Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kecurigaan.


__ADS_3

"Belum tentu. Michael, periksa ruang kerjamu. Mungkin saja orang itu juga menyelinap masuk ke ruang kerjamu. Aku akan pergi ke ruangan cctv."


"Baiklah," Michael bergegas pergi ke ruang kerjanya.


"Aku akan membantumu Tn. Stevan," kata Ducan. Ia ingin memastikan rekaman cctv tidak meninggalkan jejak.


"Terima kasih Ducan. Ayok pergi."


Mereka berdua segera pergi ke ruang cctv. Sampai disana Stevan meminta pada petugas untuk memutar ulang rekaman cctv di ruang kerjanya. Tidak ada sesuatu yang janggal. Tidak ditemukan penyusup disana. Namun ketelitian Stevan lebih tajam. Ia menyadari kalau rekaman cctv di bagian lain yang menuju ruang kerjanya itu terkunci.


"Apa kalian buta?!! Rekaman cctv itu hanyalah gambar tidak bergerak. Tidak aku sangkah aku bisa mempekerjakan orang-orang bodoh seperti kalian!! Kerahkan seluruh penjaga untuk memeriksa seluruh ruangan yang ada dan jangan ada satupun orang yang diperbolehkan keluar dari gedung ini sebelum penyusup itu tertangkap atau kalian semua aku pecat!!!" tegas Stevan dengan sangat marah.


"Tenanglah Tn. Stevan. Mereka tidak mungkin bisa pergi dari sini. Berpura-pura saja seperti tidak terjadi sesuatu, dengan begitu mereka tidak akan curiga kalau mereka telah ketahuan," saran Ducan. "Gawat. Aku harus memberitahu Daniel, Lina dan Via soal ini agar mereka bisa membereskan semuanya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun."


"Terima kasih atas sarannya Ducan. Maaf karna hal ini percakapan kita jadi terganggu."


"Bukan masalah Tn. Stevan. Kita bisa membahasnya lain hari. Saya permisi untuk kembali ke ruang pesta. Saya takut Violet akan repot mencari-cari saya disana."


"Silakan Ducan. Sampaikan salamku pada keponakanku itu."


"Baiklah. Saya permisi," Ducan melangkah keluar dari ruang cctv tersebut. Serasa cukup jauh dan keadaan sepih, Ducan menghubungi Lina karna cuman Lina yang masih terhubung melalui Handsfree itu. "Lina, dimana kalian?"


"Kami sudah kembali ke ruang perjamuan."


"Baguslah. Stevan telah menyadari ada penyusup yang masuk ke ruang kerjanya. Apa kalian telah menghilangkan bukti yang ada?"


"Ayah jangan khawatir. Daniel telah menemukan kambing hitam yang cocok. Mereka tidak akan mencurigai kami."


"Oh, siapa itu?"


"Aku juga tidak tahu."


Pesta dansa berlangsung tanpa kecurigaan sedikitpun dari seluruh tamu undangan kalau sebenarnya di luar ruangan tersebut semua petugas keamanan sibuk mencari bukti siapa yang telah menyusup ke ruang kerja. Setiap ruangan diperiksa sampailah salah satu dari mereka memeriksa kamar no 26. Betapa terkejutnya ia mendapati Tn. Robert tidak sadarkan diri di atas ranjang kamar tersebut. Tentunya hal ini segera di laporkan pada Michael dan Stevan.


"Robert! Apa yang terjadi padamu? Bangun Robert, bangun!" panggil Michael mencoba membangunkan putranya, namun Robert tak kunjung bangun. "Panggil ambulance sekarang juga!" perintah Michael pada anak buahnya.

__ADS_1


"Selidiki tempat ini. Pasti ada bukti sekecil apapun yang dapat kalian temukan!" perintah Stevan.


4 anak buahnya yang ada disana segera menjalankan perintah. Mereka memeriksa setiap sudut dan sisi dari kamar tersebut berserta kamar mandinya. Salah seorang dari mereka memeriksa lemari dan menemukan seorang pria pingsan di dalam sana. Pria itu cuman mengenakan celana pendeknya saja, tapi seragam pelayannya terlipat rapi di atas tubuhnya.


"Bos, sepertinya penyusup itu menyamar sebagai pelayan ini ."


"Bangunkan dia!"


"Tidak bisa. Dia sedang dalam pengaruh obat bius. Kita hanya bisa menunggunya siuman."


"Setelah siuman, aku minta interogasi dia!"


"Baik bos."


"Bos, saya menemukan pin ini di bawah tempat tidur. Pin ini pasti milik penyusup itu," dia menyerahkan pin tersebut pada bosnya, Stevan.


"Simbol di pin ini merupakan simbol dari kepolisian rahasia," kata Stevan begitu melihat lebih dekat pin tersebut.


"Ternyata mereka!" Michael meninju dinding sampai menimbulkan retakan disana. "Mereka harus membayar karna telah melukai putraku!!"


"Tunggu dulu Michael. Ini memang pin dari polisi rahasia, tapi apa mungkin ini cuman tipu daya mereka untuk mengelabui kita? Polisi rahasia mana yang begitu ceroboh menjatuhkan pin nya sendiri."


Michael membopong putranya keluar dari kamar itu. Di lorong stretcher ambulance telah menunggu. Robert segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis. Stevan meminta seseorang untuk mengecek keaslian dari pin tersebut. Sampai pesta berakhir, Stevan tidak berhasil menemukan siapa yang telah menyusup ke ruang kerjanya. Tapi dari ruang cctv, ia mendapat kabar kalau ada dua orang mencurigakan yang keluar dari pintu belakang dan juga ditemukan bekas kunci yang dibuka paksa menggunakan alat digital. Kemungkinan besar mereka berdua lah pelakunya. Setidaknya itu lah perkiraan Stevan. Ia tidak mencurigai kalau sebenarnya pelaku yang sebenarnya masih berada diantara tamu undangan.


"Via, bagaimana dengan kejutan yang kau maksud?" tanya Lina begitu ia masuk ke mobil.


Mereka bertiga minta izin untuk pulang duluan dengan alasan biasa. Mereka diperbolehkan pulang karna kecurigaan pada mereka terlalu minim. Stevan kini menyakini kalau peyusup itu benaran dari polisi rahasia.


"Kakak bisa menekan tombolnya sekarang," Via memberikan leptopnya pada Lina.


"Ok," dengan sekali tekan, beberapa detik tidak ada yang terjadi. Tapi tak berapa lama terdengar teriakan dari para tamu undangan yang ada di dalam.


"Aaaaah............!!! Air dari mana ini?"


"Gaun mahal ku.....!"

__ADS_1


"Ayok pergi dari sini!!"


"Ini pesta terburuk!"


Semua tamu undangan keluar dalam keadaan basa kuyup dengan wajah cemberut.


"Oh, teryata itu untuk mengaktifkan Smoke Detector," kata Lina begitu melirik para tamu undangan dari balik kaca mobil.


"Dasar jahil."


"Hihihi....."


Mobil mereka melaju santai di jalan yang masih terlihat ramai oleh beberapa kendaraan.


"Ini pasti ulah mereka. Kenapa aku juga kena imbasnya," Ducan hanya bisa menyekat air yang kini menetes ke dagunya.


Disisi lain.


"Bos, ini..."


"Matikan airnya!" perintah Stevan dengan raut wajah mengerikan.


"Ba, baik," anak buahnya itu bergegas pergi sebelum menjadi pelampiasan amukan dari bosnya.


"Lihat saja siapapun kau. Aku pasti akan membunuh mu dengan sangat keji!!!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2