Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Siapa sebenarnya kau Daniel?


__ADS_3

Samuel meletakan tangannya di perut Lina, kemudian meliriknya lalu mengelusnya mengikuti lekukan perut Lina yang telah tampak jelas terlihat. Ia kembali menatap lurus mata Lina dengan tangan masih membelai lembut kandungan Lina. Hal ini benar-benar membuat Lina merasa tidak nyaman.


"Samuel."


"Iya. Apa kau mau mengatakan kalau semua tebakan ku itu benar?"


"Tidak. Aku cuman mau bilang, bisa kau jauhkan tanganmu dari perutku," kata Lina tanpa ekspresi.


"Oh, maafkan aku," Samuel tersadar dan menarik tangannya menjauh. "Aku cuman merasa kehamilanmu ini... Sangat menarik. Aku tidak bisa tidak tahan ingin mengelusnya," seperti tanpa rasa bersalah, ia mala menurunkan kepalanya lalu meletakkan telinganya di atas perut Lina. "Berapa usia kandunganmu? Apa kau sudah bisa merasakan gerakan mereka diusia kehamilanmu ini?"


"Samuel, maaf."


"?!"


Bugk! Bagk! Bugk!


Dalam persekian detik Samuel sudah tersungkur di lantai di samping tempat tidur dengan keadaan mengenaskan.


"Jangan perna lakukan itu lagi atau aku benar-benar akan menghajarmu sampai babak-belur!" bentak Lina dengan pipi sedikit merona.


"Aduuh..." rintih Samuel sambil berusaha duduk. Ia mengusap kepalanya yang sakit dan melirik kesal pada Lina. "Bisa tidak kau bersikap layaknya seorang perempuan yang lemah lembut sedikit!"


"Untuk apa bersikap lemah lembut padamu? Kau sendiri yang selalu membuatku kesal. Hm!" Lina membuang muka dengan wajah cemberut.


"Hah... Ini memang salahku. Apa yang barusan aku lakukan tadi? Kenapa aku tidak bisa menahan diri?" batin Samuel sambil menghela nafas panjang. "Aku minta maaf."


"Apa? Apa katamu tadi?" tanya Lina walau ia sebenarnya mendengarnya dengan sangat jelas.


"Aku minta maaf. Aku memang sedikit keterlaluan tadi," Samuel menatap lembut pada Lina.


"Fftt.... Hahaha......." Lina tidak bisa menahan tawanya melihat raut wajah Samuel.


"Apa nya yang lucu?!!"


"Kau yang lucu. Hihihi....."


Melihat senyuman di wajah Lina membuat hati Samuel ikut senang. Ia berdiri, merapikan sweater abu-abunya lalu mengulurkan tangan pada Lina.


"Ayok sarapan. Seorang wanita hamil sepertimu memerlukan nutrisi yang cukup agar kalian selalu sehat."


"Iya," Lina menerima uluran tangan Samuel.


Mereka turun ke bawah menuju meja makan. Sampai disana mereka tidak melihat George dan Sara seperti pagi-pagi biasa. Para pelayan segera menarik kursi untuk Samuel dan Lina dan dengan cekatan menghidangkan menu sarapan pagi ini.


"Dimana ayah dan ibumu?" tanya Lina disaat para pelayan selesai menghidangkan semuanya dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Mereka pergi berkunjung ke kediaman utama dan mungkin akan pulang malam nanti. Cuman kita berdua saja di rumah hari ini."


"Kau tidak tidak kerja hari ini?" Lina menyiapkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Tidak. Ayah memintaku untuk menjangamu."


"Aku bukan anak kecil."


"Iya, aku tahu itu. Tapi terkadang sifatmu itu terlihat seperti seorang gadis kecil yang manja dan sifat itu sangat alami keluar dari dirimu."


"Benarkah? Aku tidak menyadarinya."


Samuel hanya menggeleng pelan. Tidak ada percakapan lagi setelahnya. Jam 10.39 Lina merasa bosan. Pagi ini ia cuman menghabiskan waktunya membaca buku di perpustakaan. Ia belum bisa meneliti kandungan racun dalam darah George karna tidak memiliki peralatan yang cukup. Dokter Pram baru akan membawakannya setelah jam makan siang. Dalam kebosanan itu Lina terus kepikiran dengan Daniel.


"Siapa sebenarnya Daniel ini? Apa hubungan dia dengan masa lalu ku? Kenapa namanya terus berputar di kepala ku?" semua pertanyaan itu terus menjadi buah pikir Lina. "Apa sebaiknya aku tanyakan saja Samuel? Ia sepertinya mengenal siapa Daniel ini."


