Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Penculikan Yusra


__ADS_3

Disebuah gubuk tua yang terletak jauh dari pemukiman penduduk. Kondisi dari gubuk itu sudah lapuk karna termakan usia namun disinilah Marjorie menyekap Yusra. Digubuk ini Marjorie tidak sendirian. Ia memiliki tiga anak buah pribadi yang sama sekali tidak terikat dengan Lady Blue. Ketiga orang itu cuman menuruti perintah dari Marjorie seorang. Selain bawahannya, ada juga rekan-rekan Marjorie yang lain yang ditempatkan disisi nya oleh Lady Blue. Selain ditugaskan untuk membantu Marjorie, orang-orang tersebut juga secara rahasia diminta untuk mengawasi Marjorie kalau-kalau nanti Marjorie bertindak diluar perintah. Marjorie tentu tahu kalau gerak-geriknya senantiasa diawasi. Sebab itu setiap yang ia lakukan tidak boleh bertindak gegabah.


Yusra membuka matanya perlahan. Diliriknya kiri dan kanan. Ruangan berdebuh dengan jaring laba-laba bertebaran dimana membuat Yusra bertanya-tanya ada dimana dia sekarang. Setelah pandangannya membaik Yusra baru menyadari kalau tangan serta kakinya terikat seutas tali tambang. Ikatannya terlalu kuat baginya agar bisa melepaskan diri.


"Kau sudah bangun tuan muda?" sapa Marjorie yang duduk di depannya sambil menyilangkan kakinya. Pakaiannya kini telah berganti serba hitam dengan rambut terikat menjadi satu. Tidak jauh disebelah Marjorie ada seorang pria yang membawakan keranjang berisi buah-buahan.


"Apa-apaan maksudnya ini Marjorie? Kenapa kau menyekapku disini? Aku perintahkan kau untuk melepaskanku! Aku adalah bos mu!" bentak Yusra. Namun ia terdiam seketika disaat sebila pisau terbang melalui telinganya.


Marjorie cuman tersenyum sambil menikmati apel yang baru selesai ia kupas. "Kau mau bilang apa tadi tuan muda? Maaf, aku tidak dengar."


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Yusra dengan tubuh bergidik ngeri melihat pisau yang telah menggores daun telinganya itu.


"Oh... Namaku Marjorie," jawab Marjorie dengan ekspresi polos.


"Kalau itu aku sudah tahu sejak lama. Siapa yang memerintahmu untuk menculikku? Apa kau itu mata-mata musuh?" walaupun tubuhnya dilanda ketakutan namun Yusra tetap berusaha terlihat garang.


"Aku bukan seorang mata-mata. Lagi pula tidak ada informasi penting juga dari keluargamu ataupun dirimu sendiri yang membuat orang lain tergiur untuk mengetahuinya. Kalau kau mau tanya siapa orang yang memerintah ku, itu sudah pasti Lady Blue sendiri."


"Lady Blue? Itu tidak mungkin! Jangan membual! Orang seperti Lady Blue tidak akan memerintahkan seseorang untuk menculikku seperti ini! Aku tuan muda dari keluarga Arlo sekaligus tuan muda dari kelompok mafia Dragon yang telah berkerja sama dengan Lady Blue. Untuk apa dia menculikku selain kau yang seorang pembohong besar! Kenapa tidak kau katakan yang sebenarnya maksud dari dirimu yang mau menculik ku?!! Apa yang kau mau dari keluargaku? Apa itu sebuah uang tebusan?"


Yusra terus berteriak tidak jelas. Risih mendengar setiap ocehan tidak berarti itu, Marjorie mengambil satu buah anggur lalu menembakannya masuk ke dalam mulut Yusra. Hal hasil Yusra tersedak sampai terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Sebagai seorang pria kau itu banyak bicara juga ya. Benar-benar berisik! Apa kau pikir Lady Blue sungguh menganggap kalian sebagai rekan kerja yang istimewa, begitu? Hahaha... Keluarga Arlo mudah sekali ditipu."


Marjorie baranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Yusra. Suara derakan lantai terdengar jelas begitu sepatu hak tinggi Marjorie menginjak nya. Ia berjongko di hadapan Yusra lalu berbisik di telinganya.


