
"Sustt.......sut..... Putri mama yang cantik, jangan menangis," Lina mengusap air mata yang memenuhi pipi putrinya itu.
"Iya kak Julia, nanti kakak jadi jelek loh," ejek Adelia yang bersembunyi
"Hiks... Bicaralah sekali lagi maka aku pukul kau! Kalian kenapa membohongiku? Kalian bilang tidak bisa datang karna sibuk. Aku benar-benar sedih. Semua keluarga dari teman-teman datang tapi keluargaku sendiri tidak. Aku sungguh merindukan kalian."
"Maafkan kami sayang. Kami tidak bermaksud membohongimu," Daniel mengelus lembut rambut putrinya itu.
"Semua ini ide kak Julius," tunjuk Adelia pada Julius.
Semua peserta pemenang lomba yang berdiri di samping kiri dan kanan Julius tiba-tiba mundur selangkah ke belakang termaksud Nisa. Ia cuman menundukan kepalanya sambil melirik sesekali Julius yang terlihat sedikit cemberut itu.
"Kau malah yang paling setuju dengan rencana ini," tunjuk balik Julius pada Adelia.
"Oh... Jadi ini ide kalian berdua," lirik Julia tajam pada kakak dan adiknya itu.
"Et... Kak Julia tidak perlu risaukan tentang acara balas dendam ini. Izinkan aku dan kembaran ku membereskan masalah ini sebagai bentuk permintaan maafku," Adelia membungkukan tubuhnya dengan begitu anggun.
"Hah, apa yang bisa kalian dua bocah lakukan?" kata Julius meremehkan.
"Ayok Adelio, serang dia! Jatah kue jaheku malam ini akan aku berikan padamu," teriak Adelia.
"Kue jahe. Maaf kak Julius."
"Yang benar saja kau bisa disuap dengan kue jahe."
Tidak memperdulikan sumua orang disekitar mereka, Adelia dan Adelio berlari lalu melompat ke arah kakaknya. Julius tidak bisa menghindar dan hal hasil ia terguling di lantai. Tidak cukup sampai disitu, mereka malah menduduki punggung Julius supaya ia tidak bisa bangun lagi.
"Aduh. Kenapa aku memiliki adik-adik yang nakal seperti mereka," gerutu Julius dengan kesal.
"Hihi... Julius kau memiliki adik-adik yang menggemaskan," ujar Nisa yang berusaha menyembunyikan tawanya namun tak bisa.
"Jangan tertipu oleh wajah imut mereka. Itu cuman topeng."
__ADS_1
"Kak Nisa jangan dengarkan kakak kami satu ini, kami ini anak-anak yang baik dan memang manis, benar bukan?" Adelia mengeluarkan ekspresi imutnya.
"Baiklah, aku percaya kalau kalian sungguh manis."
"Wajah saja manis tapi kelakukan seperti iblis," gerutu Julius lagi.
"Yang sabar Julius."
Nisa memang sudah akrab dengan Adelia dan Adelio. Setiap kali Julia melakukan panggilan video dengan keluarganya, Adelia dan Adelio selalu menanyakan Nisa. Nisa yang awalnya malu-malu berbincang dengan keluarga Flors, tapi kini perlahan-lahan ia mulai terbiasa. Kenakalan Adelia yang terkadang ada-ada saja tingkahnya membuat Nisa tertawa. Suasana yang santai membuat kegugupannya menghilang, bahkan jika harus berbicara langsung dengan Tn. Flors dan Ny. Flors sekalipun.
"Oh, astaga. Senyuman Nisa ku manis sekali," batin Chris yang sendari tadi terus melirik Nisa. Tapi ada rasa cemburu di hatinya saat melihat Nisa begitu akrab dengan Julius. "Tidak. Aku tidak bisa membiarkan ia hilang dari sisiku. Sepertinya hari ini adalah waktu yang tepat," Chris merogoh saku jas seragamnya untuk memastikan kalau dia tidak lupa membawa barang tersebut.
Sementara itu Daniel cuman bisa menggeleng melihat kelakuan anak-anaknya. "Setiap kali mereka bertemu selalu saja seperti ini, tidak mengenal tempat dan situasi."
"Mau bagaimana lagi? Apa kau mau menegur mereka?" tanya Lina pada Daniel.
