
"Ngomong-ngomong, Julia. Darimana kau mendapatkan senjata itu? Apa kau sendari tadi membawanya?" tanya Febby penasaran.
"Iya. Senjata ini tersimpan di... Robot Pippo," jawab Julia dengan suara pelan.
"Eh... Jadi selama ini kau membawa senjata ke sekolah?" kata Wendy, Febby dan Nisa bersamaan.
"Sutt..." sebisa mungkin Julia meminta teman-temannya mengecilkan suara mereka. "Aku juga lupa kalau aku baru melengkapi Pippo dengan senjata."
"Hei kalian berempat! Ayok makan siang!" panggil Marjorie yang sudah berdiri di tepi sungai.
"Iya," jawab mereka berempat secara bersamaan.
Menu makan siang mereka hari ini adalah ikan salmon bakar khas chef Kety. Aroma dari ikan bakar hasil pancingan yang dipadu dengan bumbu racikan buatan Kety sendiri sungguh menggugah selera. Aromanya saja sudah selezat ini, bagaimana rasanya? Sudah pasti sangat enak. Tidak jauh kalah dengan masakan dari koki ahli. Makan di pinggiran sungai di bawah pohon yang rindam menjadi pengalaman baru bagi sebagian dari mereka. Selesai makan siang, mereka berkeliling disekitaran untuk menghabiskan waktu sebelum kembali ke penginapan. Hari ini tidak boleh disia-siakan setiap menitnya. Samuel dan Feli memperbolehkan mereka semua menjelajahi sekitaran air terjun namun jangan terlalu jauh.
Julius mengambil kesempatan ini untuk memberanikan diri menyatakan perasaannya. Disaat lengah, ia menarik Marjorie diam-diam menjauh. Julius mengajaknya ke suatu tempat yang baru saja ia temukan setelah berkeliling tadi. Marjorie sempat bertanya kepada Julius kemana dia membawanya pergi. Namun Julius cuman tersenyum. Tepat dibalik hutan tersembunyi hamparan ilalang yang dipenuhi berbagai jenis bunga rumput berbagai warna. Ada yang kuning, merah, ungu, putih dan biru dihamparan warna hijau. Marjorie dibuat takjub dengan pemandangan tersebut. Sinar matahari begitu hangat tersapu angin yang berhebus kencang menggoyangkan rerumputan.
"Apa kau menyukainya?" bisik Julius di telinga Marjorie.
"Iya," jawab Marjorie sambil menoleh.
Marjorie seketika terdiam begitu mendapati wajah Julius sangat dekat dengan wajahnya. Mata biru menawan itu menatap dalam matanya membuat Marjorie tidak bisa berkedip karnanya. Jantungnya berdegup kencang namun berirama. Seketika Marjorie menjadi gugup. Ia mendorong tubuh Julius sedikit menjauh sambil memalingkan muka. Ia takut Julius akan menyadari kegugupannya ini.
"Bi, bisa kau menjauh sedikit dariku? Sedikit panas disini."
Bukannya menjauhkan dirinya, Julius malah merangkul pinggang Marjorie dan menariknya sampai tubuh mereka bersentuhan. Marjorie tersentak kaget, jantungnya semakin berdegup kencang dengan wajahnya sudah seperti tomat.
"Ju-Julius..."
"Di hari pertama kali aku melihat wajahmu, sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya," dengan lembut Julius mengangkat dagu Marjorie agar mata mereka bertemu. "Wajah yang manis dengan tatapan tajam itu. Hm... Tapi dulu kau masih imut. Sungguh mengemaskan."
"Se, sebaiknya kita kembali. Mereka pasti mencari kita," Marjorie mencoba mengalihkan perhatian. Suasana ini semakin menimbulkan perasaan aneh yang belum perna ia rasakan.
"Mereka masih sibuk bersenang-senang. Aku mohon sebentar saja. Ada yang ingin aku katakan padamu. Mumpung hanya ada kita berdua disini."
"Apa yang ingin kau katakan?"
Julius meraih tangan kanan Marjorie lalu meletakannya di dada kirinya. "Apa yang kau rasakan?"
"Detak jantungmu," jawab Marjorie begitu merasakan suara detak jantung di bawah telapak tangannya.
"Aku tebak detak jantung mu sekarang sama kecangnya, bukan?"
__ADS_1
"Itu..." Marjorie menarik tangannya lalu meletakan di dadanya sendiri. Memang benar kalau detak jantung mereka seirama.
"Apa kau mengerti semua ini?"
"Em... Tidak. Aku sama sekali tidak mengerti. Perasaan ini aneh sekali dan sangat mengganggu."
"Aku juga berpikir demikian. Sampai aku menyadari kalau perasaan itu timbul disaat aku melihatmu, ada di dekatmu dan bahkan cuman memikirkan mu saja perasaan tersebut bergejolak dalam diriku. Menurutmu perasaan apa itu?"
