Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Menerima tantangan


__ADS_3

Julius memilih kursi dibarisan paling depan berhadapan langsung dengan meja guru. Namun dari semua kehebohan di kelas ia cukup dikagetkan dengan kehadiran seorang gadis yang mengambil tempat duduk disebelahnya. Ia terlihat tidak seperti siswi lain yang berteriak histeris padanya di sudut kelas. Gadis ini jauh lebih fokus pada hp ditangannya. Sikapnya yang cuek pada sekelilingnya membuat Julius tanpa sadar terus memperhatikan dia.


"Bukankah dia adalah siswi yang datang bersama tuan muda Arlo tadi? Apa yang ia lakukan disini? Apa dia juga murid tahun ajaran baru di sekolah ini dan kebetulan satu kelas denganku?" pikir Julius. "Aha... Sudahlah. Tidak ada urusan juga denganku."


Julius mengalihkan pandangnya ke luar jendela, tapi cuman sebentar. Matanya kembali melirik gadis disebelahnya. Dan tanpa diduga gadis itu menoleh pada Julius yang membuat padangan mereka seketika bertemu.


"Apa ada sesuatu di wajah ku? Sendiri tadi kau terus memperhatikan aku," ujar gadis itu akhirnya. Ia menyimpan hpnya ke saku jas seragamnya.


"Tidak ada apa-apa."


"Jangan berpikir aku sama dengan siswi itu..."


"Siapa juga yang berpikiran begitu?" potong Julius.


"Apa?! Sebaiknya kau jangan macam-macam denganku atau aku..."


"Atau apa? Apa kau ingin membunuhku, nona?" potong Julius lagi dengan tatapan tajam pada gadis tersebut.


Yang sikapnya tenang kini perlahan dibuat kesal hanya satu dua kata dari Julius. "Eee...! Ini pertama kalian aku bisa dibuat kesal oleh orang menjengkelkan seperti dia! Ha... Hu... Tenangkan dirimu, Marjorie. Ingat tujuanmu datang ke sekolah ini. Jangan sampai misimu gagal karna dia," mencoba menenangkan dirinya dengan cara membuang muka dari Julius


"Sifatnya ini kenapa mengingatkanku pada seseorang?" Julius tersenyum puas setelah berhasil menggoda gadis disebelahnya. "Aku harap ini benaran dirimu."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Jam istirahat dimulai. Julia dan Nisa bergegas keluar dari kelas untuk menjenguk kedua teman mereka yang lain, Wendy dan Febby. Kelas mereka ada di lantai tiga di ujung koridor. Disaat hendak ke sana, di lorong koridor yang relatif sepih, tanpa diharapkan Julia dan Nisa berpapasan dengan Rica dan Delfa.


"Aduh!" pekik Julia begitu Rica dengan sengaja menyenggol bahunya.


"Kita bertemu lagi gadis rendahan!" ujar Rica dengan tatapan sinis nya.


"Aku kira tadi siapa, ternyata nona besar dari keluarga Pinkston. Oh... Tidak, maafkan aku. Kau kan bukan putri sah keluarga Pinkston. Kau itu cuman gadis yang menumpang ketenaran dan merebut apa yang seharunya menjadi milik Nisa. Dasar tidak tahu malu," balas Julia memancing emosi. Ia melipat kedua tangannya di dada.


Rica yang kesal mendengar itu seketika menarik krah baju Julia. Nisa mencoba menghentikan Rica namun dengan cepat Delta menghadang. Sedikit dorongan dari Delta saja sudah membuat Nisa terduduk di lantai koridor.


"Dengar ya gadis rendahan, tanpa dukungan dari keluarga Pinkston saja aku masih bisa membuatmu lenyap dari muka bumi ini!" bentak Rica dengan mata melotot.


"Benarkah? Aku jadi takut. Tapi apa kau lupa kalau aku masih menyimpan video memalukanmu ini. Biarpun aku mati, aku masih dapat memastikan kalau video tersebut tersebar ke jagat maya dan tidak akan bisa dihapus selamanya. Mau mencobanya?"


"AAAH!! Kau ini memang berani sekali!" Rica melepaskan krah baju Julia dengan geram.

__ADS_1


"Kenapa aku harus takut?" Julia merapihkan seragam sekolahnya yang sedikit berkerut.


"Oho... Bagaimana kalau sore ini aku menantangmu untuk melakukan duel. Jika aku menang, kau harus menyerahkan hpmu padaku."


"Tidak Julia! Jangan menerima tantangannya," larang Nisa.


"Kau tidak usah ikut campur..."


Delta hendak mendorong Nisa lagi namun Julia segera menarik tangan Nisa. Hal itu hampir membuat Delta terjungkal menabrak tembok dihadapannya.


"Aku terima tantanganmu. Tapi, bagaimana jika aku yang menang?"


"Itu tak akan terjadi," ujar Rica begitu sombongnya.


"Kau percaya diri sekali. Belum berduel, belum tahu siapa pemenangnya. Jangan nangis disaat kau kalah ya," ejek Julia.


"Cikh! Kau belum tahu siapa aku yang sebenarnya. Aku bisa pastikan kau akan langsung kalah dalam satu kali pukulan."


"Kita lihatkan saja sore ini. Jika aku yang menang, bersiaplah satu video mu yang begitu memalukan akan tersebar di sepenjuru sekolah."


"Itu tidak akan terjadi. Sampai jumpa jam 5 sore di taman belakang," Rica mengajak Delta pergi meninggalkan Nisa dan Julia.


"Julia, kenapa kau menerima tantangannya? Rica adalah atlet taekwondo yang telah memenangkan kejuaraan...."


Julia mengelus kepala Nisa sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. "Jangan khawatirkan aku begitu Nisa. Mau ia atlet taekwondo atau pesumo sekalipun, aku tidak akan kalah. Sore ini, aku akan menghajar ia habis-habisan."


"Em... Julia, aku pasti akan membelamu jika Rica berani mengaduh pada ayah. Kau adalah temanku."


Julia tersenyum pada Nisa lalu tiba-tiba memeluknya sambil mengeluskan pipinya ke pipi Nisa. "Terima kasih. Kau memang teman ku yang imut. Ayok kita temui Wendy dan Febby. Oh, iya. Sebaiknya jangan beritahu mereka soal ini."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Disisi lain, Rica merasa puas karna telah berhasil memancing Julia untuk menerima tantangannya. Rencana yang ia susun berhasil dilakukan, tinggal menunggu sore ini untuk melancarkan aksinya. Rica sangat yakin dapat menghajar Julia di pertarungan duel mereka. Dengan berbekal ilmu taekwondo yang ia pelajari sejak kecil semakin membuat ia bersemangat. Namun Rica tidak tahu siapa yang baru saja ia tantang.


"Masuk perangkap," kata Rica dengan kepuasan menyelimuti tubuhnya.


"Kau memang hebat Rica. Gadis itu dengan bodohnya menerima tantangan mu," puji Delfa.


"Hah! Dia belum tahu kalau aku ini adalah juara taekwondo berturut-turut selama lima tahun. Aku tidak akan memberi dia ampun."

__ADS_1


Drruuttt.......


Suara getar hp Rica membuyarkan segalanya. Ia mengeluarkan hpnya dari saku jas seragam sekolahnya. Dilihatnya di layar hp siapa yang barusan menelpon. Itu adalah ibunya. Dengan cepat Rica mengangkat telpon tersebut.


"Halo. Ada apa ibu?" tanya Rica.


"Rica, putriku yang cantik jelita. Setelah jam pelajaran terakhir mu nanti ibu sudah meminta sopir pribadi menjemputmu."


"Apa?! Tapi ibu sore ini aku urusan mendesak..."


"Tidak ada alasan," potong ibunya. "Pamanmu pulang hari ini dari ibu kota setelah sekian lama. Ia ingin berjumpa denganmu, sayang. Kita berdua ditraktir makan malam di restoran paling berkelas di kota ini. Aku akan menunggumu. Sampai jumpa lagi. Dah..." ibu Rica bergegas menutup telpon sebelum Rica mencoba menolak.


"Sial! Kenapa harus hari ini!" gerutu Rica kesal.


"Ada masalah apa Rica?" tanya Delfa.


"Pamanku pulang hari ini dan mentrakti kami makan malam. Aku tentu tidak bisa menolak karna ibuku."


"Lalu bagaimana dengan janjimu sore ini?"


"AAH!! Aku pasti dikira pengecut olehnya jika tidak datang."


"Em..." Delfa berusaha berpikir mencari jalan keluarnya, sampai... "Aha... Aku tahu. Bagaimana kalau..." ia berbisik pada temanya itu.


"Ide yang cukup bagus."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2