"Tidak. Aku masih mau menjaga harga diriku."
"Adelia, Adelio, sudah cukup. Lepaskan kakak kalian. Acara penyerahan hadiah malah jadi terganggu karna tingkah nakal kalian ini," tegur Via dua keponakannya itu yang masih belum kunjung berdiri dari tubuh Julius. "Maaafkan kami semuanya atas kejadian ini. Penyerahan pialanya jadi terhambat."
"Keluarga Flors apaan? Aku tidak mempercayai ini!" potong Rica seketika.
Barulah acara mau dimulai kembali, semua orang malah dibuat kaget begitu mendengar pernyataan dari seorang gadis yang tiba-tiba naik ke atas panggung sambil berteriak meleking itu. Tanpa rasa bersalah dan tidak memperdulikan akibatnya lagi, Rica terus menunjuk Julia dengan marahnya. Para hadiri tidak henti-hentinya saling berbisik mengatakan kalau putri tiri keluarga Pinkston itu sudah gila, mencari perkara sendiri, tidak tahu malu, tidak sadar diri dan masih banyak lagi. Yang pasti ini suatu hiburan yang jarang bisa dinikmati.
"Mana mungkin gadis sepertimu adalah putri dari keluarga Flors. Kau pasti menipu!! Seorang penipu besar!! Akan ku bongkar kebohongan mu itu!"
"Kak Rica, apa yang kau lakukan? Dia sungguh putri dari keluarga Flors, Julia Francesca Flors," Nisa mencoba menghentikan Rica namun sayangnya Ia malah didorongan sampai terjatuh.
"Jangan menghalagiku!! Dan berhentilah memanggilku kakak! Aku bukan kakak mu!"
"Hei, kau tidak boleh melakukan itu! Biarpun Nisa cuman saudari tirimu tapi tetap saja dia adalah adikmu!" bentak Julia tidak terima temannya didorong.
"Dasar penipu! Kau tidak berhak mengajari ku bagaimana memperlakukan dia!"
__ADS_1
Rica menganyukkan tangannya dan hendak menampar Julia, namun dengan cepat Lina menahan tangan Rica. Cengkraman Lina begitu kuat sampai Rica tidak mampu melepaskannya. Semakin dia berusaha semakin mau patah rasanya pergelangan tangannya tersebut.
"Kau mau apa? Menamparnya? Berpikirlah seribu kali lagi nona kecil, jangan sampai kau masuk daftar teman mainku. Aku tidak memperdulikan kau mau berasa dari mana dan sehebat apa keluargamu itu. Aku bisa membuatnya lenyap seketika di hadapanmu sekarang juga. Mau mencobanya?" bisik Lina membuat bulu kuduk Rica berdiri. Kemudian ia sedikit memutar pergelangan tangan Rica sampai terdengar suara gemeretak.
"ARGH ! !"
Rica berusaha untuk tidak berteriak menahan sakit dari pergelangan tangannya yang terkilir, namun tidak bisa. Suaranya meluncur keluar begitu saja.
"Ny. Flors, saya mohon maafkanlah Rica!" teriak Ny. Pinkston yang baru datang bersama suaminya. Ia seketika bersujud memohon ampun untuk putrinya sambil menangis.
"Dia masih muda dan terlalu naif. Saya akan menghukumnya dengan sangat berat karna telah lancang pada putri anda," sambung Tn. Pinkston yang juga ikut bersujut.
Lina melepaskan cengkraman tangannya lalu mendorong Rica sampai terjatuh cukup keras dihadapan ibunga sendiri. Dengan cepat Ny. Pinkston membantu putrinya itu berdiri dan menariknya dalam pelukannya. Terlihat Rica masih meringis kesakitan karna tangannya yang terkilir.
"Nih, bawalah putrimu ini pergi. Jangan sampai aku melihatnya lagi."
"Terima kasih atas kemurahan hatinya Ny. Flors. Saya akan segera membawa Rica pergi," Ny. Pinkston segera membawa Rica pergi tapi Rica malah menepis tangan ibunya.
"Tidak! Aku masih tidak terima hal ini! Aku..."
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Rica dengan sangat keras sampai meninggalkan bekas merah disana. Rica terdiam dan menoleh pada ayahnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε