
Libur sekolah ini mereka berencana melakukan piknik bersama di sebuah penginapan yang cukup jauh dari pusat kota. Julia, Nisa, Wendy, Febby, Rica, Kety, Marjorie, Julius, Carl dan Jeffri berangkat menggunakan bus untuk sampai ke penginapan tersebut. Tidak cuman mereka, Samuel juga ikut piknik itu sebagai orang yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka semua. Ia tidak sendiri. Ia juga mengajak Feli sebagai teman kencan, setidaknya itulah yang ia rencanakan nanti.
Bus memasuki kawasan penginapan dan berhenti tepat di depan sebuah gedung berlantai tiga bergaya eropa kuno. Dengan dinding bercetak seperti tumpukan batu dan diberbagai sisi dibalut tanaman hias merambat. Taman yang luas dan dipenuhi berbagai jenis bunga mawar semakin menambah keunikan dari penginapan ini yang lebih tampak seperti kastil abat pertengahan dari pada sebuah penginapan. Mungkin inilah daya tarik tersendiri dari penginapan itu. Mereka satu persatu keluar dari bus sambil menenteng tas bawaan mereka. Samuel dan Feli memimpin mereka masuk ke penginapan. Aula utama penginapan menyambut mereka dan membuat berdecak kagum. Tidak kalah dengan bagian luar, bagian dalam dari penginapan ini benar-benar memanjakan para tamunya.
"Selama datang di penginapan Fliedle," sambut seorang pria dengan belasan pelayan dibelakangnya.
"Chris? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Julia.
"Oh, lupa memberitahu kalian. Aku adalah pemilik dari penginapan ini."
"Hah? Kenapa kau baru sekarang memberitahu kami?" kata Wendy.
"Pantas saja kau menolak saat kami mengajakmu piknik. Ternyata penginapannya milik mu, toh," ujar Jeffri.
"Maaf. Semoga kalian menyukai tepat ini. Tidak ada orang lain yang menginap selain kita. Jadi kalian bisa menikmati semua fasilitas yang ada secara gratis."
"Wow... Terima kasih Chris," kata mereka hampir bersamaan.
"Kalian semua tunjukan dimana kamar-kamar mereka dan layani mereka semua dengan baik," perintah Chris pada seluruh pelayan yang ada di belakangnya.
"Baik, tuan muda."
Para pelayan tersebut segera membantu membawakan barang bawaan mereka menuju kamar masing-masing. Kamar mereka terletak di lantai dua saling bersebelahan. Setiap kamar terdiri dari dua tempat tidur dan satu kamar mandi. Julius satu kamar dengan Samuel, Jeffri dan Carl, Febby dan Wendy, Nisa dan Rica, Marjorie dan Kety, sementara itu Julia terpaksa bersama bu Feli. Walau Julia ingin satu kamar dengan salah satu teman-temannya tapi tidak apa-apa sekamar dengan bu Feli, setidaknya Julia bisa menggoda bu Feli untuk mencari tahu apakah bu Feli juga memiliki perasaan yang sama ke pamannya. Setelah membereskan barang bawaan mereka dan beristirahat sebentar, mereka semua turun menuju ruang makan untuk makan siang bersama. Ruangan luas dengan jendela-jendela tinggi terbuka lebar langsung menyajikan kesejukan alam yang masih terjaga keasliannya. Begitu mereka memasuki ruang makan, mereka sedikit dikejukan dengan kehadiran tiga orang pria disana.
__ADS_1
"Sean, Alwen, Yusra. Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Rica yang sangat mengenali ketiga pria itu.
"Kalian semua juga menginap disini?" kata Alwen begitu menoleh.
"Iya."
"Bukankan kau bilang cuman kita yang ada di penginapan ini, kenapa sekarang ada mereka?" tanya Julia pada Chris.
"Mereka teman sekolah kita juga, kan? Apa salahnya mereka ada disini? Lagi pula kita semua juga sudah saling mengenal."
"Itu benar. Tambah tiga orang lagi bukan masalah," Feli ikut setuju.
