Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Bagaimana rasanya Violet?


__ADS_3

"Via," panggil Lina begitu tahu siapa gadis itu.


"Untuk apa kau datang ke tempat latihan tembak? Kau kan sudah sangat mahir menembak."


"Tidak bolehkah aku mengasa kemampuan ku. Aku dengar kak Lina mau belajar menembak hari ini, sebab itu aku datang ingin ikut bergabung."


"Via ternyata mahir menembak, bolehlah ajari kakakmu ini," kata Lina.


"Dengan senang hati," Via seketika menarik Lina sedikit menjauh dari Daniel.


"Hei! Disini aku yang menjadi instrukturnya," kata Daniel begitu melihat muritnya direbut.


"Ayok lah kak, jangan menyimpan kak Lina hanya untuk dirimu sendiri. Aku juga ingin mau bermain bersamanya."


Daniel hanya bisa cemberut. Hilang sudah kesempatan ia untuk berduaan saja bersama Lina.


"Via, apa kau sudah meminum pil yang aku berikan?" tanya Lina disela-sela latihannya.


"Iya. Ayah dan ibu juga sudah meminumnya, kecuali kakek."


"Oh... Tuan besar tidak menyukai hadiah dariku."


"Dia memang sedikit meragukan pil buatanmu tapi dia tidak menolaknya. Kulihat kakek menyimpan pil tersebut dengan sangat hati-hati," bisik Via.


"Benarkah?"


"Kakak bisa mempercayaiku, aku tidak perna berbohong. Tapi kakak memang sangat hebat bisa menciptakan pil yang begitu luar biasa. Pil ini jika dijual pasti menjadi incaran semua orang, tidak peduli seberapa tinggi harganya mereka pasti berebutan untuk membelinya."


"Aku tidak akan perna menjualnya. Pil ini khusus kubuat untuk keluarga Flors sebagai ucapan terima kasihku pada kalian yang telah banyak membantuku. Kalau bukan karna keluarga Flors, aku tidak akan perna merasakan kehangatan sebuah keluarga. Ayah, ibu dan adik sepertimu."


"Hei, bagaimana denganku?" kata Daniel memeluk Lina dari belakang.


"Semua ini berawal darimu."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"AAAH ! ! ! Sakit sekali! Perutku sakit sekali! Aduuh....! Ayah.... Aku sudah tidak tahan lagi!"

__ADS_1


Rintihan Violet terus bergema di kamar nya. Ia berkali-kali berguling-guling di atas tempat tidur menahan sakit. Sudah puluhan dokter dipanggil sampai dokter dari luar negeri sekalipun didatangkan untuk mengobati Violet. Namun tidak ada satupun dari mereka yang dapat menyembuhkannya. Bahkan sebenarnya para dokter itu tidak mengetahui penyebab kenapa Violet bisa merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya. Semua hasil pemeriksaan normal-normal saja. Violet hanya diberi obat peredang rasa sakit tapi itu tidak cukup membantu. Violet masih bisa merasakan rasa sakit tersebut.


"Setiap kali kau mau mencelakai gadis itu, setiap kali pula kau lah yang mala menderita. Aku juga yang harus repot untuk mengurusimu, mencari dokter kesana kesini untuk mengobatimu. Hah, kau membereskan satu gadis lugu saja tidak bisa," kata Ducan yang tidak tahan lagi mendengar rintihan Violet selama dua hari ini.


"Jangan memarahiku. Salahkan gadis itu yang membuatku begini. Aku tidak mengira kalau pil yang diberikannya waktu itu benar-benar membuatku sakit perut sampai seperti ini," kata Violet dengan susah payanya sambil meringkuk kesakitan.


"Kau bilang gadis itu adalah Oleander, sang Master ahli racun yang misterius itu. Apa mungkin dia memang orangnya?"


"Aku masih tidak percaya kalau ia benaran Oleander. Dia mungkin mengenal siapa dibalik nama Oleander ini dan memintanya untuk membuatkan racun aneh ini. Aduuh... Sakit sekali."


"Mungkin kau harus menemuinya untuk mendapat obat penawar racun tersebut," saran Ducan.


"Apa maksud ayah aku harus memohon padanya untuk mendapatkan penawar racun tersebut?"


"Tidak ada cara lain, atau kau mau terus merasakan rasa sakit itu."


"Cih! Kenapa tidak ayah cari saja Oleander yang sebenarnya? Aku sungguh tidak sudi memohon pada Lina untuk mendapatkan obat penawar itu."


"Jika aku tahu keberadaan Oleander ini ada dimana, sudah sendari tadi aku mengundangnya untuk datang kesini. Begini saja, aku akan menemanimu menemui gadis itu dan membantumu bicara juga. Sekalian mau menanyakan tentang siapa Oleander ini dan mungkin berkesempatan bertemu langsung dengannya."


Dibantu dua pelayan, Violet dibimbing menuju mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang di jalanan yang padat kendaraan. Violet masih merinti kesakitan. Selama perjalan menuju rumah Daniel ia hanya meringkuk menahan sakit.


"Jika gadis itu sungguh memiliki hubungan dengan Veliana, mungkin aku bisa bertemu kembali dengan putri kandungku. Selangkah lagi kita akan bertemu kembali, sayang," pikir Ducan.


Sampai di rumah Daniel, Ducan langsung menekan bel pintu. Selang beberapa saat kemudian Judy keluar. Ia segera menyapa dan menanyakan maksud kedatangan Ducan dan putrinya datang ke rumah.


"Apa Daniel dan Lina ada di rumah?" tanya Ducan.


"Oh, maaf Tn. Cershom, tuan muda dan nona Lina tidak ada di tempat sekarang. Mereka sedang keluar dan tidak tahu kapan akan kembali," jelas Judy.


"Sial!" gerutu Violet kesal.


"Apa ada sesuatu yang ingin disampaikan? Saya bisa menyampaikannya setelah mereka kembali."


"Sebenarnya ada sesuatu yang mau saya bincangkan dengan nona Lina. Apa sudah lama mereka pergi?"


"Iya sudah lama. Mereka berangkat pagi tadi. Apa anda mau menunggu mereka di dalam? Saya akan buatkan minuman untuk kalian."

__ADS_1


"Baik. Kami akan menunggu mereka."


"Apa?! Yang benar saja. Kami ini dari keluarga Cershom diharuskan menunggu hanya untuk bertemu dengan gadis kampung itu! Apa tidak bisa memintanya pulang?"


"Maaf nona Cershom, kami tidak berani melakukan itu. Kami tidak di perbolehkan menggangu urusan tuan muda."


"Itu hanya untuk tuan muda kalian! Kami cuman mau bertemu dengan Lina."


"Cukup Violet! Ingat tujuan kita datang kemari. Aku tekankan sebaiknya jaga sikapmu!"


"Cih!" Violet membuang muka dengan kesal. "Kali ini saja Lina. Setelah aku mendapat penawar racun itu aku akan mencabik-cabikmu!!"


"Mari masuk Tn. Cershom dan nona Cershom."


Jam sudah menunjukan 16.28 tidak ada tanda-tanda Daniel dan Lina. Sudah lebih dari tiga jam mereka menunggu. Violet sudah merasa tidak tahan lagi dengan siksaan ini. Judy memberi saran pada Violet untuk mengompres perutnya menggunakan air hangat. Itu akan membantu meredakan sakit pada perutnya. Saran tersebut segera disetujui Violet.


30 menit kemudian akhirnya Daniel dan Lina pulang. Mereka berdua sedikit terkejut dengan kehadiran Ducan dan Violet di ruang tamu. Ducan segera berdiri begitu melihat mereka, sedangkan Violet menatap benci pada Lina, ia tidak sanggup berdiri lagi dengan keringat mengali di dahinya.


"Tn. Cershom, apa yang menyebabkan ada berkunjung ke rumah saya hari ini?" sapa Daniel sambil bertanya maksud kedatangan mereka.


"Kami ingin bertemu dengan nona Lina, ada yang mau dibicarakan. Berkenankah nona Lina meluangkan waktu sebentar?" lirik Ducan pada Lina yang bersembunyi di belakang tubuh Daniel.


Lina tidak mau Tn. Cershom sampai mengetahui tentang kehamilannya. Selain di kampus Lina sama sekali tidak memakai pakaian yang dapat menutupi kehamilannya. Jika di rumah atau pergi ke suatu tempat yang kecil kemungkinan ia bertemu dengan orang yang dikenalnya, Lina akan mengenakan pakaian ibu hamil seperti biasa. Saat ini kandungan Lina sudah sangat tampak biarpun dalam balutan dress longgar sekalipun. Ditambah lagi dress yang dipakai Lina hari ini memiliki pita melingkar di atas perutnya. Tn. Cershom dan Violet akan tahu dalam sekali pandang saja.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2