"Kuberitahu kau satu hal. Kelompok mafia Dragon mu itu cuman sekedar umpan murahan."


"Umpan?"


"Benar sekali," Marjorie bangkit lalu berjalan kembali ke tempat duduknya. "Saat ini ayahmu sedang memimpin kelompok Dragon untuk menyerang kediaman keluarga tersembunyi di ibu kota. Kenapa bisa demikian, itu karna kau ada disini. Aku mengirim pesan padanya kalau kau diculik oleh keluarga tersembunyi..."


"Tidak! Aku tidak percaya itu!" potong Yusra. "Ayah ku tidak perna bertindak gegabah mau segawat apapun keadaannya ia tidak akan perna bergerak tanpa perhitungan yang matang!"


"Tentu, tapi bagaimana kalau Lady Blue sendiri yang menurunkan perintah untuk melakukan penyerangan? Ayahmu yang telah terlalu percaya padanya pasti segera menjalankan perintah ini tanpa berpikir panjang lagi. Sungguh menyedihkan."


"Jangan salahkan kami. Jika kau mau menyalahkan seseorang, salahkan lah Lady Blue yang memiliki ide ini dan kebetulan juga keluargamu yang terpilih. Aku sebenarnya tidak mau melakukan tugas mengasuh bayi manja. Sudah cukup selama ini aku menahan diri diperlakukan seperti pelayan oleh kalian. Kalau bukan karna Lady Blue memintaku untuk tidak membunuh mu, sudah pasti aku telah mencabik-cabik menjadi potongan kecil-kecil dan melemparkannya ke laut!"


Dari tatapan Marjorie bisa dipastikan ia bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Ia memang sudah lelah diperlakukan seperti pelayan oleh Yusra maupun Tn. Arlo itu sendiri. Sudah cukup kepura-puraannya ini berlangsung. Sekarang ia bisa bebas melakukan apa saja untuk membalas Yusra. Lady Blue cuman mengatakan tidak boleh membunuhnya, bukan berarti tidak boleh menyiksanya. Serigai mengerikan tampak di wajah Marjorie begitu melirik mangsa yang tak berdaya. Sambil meneteng pisau buah, ia berjalan mendekati Yusra.


"Apa yang mau kau lakukan?" Yusra sudah merasakan firasan buruk begitu melihat ekspresi gadis dihadapannya ini.


"Sambil menunggu perintah selanjutnya dari Lady Blue, bagaimana kalau kita bermain sebentar? Jangan takut. Aku tidak akan sampai membuatmu mati," tanpa aba-aba Marjorie menggoreskan pisau yang ada di tangannya ke wajah Yusra.

__ADS_1


"AAH ! !" pekik Yusra begitu sebila pisau dingin itu menyentuh kulitnya. Darah seketika mengalir.


"Yusra yang malang," gumang Julius yang sendari tadi telah berhasil menyusup ke gubuk tua itu dan mendengarkan percakapan mereka. "Jadi itu penyebab kenapa Tn. Arlo tiba-tiba menyerang kediaman keluarga tersembunyi. Lady Blue ingin mengadu domba keduanya untuk melemahkan kekuatan dari keluarga tersembunyi sebelum penyerangan yang sebenarnya. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memberitahu papa dan mama soal ini. Tapi memberitahu mereka saja tidak cukup. Setidaknya aku harus membuat Tn. Arlo percaya kalau bukanlah keluarga tersembunyi yang menculik putranya. Hanya ada satu cara untuk itu, yaitu membuat Yusra sendiri yang menjelaskannya pada ayahnya."


..."Peringatan! Sistem mendeteksi pengguna mengalami sakit kepala."...


"Julia," fokus Julius teralihkan oleh suara notifikasi dari hpnya. "Sepertinya efek samping dari obat itu semakin sering Julia alami. Aku harap ia segera mengingat semuanya dan tidak perna mengalami siksaan ini lagi."


Julius menyimpan kembali hpnya. Karna memang sering mendapat notifikasi seperti ini membuat Julius tidak terlalu mengkhawatirkan. Ia cuman berharap kalau adiknya itu baik-baik saja. Baru hendak bergerak, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundak Julius. Itu sedikit membuat Julius kaget dan sontak mengangkat kedua tangannya.


"Kau tidak bisa lari lagi penyusup."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2