
Daniel beranjak pergi ke kamar mandi. Selesai main dan berpakaian, Daniel merangkak ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Lina yang telah berbaring. Daniel merangkulkan tangannya di perut Lina dari belakang.
"Dia masih menendang?" bisik Daniel di telinga Lina.
"Ah.... Iya," erangan kecil keluar dari mulut Lina di sela-sela jawabannya.
Dalam masa kehamilannya ini tubuhnya lebih sensitif dari biasanya. Hembusan nafas hangat di lehernya saja sudah membuat tidak bisa mengendalikan dirinya. Daniel yang mendengar suara indah itu juga ikut terpancing. Perlahan tangan Daniel turun dan menyelinap ke balik piyama Lina sambil mengecup lehernya. Tubuh Lina begetar disaat jari Daniel menyentuh area sensitifnya.
"Aah...... Daniel.... Apa yang kau lakukan?"
"Kau tidak pakai CD?" Daniel mala mengangkat piyama Lina sampai terangkat ke atas perutnya.
"Ahhh... Sejak kandunganku, semakin besar aku tidak memakainya lagi saat tidur."
Erangan tak tertahankan keluar dari bibir Lina. Daniel yang mendengar itu semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Tangannya mulai meremas buah dada Lina dengan gemas.
"AAH ! Daniel hentikan! Kau membuatku terangsang. Ugh!"
Disela-sela pemainan Daniel, bayi-bayinya kembali menendang. Daniel membalikkan tubuh Lina sampai mereka berdua berhadapan. Ditatapnya mata Lina dengan senyum terukir di wajahnya. Lalu pandangannya di alihkan melihat keolokan tubuh Lina yang sedang hamil itu.
"Daniel."
"Kau cantik sekali."
Daniel mengecup bibi Lina dengan tekanan panas. Selang beberapa detik ia memaksa membuka bibir Lina menggunakan lidahnya. Disaat lidah Daniel berhasil menerobos masuk, lidah mereka mulai bermain antara satu sama lain. Sambil berciuman, Daniel melepaskan celananya. Tak lama ia melepaskan ciuman mereka. Daniel kembali membalik tubuh Lina hingga membuatnya terlentang dengan Daniel ada di atas Lina. Daniel menggunakan kedua tangannya sebagai penyangga agar tubuhnya tidak menindih kandungan Lina. Mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Aku tidak bisa menahannya lagi. Kau sungguh menggoda kucingku. Bolehkah?" tanya Daniel minta persetujuan istri kecilnya itu.
"Tapi, kau tahu aku sedang hamil. Apa itu diperbolehkan?"
"Aku akan pelan. Kau bisa menyuruhku berhenti jika itu memang menyakitimu," Daniel sedikit menjatuhkan berat badannya di atas tubuh Lina sampai sedikit menekan kandungan Lina.
"Ah... Huh... Kau sungguh menyiksaku Daniel," erangan Lina kembali terdengar begitu ia merasakan ada sesuatu menyentuh area paling sensitifnya.
"Jadi?"
"Sudah sampai sejauh ini. Kau harus bertanggung jawab."
Lina merangkul leher Daniel, menariknya mendekat agar ia bisa mencium bibir Daniel. Lina memejamkan sebelah matanya disaat tubuh Daniel semakin menekan perutnya. Daniel yang menyadari itu segera melepaskan ciuman mereka. Ia mengangkat tubuhnya sampai terduduk dihadapan Lina yang sedikit melebarkan pahanya. Daniel kembali menatap Lina meminta keyakinan Lina. Anggukan pelan Lina berikan sebagai jawaban.
"Tapi berjanjilah kau akan pelan ya," Lina mengelus perutnya perlahan.
"Baiklah," Daniel meraih bantal, menupuknya dan membiarkan Lina membaringkan kepalanya disana. "Aku mulai."
Daniel mengarahkan miliknya dan mulai memasukannya secara pelan-pelan. Lina memejamkan matanya sambil kedua tangannya mencengkam bantal begitu milik Daniel perlahan masuk. Hampir semenit tapi milik Daniel baru setengah yang masuk.
"Ohhh... Astaga Daniel. Jangan seperti itu juga," rintih Lina.
__ADS_1
"Kau masih sepit seperti pertama kali aku melakukan ini padamu," Daniel mendorong miliknya sedikit kuat agar masuk seutuhnya.
"AAH !" Lina terbelalak begitu milik Daniel telah masuk sepenuhnya ke dalam dirinya.
"Mau lanjut?"
"Ha... Hu..." Lina mengatur nafasnya sebentar. "Lakukanlah."
Daniel memenganggi pinggul Lina dan mulai bergerak perlahan.
"Ahhh.....! Emmmpph... Ohoo......"
Suara erangan terus keluar dari mulut Lina begitu Daniel mempercepat gerakannya. Dengan tangan kiri masih mencengkram bantal dan tangan kanannya menahan perutnya, Lina menikmati permainan yang Daniel lakukan. Sesekali matanya terpejam sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Melihat itu membuat Daniel terkadang memperlambat gerakannya.
"Egh! Uhh..... Ah.... Daniel. Ahhh......"
"Kau nikmat sekali, begitu sempit."
"Ah! Aku mau keluar. Emmph!"
"Lakukan bersama."
"AHHH!" teriak Lina melengking begitu semburan hangat menyembur di dalam perutnya. Seluruh tubuhnya kini terasa hangat.
"Haaah.......haa.... Hu..."
"Tunggu-tunggu, Daniel berhenti!" kata Lina yang membuat Daniel berhenti seketika dan menatap Lina.
"Ada apa?"
"Haah... Huh... Bisa ubah posisi?" kata Lina terengah-engah.
"Baiklah, sini kubantu berdiri. Bagaimana kalau kau yang di atas?"
Daniel membantu Lina bangkit. Dengan hati-hati Daniel mengubah posisi mereka tanpa memisahkan diri. Kini Daniel yang dalam keadaan setengah berbaring dan Lina duduk di atas tubuh Daniel membelakangi. Daniel mengelus perut Lina menggunakan kedua tangannya.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Iya, mereka tidak menendang lagi tapi masih melakukan gerakan-gerakan kecil. Mereka belum tidur."
"Baguslah jika keadaannya baik," tangan Daniel beralih ke pinggang Lina dan mulai membantu Lina bergerah.
"Ahhh....... Ohoo...... Ah!" Lina menahan perutnya sambil sedikit mencengkramnya disaat bergerak.
"Aku sudah lama menahannya. Boleh aku meluapkannya sekarang?"
"Ah, kenapa... Kau, menahannya?"
__ADS_1
"Aku takut hal ini akan menyakitimu atau bayi kita, walau aku sudah mencari infomasi di internet kalau sebenarnya itu aman."
"Kalau boleh... Ahh... Kuberitahu. Haah.... Aku hamil setelah, kau melakukan ini padaku pertama kalinya. Ahhh......"
"Maksudmu, waktu kau diberi obat oleh Rylie, sebenarnya kau sudah hamil?"
"Iya."
"Mmh... Aku mau keluar lagi."
"AAAH!" semburan panas kembali mengisi perut Lina. Ia menyandarkan tubuhnya yang lelah di dada bidang Daniel sambil mengatur nafas. "Ahhh.... Uhh.... Haaah, hu..."
Lina meletakan kedua tangannya di atas kandungannya, diikuti Daniel yang juga meletakan tangannya di atas tangan Lina.
"Istirahatlah," bisik Daniel diteliga Lina yang dibalas anggukan.
Setelah menarik diri dari Lina, Daniel membantu Lina berbaring. Sambil dibelai lembut oleh Daniel, Lina pun tertidur dalam pelukan Daniel.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Di suatu saat, di kediaman keluarga Cershom. Violet turun sambil memanggil ayahnya. Dengan setelan kemeja putih dipadukan dengan rok pensil hitam dan Blazer berwarna senada. Violet melangkah menuju ruang makan.
"Ayah, selamat pagi," sapa Violet sambil menarik kursi di sebelah ayahnya.
Dengan cekatan dua pelayan segera menyajik sarapan untuk Violet.
"Pagi," balas Ducan sambil melirik Violet dari atas sampai bawah. "Mau kemana kau dengan pakaian seperti itu?"
"Ke rumah lelang. Sebagai bos dari tempat itu, tentunya aku harus sering-sering mengawasi pekerjaan anak buah ku secara langsung dan menetapkan kedisiplinan mereka berkerja," kata Violet sambil menyantap sarapannya.
"Jangan terlalu tampak mencolok kalau kau pemilik tempat itu. Ingatlah banyak bahaya yang mengintai mu."
"Ayah terlalu berlebihan. Sudah lebih dari satu setengah bulan aku mengekspos diriku sebagai pemilik tempat itu, namun sampai sekarang tidak ada satupun bahaya yang mengintai ku."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1