Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Ayok bentak


__ADS_3

"Aku harus memperingatkan gadis ini agar ia menjahui tuan muda. Tuan muda Daniel Alcander Flors hanya milikku seorang."


"Hei, kau gadis kecil. Ikut aku!" wanita itu menarik tangan Lina membawanya ke suatu tempat.


"Kau mau membawaku kemana?!!" bentak Lina sambil memberontak melepaskan cengkraman kuat wanita itu.


"Jangan banyak tanya! Ikut saja!"


Wanita tersebut terus menarik Lina keluar dari ruangan itu. Di lorong kantor yang sepih wanita itu mendorong Lina sampai jatuh ke lantai.


"Aw!" rintih Lina begitu tubuhnya terhempas ke lantai. Lina menatap tajam pada wanita di depannya.


"Siapanya kau tuan muda?" tanya wanita itu sambil menyilangkan tangannya menopang dadanya yang besar.


"He! Itu tidak ada hubungannya denganmu," jawab Lina. Ia berusaha bengkit kemudian mengibas-ngibaskan pakaiannya dari debu.


"Kau...! Kau sungguh sangat berani ya gadis kecil padaku!!" bentak wanita tersebut.


"Oh... Sudah lama aku tidak mendengar kalimat ini. Rasanya sedikit rindu," batin Lina. "Berani? Lucu sekali. Memangnya siapa dirimu?"


"Siapa aku? Aku adalah sekretaris tuan muda. Malahan kau itu yang siapa? Apa yang kau lakukan pada tuan muda sampai dia bersikap begitu lembut padamu?"


"Kau mau tahu? Kemari," Lina isarat untuk mendekat menggunakan telunjuknya. "Aku membentaknya," bisik Lina di telinga wanita itu.


"Tidak mungkin!!" wanita itu tersentak mundur tidak percaya. "Tidak ada yang berani membentak tuan muda. Aku tahu identitas tersembunyi nya. Ia merupakan seorang Mafia kejam berdarah dingin. Ia tidak segan-segan membunuh siapa saja yang menghalangi jalan nya. Dan kau bilang berani membentak tuan muda? Jangan membual!!" kata wanita itu dengan nada tinggi.


"Tidak percaya? Ya sudah," Lina berbalik sambil mengangkat bahunya. "Daniel adalah tepe pria yang kejam dan keras. Ia pasti tidak suka dengan gadis lemah gemulai."


"Kau... Kau berani memanggil langsung nama tuan muda," tunjuk wanita itu begitu mendengar Lina dengan santai nya menyebut nama Daniel.


"Masih mending aku memanggil namanya. Dulu aku memanggil Daniel dengan sebutan pria brengsek!" Lina berbalik lagi menghadap wanita tersebut.


"Apa benar yang dikatakan gadis kecil ini? Kalau benar tuan muda tidak menyukai tipe gadis yang lembut dan manja... Pantas saja aku sangat sulit untuk mendapatkan perhatian tuan muda. Ternyata caraku selama ini salah. Baiklah kalau begitu. Aku akan bersikap lebih berani dan nakal. Setidaknya aku harus berterima kasih pada gadis bodoh ini karna telah memberitahu rahasianya," batin wanita itu tersenyum


"Ayolah ikuti semua omonganku. Dan dapat di pastikan kau akan mendapat balasanmya," senyum Lina lebih mengembang lagi.


"Kucing!" panggil Daniel.


Lina memiringkan kepalanya ke samping. Tepat dari arah belakang wanita itu, Daniel berjalan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Disini kau rupanya. Kau jenis kucing yang tidak bisa duduk diam, apa?"


"Daniel!" teriak Lina memanggilnya sambil melambaikan tangan. "Kau sungguh pria yang lambat! Aku sudah lama menunggumu."


"Apa katamu?!" Daniel sedikit terkejut mendengarnya. Kini ia sudah dihadapan Lina.


"Apa kau sekarang jadi tuli? Yang mau aku katakan, kau itu pria yang sangat lambat!!" teriak Lina mengisi lorong kantor. "Kau sungguh telah membuat gadis sepertiku lama menunggu. Apa kau tidak tahu sekarang ini aku sudah sangat kelaparan. Lihat tubuhku yang kurus ini."