"Sebaiknya kita segera duduk. Kalian semua pasti sudah lapar, bukan?" kata Samuel mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Sebelum berangkat tadi aku tidak sempat sarapan," ujar Wendy.
"Diam kau Febby!"
"Hihi... Mari semuanya. Aku sudah meminta koki untuk membuatkan hidangan untuk kita semua. Aku harap sesuai dengan selera kalian."
Mereka menempati masing-masing meja makan yang terdiri dari 6 kursi setiap mejanya. Tak berapa lama beberapa pelayan datang menyajikan sejumlah hidangan yang telah di masak koki. Masakan yang menggugah selera tentunya disukai oleh semua orang. Setelah makan siang, mereka melanjutkan aktifitas masing-masing. Mereka tidak pergi kemana-mana selama sisa hari ini. Mereka menghabiskan waktu menikmati semua fasilitas yang tersedia di penginapan.
Para gadis menghabiskan waktu mereka di spa, tempat pemandian air panas buatan dan sorenya berpoto riang di taman belakang. Untuk Carl, Jeffri, Sean, Alwen dan Chris, mereka pergi ke ruang billiard. Tapi sorenya Alwen dan Chris pergi ke taman belakang untuk menghampiri gadis-gadis mereka. Carl, Jeffri dan Sean memilih bersepeda disekitaran penginapan. Julius dan Yusra menghabiskan waktu mereka di perpustakaan. Mereka berdua lebih menyukai tempat tenang seperti ini. Dan terakhir, Samuel memulai rencana kencannya dengan Feli. Berduaan sambil menikmati secangkir teh di atas atap penginapan tersebut. Mereka membahas apa saja seperti kegemaran masing-masing, keluarga dan lainnya sambil memandangi keceriaan yang terjadi di bawah sana.
__ADS_1
Keesokan paginya, suara kicauan burung menjadi alaram alam yang indah. Setelah serapan Julia mengajak yang lain bersepeda berkeliling disekitaran penginapan. Nisa, Rica, Wendy, Febby dan Marjorie setuju bersepeda pagi ini, namun yang lain menolak karna ada urusan lain yang mau mereka kerjakan. Sepakat mereka berenam bersepeda pagi ini. Dengan menggunakan sepeda yang disediakan penginapan, mereka menyelusuri jalan sambil menikmati udara segar. Bersepeda di bawah rimbunya pepohonan hutan sungguh menyenangkan bagi mereka. Karna terlalu asik mengayuh pedal sepeda tanpa terasa mereka sudah pergi cukup jauh dari penginapan. Mereka memutuskan untuk kembali. Diperjalanan pulang, pandangan Julia tanpa sengaja tertuju pada sebuah bangunan vila yang hangus terbakar. Memang lokasi penginapan tersebut terletak sejalan dengan vila dimana Julia dipertemukan dengan Gerda. Melihat vila tersebut, Julia lantas memutar sepedanya menuju kesana. Yang lain dengan bingungnya malah mengikuti Julia. Mereka berhenti tepat di halaman belakan vila tersebut. Terlihat sudah Julia berdiri di depan sebuah makam disana. Itu adalah makam Gerda.
"Makam siapa itu?" tanya Wendy sambil berbisik.
"Kemungkinan itu makam temannya, Gerda," jawab Rica.
"Julia," panggil Nisa sambil berjalan mendekati Julia. "Ada apa Julia? Kenapa kau terlihat murung?" tanyanya.
"Aku cuman teringat Gerda. Semuanya benar-benar berlalu terlalu cepat. Dihari itu aku mengingat semua tentangnya, kemudian kami dipertemukan kembali, tapi ia tiba-tiba pergi lagi dan kini untuk selamanya. Bahkan pertemuan itu belum cukup untukku melepas rinduku padanya. Hiks... Kenapa takdir ini harus terjadi?" Julia mengusap air matanya yang menetes.
"Yang sabar Julia. Aku yakin dia sana sudah bahagia," kata Marjorie mencoba menenangkan Julia.
"Bahagia. Ia memang sudah bahagia. Saat ini Gerda telah bersama dengan ibunya."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε