
Selesai membersikan diri, mengganti pakaiannya dan memperban lukanya, Julius naik ke buritan kapal hanya sekedar menikmati hembusan angin laut. Dipandangnya terus pulau tersebut untuk terakhirnya. Tak berapa lama Qazi datang menghampiri.
"Bagaimana lukamu?"
"Sudah diperban."
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kemana saja anda? Saya sudah mengelilingi pulau itu cuman untuk mencarimu. Saya bahkan terpikir untuk menelpon orang tuamu, tapi begitu saya kembali, saya malah mendapati dirimu terluka seperti ini. Apa yang harus saya katakan pada orang tuamu? Bahwa saya telah gagal menjaga putra mereka."
"Sebaiknya tidak perlu beritahu mereka soal ini. Lagi pula cuman luka kecil. Aku tak mau mama khawatir."
"Tapi tetap saja ini kesalahan saya yang telah lalai menjalankan tugas."
"Tidak. Ini bukan kesalahan paman Qazi tapi kesalahan dari pemilik rumah lelang itu. Dia mengetahui kemampuan darahku yang dapat menetralkan racun dan berencana mengambil sampel darahku."
"Apa?! Kenapa anda tidak bilang dari awal sebelum kita berangkat tadi? Berani sekali dia menggangumu. Kalau tahu begitu saya pasti sudah mengikatnya diantara dinamik agar dia bisa terbang ke alam baka!!"
"Tidak perlu sampai begitu juga, paman. Orang-orang dari intelejen negara sudah membereskannya."
"Ada intelejen negara di pulau itu?"
"Iya. Dia datang untuk menyelidiki rumah lelang itu dan rupa-rupa si pemilik rumah lelang ternyata bagian dari intelejen juga dan diduga telah berkhianat. Benar-benar ironis."
"Sepertinya ini akan menjadi cerita yang menarik. Namun belum lengkap jika kita tidak melakukan perayaan atas keberhasilan misi ini," Qazi menyodorkan sebuah remot kontrol pada Julius.
"Ooh... Apa ini?"
"Sedikit hadiah kecil yang telah aku siapkan. Silakan tuan Julius."
"Suatu kehormatan untukku," Julius menekan tombol yang ada pada remot tersebut.
Boom...!!
Terdengar suara ledakan dari arah pulau bersamaan dengan kembang api yang mencul cepat ke udara. Langit malam kini berhiaskan kembang api warna-warni. Tidak hanya satu. Ledakan lainnya kembali terdengar secara berurutan bersamaan dengan kembang api lainnya juga.
"Wow, sejak kapan paman Qazi menyiapkan ini?"
__ADS_1
"Sewaktu mencarimu. Kesal karna tidak kunjung menemukan mu, saya menebar beberapa kembang api diantara bom-bom yang telah saya sebar di dekat rumah lelang."
"Ini luar biasa."
Tidak ada percakapan untuk sesaat. Julius dan Qazi menikmati pertunjukan kembang api yang menjadi perayaan atas keberhasilan mereka mendapatkan batu permata yang telah dicek Qazi ternyata benar permata yang dicari selama ini.
"Ngomong-ngomong, tuan Julius. Seingat saya, anda mengenakan anting-anting. Apa anda melepaskannya?" tanya Qazi begitu baru menyadari itu.
"Tidak, aku tidak perna melepaskannya..." seketika Julius menjadi panik saat merabah daun telinganya ia tidak merasakan ada anting-anting disana. "Paman Qazi, bagaimana ini? Anting-anting itu adalah hadiah ulang tahun dari Julia. Jika Julia sampai tahu kalau aku menghilangkan, dia pasti akan sangat marah padaku."
"Mungkin anda bisa menjelaskannya secara baik-baik. Gadis manis seperti nona Julia pasti mengerti," kata Qazi mencoba memberi saran.
"Tidak. Dia tidak akan menerima alasan apapun. Aku harus bagaimana?"
"Bagaimana kalau saya coba hubungi toko perhiasan untuk menanyakan apa mereka memiliki anting-anting yang serupan?"
"Tidak. Aku tidak mau baru. Aku cuman mau anting-anting yang itu."
"Lalu, apa kita harus kembali untuk mencarinya?"
"Hah?"
Qazi benar-benar dibuat pusing bercampur kasihan juga melihat Julius. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Julius tidak mau dibelikan anting-anting yang baru dan melihat keadaan pulau, memang mustahil untuk mencarinya kembali. Biar dicaripun anting-anting tersebut tidak akan ada di pulau itu karna sebenarnya...
"Hah... Maafkan aku bocah menggemaskan, aku terpaksa mencuri ini darimu," gumang Death knell sambil menatapi anting-anting milik Julius yang tidak sengaja ia temukan.
"AAH!!! Aku pikir kau kembali dengan permata itu tapi nyatanya tidak!" bentak Tn. Almero marah-marah. "Aku kehilangan uang sebesar 5 juta dolar di acara pelelangan ini! Sia-sia saja aku menyewa seorang Death knell yang katanya ditakuti di dunia bawah tanah tapi nyatanya hanyalah seorang gadis kecil yang tidak bisa apa-apa!! Merebut satu permata kecil dari seorang bocah saja tidak bisa!"
Tidak tahan lagi mendengar itu, Death knell melemparkan pisaunya ke arah Tn. Almero. Pisau tersebut meluncur cepat melalui Tn. Almero dan memotong berapa helai rambutnya sebelum menacap di dinding kapal. Tn. Almero sontak langsung terdiam dan menatap ngeri pisau tersebut.
"Apa sudah selesai ocehanmu Tn. Almero?" dengan tatapan tajam Death knell menatap Tn. Almero yang telah berkeringat dingin. "Apa kau lupa? Kau cuman membayar ku untuk melindungi mu dari awal keberangkatan sampai pulang dengan selamat. Itu saja. Kau sama sekali tidak memberiku uang lebih untuk melindungi semua barang bawaanmu. Seharusnya kau tahu itu, bukan?"
"Tapi aku akan memberimu tambahan uang jika kau berhasil mendapatkan kembali permata itu."
"Kau pikir aku seperti orang yang kekurangan uang? Aku tidak mau melakukan hal yang tidak aku sukai. Menerima tawaranmu ini saja cuman ingin melihat pulau yang dikenal sebagai tempat pelelangan paling berdarah itu."
__ADS_1
"Lantas kenapa kau kembali masuk ke hutan?"
"Itu bukan urusanmu."
"Tapi tetap saja aku mengalami kerugian yang besar. Sudah menghabiskan uang sebesar 5 juta dolar namun pulang tidak membawa apa-apa."
"Jika menurutmun aku ini tak berguna, aku bisa mengembalikan semua uangmu sekarang juga namun itu berarti kita tidak memiliki hubungan lagi. Aku bisa saja membunuh mu serta yang lainnya disini. Toh, tidak ada yang bisa melarikan diri juga," kata Death knell sambil menyeringai jahat.
Seketika Tn. Almero begidik ngeri. "Sial! Dia seperti harimau yang siap menerkap kapan saja."
"Seharusnya anda masih bersyukur."
"Apa yang bisa aku syukuri untuk sekarang?" tanya Tn. Almero dengan tubuh masih gemetar.
"Ada orang yang lebih apes lagi darimu. Dia adalah si pemilik rumah lelang."
"Apa yang terjadi padanya?"
"Orang-orang dari intelejen negara baru saja menangkapnya."
"Dia tertangkap?!" Tn. Almero sangat terkejut mendengarnya.
"Itu benar. Kita benar-benar beruntung intelejen negara itu cuman mengincar si pemilik rumah lelang itu saja. Coba bagaimana jadinya jika mereka menggerebek tempat tersebut saat acara lelang berlangsung? Sudah pasti kau juga akan ikut terseret."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε