hpnya sambil kembali berbaring di sofa. Lina mengikuti saran dari Ira. Ia menyalakan musik dengan nada lembut, lalu menempelkan sebelah Headphone itu diperutnya. Sepertinya berhasil, pergerakan mereka perlahan menenang disaat di dengarkan musik. Alunan musik yang lembut membuat mereka tertidur berserta Lina nya sekalian.
"Nona Lina, tuan muda tadi telpon. Katanya akan pulang telat malam ini. Saya cuman ingin berta...nya mau makan malam apa hari ini?" Emma mendapati Lina tertidur di sofa disaat ia membuka pintu kamar. "Aku akan bertanya lagi disaat dia bangun nanti."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
__ADS_1
Jam 18.45 Lina terbagun. Ia mengucek matanya sambil berusaha duduk. Direngangkannya tubuhnya sebentar lalu melirik jam di layar hpnya.
"Hoam... Sudah jam segini."
Lina bangkit dari sofa dan berjalan keluar dari kamarnya. Ia pergi menuju ruang makan karna perutnya sudah terasa lapar. Sampai disana, ia mendapati Emma dan Judy sedang menyiapkan beberapa hidangan di atas meja makan.
"Emma, Judy, kita makan malam apa hari ini?" tanya Lina begitu menghampiri.
"Nona Lina, anda sudah bangun," kata Emma disaat ia melihat Lina.
"Aku harap kau suka hidangan laut. Emma tadi sempat ingin bertanya menu apa untuk makan malam hari ini padamu, tapi ternyata kau tertidur," kata Judy setelah menghidangkan menu terakhir.
"Alah, aku tidak terlalu pilih-pilih makanan. Tidak perlu bertanya. Semua hidangan yang kalian buat begitu lezat," Lina menarik kursi dan duduk. "Mari makan bersama."
Seperti biasa jika Daniel tidak ada, Emma dan Judy lah yang menemani Lina makan malam. Emma sudah memberitahu Lina perihal Daniel yang akan telat pulang. Itu sedikit membuat Lina murung namun dihadapan Emma dan Judy ia berusaha untuk tersenyum. Karna terlalu sibuk Daniel sering pulang telat, bahkan Daniel perna pulang dini hari. Hah... sepertinya malam ini Lina tidak bisa tidur nyenyak sampai Daniel pulang. Ia akan sering terbangun jika mengetahui Daniel belum pulang. Hatinya terlalu gelisah.
"Ah...!" Lina sedikit tersentak begitu merasakan tendangan yang cukup kuat dari dalam kandungannya. "Huh... Itu tendangan paling kuat sejauh ini. Energi kalian sepertinya terisi penuh setelah tidur tadi."
Dielusnya perutnya berulang sambil kembali membaca buku. Namun hal yang tidak ia sangkah adalah Daniel ternyata pulang lebih awal. Daniel membuka pintu perlahan dan melihat Lina masih membaca bukunya. Lina belum menyadari kepulangan Daniel sampai Daniel melangkah masuk.
"Sepertinya buku itu sungguh menarik," kata Daniel membuat Lina mengangkat wajahnya.
"Kau pulang cepat? Kata Emma kau akan terlambat pulang malam ini."
"Ia tadinya, tapi aku putuskan untuk pulang lebih awal. Aku sadar aku terlalu sibuk belakangan ini dan jarang menghabiskan waktu bersama kalian."
Daniel mengambil tempat duduk di samping Lina sambil meletakan tangannya di atas perut Lina, kemudian diusapnya perlahan. Seperti tahu kalau ayah mereka sudah pulang, janin-janin dalam kandungan Lina semakin bergerak aktif dan memberi beberapa tendangan kuat sebagai sapaan.
__ADS_1
"Uuuh....." Lina tidak bisa menyembunyikan ekspresinya akibat tendangan tersebut.
"Dia menendang?!" Daniel mala meletakan telinga nya di atas perut Lina sambil masih mengelusnya.
"Aku tidak tahu mengapa, tapi hari ini mereka aktif sekali. Aku benar-benar di buat lelang oleh mereka," satu tendangan kuat dirasakan Lina lagi. "Ah....! Oh... Astaga. Kenapa setiap kali kau mengelusnya, mereka mala semakin aktif?"
"Apa itu menyakitkan untukmu?" Daniel mengangkat kepalanya dari perut Lina.
"Tidak terlalu. Merasakan mereka bergerak dalam perutku membuatku merasa takjub. Aku menyukai setiap gerakan mereka lakukan walau memang sedikit menyakitkan."
Daniel tersenyum. Ia mengecup sekali perut Lina lalu berbisik. "Kau jangan terlalu menyulitkan ibumunya. Istirahat yang cukup, jangan sampai terlalu lelah."
"Mereka belum lama ini bangun. Aku rasa meraka masih ingin bermain."
"Ini akan menjadi malam yang pajang buat kita. Aku mandi dulu."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε