
Selesai acara makan malam, semua meja dan kursi disisikan untuk membuat ruangan menjadi lebih luas. Sebagai acara hiburan akan diadakan pesta dansa. Semua orang bebas memilih pasangan masing-masing yang mau diajak turun ke lantai dansa dan setiap pergantian musik, mereka wajib mengganti pasangan mereka di tempat. Jadi semua orang berkesempatan menari dengan pasangan berbeda disetiap lagu berbeda.
Musik belum dimulai, sebagian para tuan muda yang hadir di pesta ini bergegas menghampiri Julia, Wendy, Febby dan Nisa untuk mengundang mereka berdansa. Takut didahului orang lain, Sean dengan cepat menarik Julia dalam pelukannya. Alwen dan Yusra yang terlambat dibuat kesal melihat Sean duluan mengajak Julia berdansa. Tidak tinggal diam, mereka memilih sembarang orang untuk berdansa dengan harapan di pergantian musik nanti mereka bisa merebut Julia. Yusra memilih Rica sebagai pasangannya, sedangkan Alwen memilih seorang gadis yang tidak dikenalnya sebagai pasangan karna sempat gagal mengajak Febby turun ke lantai dansa.
"Akhirnya aku berhasil mendapatkan mu," bisik Sean pada Julia.
"Sudah aku katakan aku tidak pandai berdansa. Kenapa kau masih menarik ku turun?"
"Jika aku terlambat, kau pasti sudah direbut orang lain."
"Hah... Kau akan menyesali ini."
Alunan musik pertama bernada lembut. Semua hadirin yang turun berdansa mulai menari mengikuti irama musik. Sinar lampu warna-warni juga dinyalakan sebagai percantik suasana. Sean yang sengaja mengajak Julia ke tengah-tengah aula dansa membuat Julia tidak bisa melarikan diri dengan mudah. Tapi walaupun sudah berhasil membuat sang pujaan hati terpaksa berdansa dengannya, Sean terpaksa harus menerima rasa sakit. Beberapa kali Julia tanpa sengaja menginjak kaki Sean saat menari. Julia sudah mengatakan dari awal kalau ia sungguh tidak bisa berdansa tapi Sean ngotot.
Diakhir musik, Yusra perlahan-lahan mulai mendekati Julia dan Sean. Berharap disaat pergantian musik tiba ia dapat langsung mengajak Julia berdansa. Namun di detik-detik terakhir, begitu Yusra melepaskan rangkulannya pada Rica dan hendak menghampiri Julia, ada seorang penjaga tiba-tiba melangkah masuk dalam keadaan setengah berlari. Melihat itu membuat mata semua orang teralikan dan pesta dansa seketika berhenti karna pria itu menerobos diantara penari.
"Tn. Zack!" teriak pria itu sambil menghampiri Zack.
"Ada apa? Kenapa kau berlari diantara orang-orang?"
"A, ada sekelompok orang berpakaian sebab hitam hendak menerobos masuk," jelas pria itu dengan nafas terengah-engah.
"Apa?! Siapa mereka? Berani sakali mengacau di pestaku!"
Duar!
Belum sempat amarah Zack memuncak, mereka dibuat terkejut dengan suara pintu yang didobrak paksa. Sekelompok orang yang terdiri dari lima orang mengenakan setelan jas hitam serta juga memakai kacamata hitam melangkah masuk begitu saja ke area pesta. Semua tamu undangan menepih dan memberi ruang untuk kelima orang tersebut. Tak berselang lama masuk seorang lagi. Ia juga mengenakan setelan jas hitam namun telah menanggalkan kacamatanya saat melangkah masuk.
"Akhirnya datang juga," gumang Julia sambil tersenyum.
"Siapa kalian? Mau apa kalian datang ke pestaku ini?" tanya Zack dengan garangnya.
"Maaf mengacau. Kami tidak ada urusannya denganmu. Kami disini mencari Norman."
__ADS_1
"Norman?" Zack melirik pada Norman yang ada disebelahnya.
Norman dibuat bingung dengan sekelompok orang yang tiba-tiba mencarinya namun ia tetap berusaha melanjutkan penyamaranya.
"Saya Norman. Ada urusan apa kau mencari ku? Apa kau tahu kalau aku ini adalah anggota elit Black Mamba yang dikenal paling kejam di ibu kota?" ujar Norman gadungan itu dengan sombongnya sambil memperlihatkan tanda pengenal keanggotaan mafia Black Mamba. Ia tidak tahu kalau yang ada dihadapannya ini adalah Norman yang asli.
"Oh... Begitu. Jadi kau adalah Norman, anggota elit Black Mamba?"
"Kenapa? Merasa takut sekarang? Sebaiknya kau..."
Bugk!
Belum selesai Norman gadungan itu bicara satu tonjokan sudah mendarat diwajahnya. Hal tersebut sampai membuatnya tersungkur ke lantai dan tanda pengenal yang tadinya ia pegang terpental dan mendarat ke kaki Julia. Semua orang dibuat terkejut termasuk Zack.
"Sebagai anggota elit Black Mamba tentunya kau tahu betul hukuman apa bagi seseorang yang mengaku-ngaku sebagai anggota Black Mamba. Dilemparkan dari ketinggian 1000 kaki di udara! Benarkan teman-teman?" tanya Norman pada anggotanya.
"Benar sekali Tn. Norman," jawab salah satu anggotanya.
"Jika dia adalah Tn. Norman yang asli, lantas siapa orang ini?" tanya Gloria pada Zack.
"Sudah jelas berarti dia ini adalah penipu! Tidak aku sangkah ternyata aku ditipu mentah-mentah olehnya! Aku akan membunuh mu!" Zack hendak menghajar si Norman gadungan itu namun segera di cegat Norman yang asli.
"Tunggu, kau tidak berhak menghakiminya karna masalah ini sudah menyakut anggota mafia Black Mamba."
"Be, benar sekali. Maaf atas kelancangan saya sebelumnya. Saya dengan bodohnya telah membentak anda," nada bicara Zack seketika berubah bersahabat. Ia membungkukkan badannya meminta maaf dengan hormat.
"Ternyata orang itu adalah anggota Black Mamba palsu. Hampir saja aku percaya padanya. Hah... Datang kesini malah menjadi sia-sia," batin Yusra.
"Aku tidak akan mempermasalah hal itu. Kalian, seret dia keluar dari sini," perintah Norman pada rekannya.
"Baik."
Dua orang dari bawahan Norman segera menarik paksa pria yang menyamar menjadi salah satu anggota Black Mamba itu dan menyeretnya keluar.
__ADS_1
"Maaf, maafkan saya. Saya tidak bermaksud berpura-pura menjadi salah satu dari kalian. Tolong jangan lempar saya dari ketinggian 1000 kaki. Saya akan melakukan apapun yang kalian minta!" teriak pria itu memohon ampun namun tidak ada yang pedulikannya.
"Urusan kita sudah selesai disini. Ayok pergi," Norman berbalik dan hendak melangkah pergi.
"Paman, kau tidak mau kehilangan ini lagi, kan?" teriak Julia sambil menunjukan tanda pengenal milik Norman. Hal itu membuat semua orang menoleh pada Julia.
"Gadis ini tidak tertolong lagi."
"Dia tidak tahu siapa yang diajak bicara."
"Rumor mengatakan kalau kelompok mafia Black Mamba terkenal sadis baik pada wanita maupun anak-anak."
"Mereka kejam dan tidak pandang bulu."
"Gadis ini terlalu berani. Sudah cukup dia mengejek tuan muda Gelael sebelumnya sekarang ia berani berurusan dengan salah satu anggota Black Mamba."
"Gadis yang malang. Aku menyayangkan wajah manisnya."
Bisik para tamu undangan antara satu sama lain. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau gadis kecil berwajah manis itu dengan santai nya menyapa Norman yang mereka kenal saat ini sebagai anggota elit Black Mamba yang sebenarnya. Namun perlakuan Norman pada Julia semakin membuat mereka kaget bukan main. Norman yang mendengar namanya dipanggil seketika menoleh. Melihat raut wajah ceria Julia membuat Norman tersenyum sambil menghampiri nonanya itu.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1