"Oh... Jadi maksudmu aku pria yang lambat dan telah membuatmu kelaparan sampai kau kurus seperti itu."


"Tentu saja," tatap lurus Lina ke mata Daniel. "Kau itu sangat lambat sampai-sampai lebih lambat dari kura-kura, tidak, tidak. Siput saja lebih cepat darimu," ejek Lina.


Wanita tadi sungguh sangat tidak percaya kalau gadis ini benar-benar berkata seperti itu pada Daniel.


"Ada yang aneh disini. Walau kucing ini kelakuannya tidak perna hormat padaku tapi ia tidak perna berlebihan seperti ini. Apa yang telah mereka bicarakan?" pikir Daniel. "Maafkan atas keterlambatan hamba mu ini," kata Daniel sambil membungkuk.


Daniel mulai mengikuti permainan yang dimainkan Lina. Mendengar itu membuat Lina sedikit tersentak. Kemudian ia tersenyum kecil pada Daniel.


"Oh... Mau bagaimana caranya kau menebusnya?"


"Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan siang di restoran BL?" Daniel menegakan tubuhnya lalu menarik Lina mendekat.


"Ini terlalu dekat," Lina seketika memalingkan mukanya yang malu. "Re, restoran BL. Em... Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu," Lina mala menjadi gugup.


"Aku harus mencobanya," wanita itu mulai menyemangati dirinya sendiri kalau ia bisa mendapatkan perhatian bosnya itu.


"Ayok berangkat. Bukannya tadi kau kelaparan," Daniel merangkul bahu Lina mengajaknya pergi.


"Tunggu dulu!" teriak wanita itu memberhentikan mereka.


"Masuk perangkap," dengan senyum jahat Lina melirik sekretaris Daniel itu.


"Ada apa? Berani sekali kau menghentikan langkahku."


Sikap Daniel dalam sekejap berubah dingin. Wanita itu sedikit gemetar dengan tekanan dari Daniel yang kuat. Tapi ia menggeretakan giginya agar lebih berani.


"Tu, tuan. Em... Maksudku, Daniel!"


"Uuh... Itu langkah yang berani," kata Lina dalam hati.

__ADS_1


"Kau... Sungguh berani memanggil namaku secara langsung," tatapan tajam kini Daniel arahkan pada sekretaris nya.


Tubuh wanita itu semakin gemetar namun ia tidak mau menyerah. "Ten, tentu saja aku berani! Kenapa aku harus takut? Daniel."


"Kenapa suara wanita lain yang menyebutkan namaku secara langsung terdengar begitu menjijikan," Daniel melepaskan rangkulannya pada Lina. Ia berjalan mendekati sekretarisnya itu.


"Apa, apakah berhasil? Daniel sungguh datang padaku. Aku tidak percaya ini," batin wanita itu. "Daniel," panggil wanita itu saat Daniel berdiri dihadapannya.


PLAK ! ! !


satu tamparan keras mendarat di wajah wanita itu sampai membuat ia tersungkur ke lantai. Wanita itu memegangi pipinya yang merah dengan sudut bibi terluka. Ia menatap penuh Daniel kebingungan. Kenapa sikapnya sangat berbeda antara memperlakukan ia dan Lina?


"Fuu..." Daniel meniup tangannya setelah menampar wanita itu. "Tidak aku sangka wajahmu keras sekali."


"Make up wanita memang sangat keras. Tidak seharusnya kau menggunakan tanganmu secara langsung. Lebih baik kau mengunakan sepatumu," ujar Lina.


"Baiklah. Lain kali aku akan mendengarkan saranmu."


"Daniel! Kenapa sikap yang kau tunjukan padaku sangat berbeda dengannya. Aku jauh lebih baik dari pada dirinya!"


"Kau tidak pantas dibandingkan dengan kucingku. Mengingat kau sudah berkerja padaku selama bertahun-tahun. Sebaiknya hentikan ocehanmu atau berhenti dari perkerjaanmu."


"Tidak! Saya mohon tuan muda jangan pecat saya," kata wanita itu memohon dengan sangat.


"Jaga perilakumu. Aku tidak mau sampai ada kejadian kedua. Ini peringatan terakhirmu, paham!"


"Iya, iya tuan muda. Terima kasih atas belas kasihannya."


"Pergilah!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2