Lina bangkit dari kursi yang ada di perpustakaan, menegangkan tubuhnya sebentar lalu pergi ke ruang kerja Samuel. Sampai di depan pintu Lina menarik nafas terlebih dahulu baru mengetuk pintu.


"Samuel, apa aku boleh masuk?"


"Masuk saja. Pintunya tidak dikunci," teriak Samuel dari dalam


Lina memutar knop pintu kemudian melangkah masuk. Ruang kerja cukup luas dengan tiga lemari berisi buku dan dokumen. Terlihat Samuel tengah sibuk dengan leptopnya. Lina mengambil tempat duduk di kursi panjang yang tersedia disana.


"Ada perlu apa?" tanya Samuel tanpa melirik Lina.


"Silakan saja."


"Em... Apa aku menggangumu kalau aku sedikit bertanya sesuatu padamu?" kata Lina sedikit ragu.


Samuel menutup leptopnya. Ia menoleh pada Lina dan berkata. "Tanyakan saja. Pekerjaanku juga sudah selesai."


Lina memberi senyum pada Samuel. "Aku cuman ingin tahu tentang... Daniel. Kau sepertinya kenal dengannya."


"Jika dikatakan kenal sih, aku sebenarnya sangat mengenalnya. Dia itu musuhku."


"Musuhmu?"


"Iya. Saingan ku lebih tepatnya. Kami selalu bersaing dalam bidang bisnis dan..." Samuel tidak melanjutkan. Ia melirik Lina yang menatapnya menanti jawaban. Samuel sedikit ragu untuk memberitahukannya pada Lina.


"Dan..."


Samuel menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. "Dan persaingan di dunia bawah tanah."


"Kau seorang Mafia?"

__ADS_1


"Em... Iya," Samuel melirik ke luar jendelakemudian kembali menoleh pada Lina. "Tapi kau jangan takut. Aku..."


"Kenapa kau berpikiran aku takut?" potong Lina "Apa kau lupa siapa aku? Aku adalah Oleander, seorang Master ahli racun yang dikenal di pelelangan rumah lelang Red Krisan. Jika dilihat-lihat, kita tidak ada bedanya."


"Tidak seharusnya aku ragu untuk memberitahukannya pada mu. Jadi apa yang ingin kau tahu tentang Daniel?"


"Semuanya. Aku merasa dia orang yang penting untukku."


"Daniel adalah tuan muda dari keluarga Flors, salah satu keluarga Mafia terbesar di ibu kota. Nama lengkapnya Daniel Alcander Flors. Ia telah menikah dengan putri dari keluarga Cershom dan telah memiliki sepasang anak kembar."


"Telah menikah," Lina tertunduk murung begitu mengetahui itu.


"Iya, dengan adik sepupuku."


"Adik sepupumu?" ulang Lina.


"Sejujurnya aku tidak perna bertemu dengannya. Dia putri dari adik ayahku yang bernama Ariana."


"Oh..."


"Sebab itu aku bertanya padamu pagi tadi tentang kau siapa nya Daniel. Bagaimana kau bisa mengenalnya?"


"Aku belum ingat soal itu. Yang aku ingat baru tentang pekerjaanku. Em... Samuel, apa aku ini sungguh cuman simpanan nya? Dan anak ini..." Lina menatap sedih kandungannya sambil mengelusnya. "Hiks... Kenapa disaat aku memikirkannya membuat aku tidak mau mengembalikan ingatanku lagi."


Samuel menghampiri Lina dan mengulurkan kotak tisu padanya. Lina menerima itu. Ia mengelam air matanya menggunakan tisu tersebut.


"Jangan menangis. Itu cuman perkiraan terburuk ku saja. Mungkin hubungan mu dengan Daniel ini bukanlah hubungan sepasang suami istri. Ia bisa jadi kerabatmu, teman atau mungkin musuhmu. Yang jelas Daniel ini merupakan bagian dari ingatanmu."


"Jika benar begitu, tapi kenapa ada perasaan aneh dalam benakku? Seolah-olah dia merupakan orang yang sangat penting bagiku. Jika cuman sebatas teman atau kerabat, tidak mungkin muncul perasaan ini."


"Begini saja. Bagaimana kau ikut aku menghadiri pesta perayaan 50 tahun perusahaan Xu minggu depan? Aku dengar Daniel akan hadir disana menggantikan ayah mertuanya yang tidak dapat hadir. Dengan bertemu langsung dengan Daniel, mungkin membantu mengembalikan ingatanmu yang lain."


"Baiklah."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2