"Cinta. Hmph!" tanpa sadar kata itu meluncur keluar dari bibi Marjorie. Dengan panik ia segera menutup mulutnya.
Julius memasang senyum hangat. "Ternyata kau lebih mengerti dari aku. Baiklah jika berkata demikian."
Julius menjauhkan tangan Marjorie dari bibirnya, kemudian tanpa aba-aba dan tidak diduga oleh Marjorie, Julius tiba-tiba mengucup bibi Marjorie dengan tekanan panas. Marjorie sangat terkejut. Ia tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Ia mencoba mendorong tubuh Julius namun Julius malah semakin mendekapnya. Nafas Marjorie mulai menipis akibat ciuman tersebut. Usaha terakhir yang ia lakukan adalah menggigit ujung bibir Julius. Karna hal itu membuat Julius melonggarkan pelukannya. Marjorie mengambil kesempatan ini mendorong Julius menjauh.
"Kau... Kau menciumku," dengan tatapan tak percaya, Marjorie menutup bibirnya menggunakan punggung tangannya.
Seperti tidak merasa bersalah, Julius menjilati darah di ujung bibirnya menggunakan lidahnya. "Aku ingin lagi."
"Jika kau berani melakukannya lagi aku akan memukulmu!" dengan geram Marjorie mengepalkan tangannya.
"Kalau aku mau lagi, kau tidak bisa menolak."
Julius berjalan pelan mendekati Marjorie dengan seringai jahat di wajahnya. Marjorie mengayunkan pukulannya tapi dengan mudahnya Julius menangkisnya lalu mencengkram kedua tangan Marjorie. Hal itu membuat Marjorie tidak bisa berbuat apa-apa. Ia cuman memejamkan matanya disaat Julius perlahan mendekatkan wajahnya. Hembusan nafas hangat Julius semakin menimbulkan perasaan tidak nyaman.
"AAH... Dasar kau Julius! Kau mempermainkan aku!"
Dengan kesal Marjorie memukul-mukul Julius. Pikiran Marjorie sudah kemana-mana akibat perbuatan Julius barusan. Namun kekesalannya seketika hilang saat satu kecupan tiba-tiba mendarat sekali di dahinya. Lagi-lagi Marjorie dibuat tidak bisa berkutik dan berkata-kata.
"I love you, Marjorie."
Marjorie hanya terpaku diam, menatap Julius seperti patung. Bibirnya kaku tak mampu mengucapkan kata-kata. Mendengar satu kalimat yang keluar dari mulut Julius sungguh membuat dunia ini serasa berhenti berputar untuk sesaat.
"Mau kah kau menjadi pancarku?"
"Iya," akhirnya kata itulah yang keluar dari bibir Marjorie walau tanpa suara.
"Kyaaaah....... Kakak sangat berani!" teriak Julia membuat Julius dan Marjorie terkejut. Sendari tadi ternyata dia mengintip mereka berdua dari balik pohon. Dan yang menjengkelkan adalah dia tidak sendirian.
"Julia! Kau mengacaukan adegan yang paling penting," ujar Wendy sedikit kesal.
"Maaf. Aku terlalu senang dan tidak bisa menahan diri."
__ADS_1
"Itu baru keponakanku," kata Samuel yang juga ikut mengintip bersama Feli disebelahnya.
"Pria dingin dan populer sekolah kita ternyata sudah mendapatkan tambatan hati," kata Jeffri sambil mengeluarkan kepalanya dari tempat persembunyiannya.
"Iya. Pantas saja dia sama sekali tidak melirik semua siswi cantik di sekolah. Ini alasannya, toh," sambung Carl.
"Rupa-rupanya Julius bisa romantis juga," ujar Alwen yang bersembunyi di tempat sama dengan Yusra dan Sean.
"Julius memang hebat. Aku harus belajar banyak darinya agar Nisa-ku mau menerima lamaranku," kata Chris sambil melirik Nisa yang ternyata telah kabur. "Nisa! Tunggu aku!"
"AAH.... Menjauh lah dariku. Aku sama sekali belum ingin bertunangan!" teriak Nisa sambil terus berlari.
"Tapi pertunangan ini sudah disepakati oleh ibumu. Ayok lah Nisa, terimalah cincin warisan turun-temurun keluarga Fliedle," Chris bergegas mengejar Nisa.
"Dasar Chris. Cara itu tidak akan berhasil jika ingin mengejar gadis pemalu."
Disaat pandangan mereka teralihkan pada Chris dan Nisa, entah mengapa cuaca yang terik itu berubah begitu dingin dan membuat bulu kuduk mereka merinding. Hawa dingin menusuk itu berasal dari aura Julius.
"Kalian.... Sudah berapa lama kalian semua ada disana?" dengan tatapan tajam Julius arahkan pada mereka.
"Ju-Julius... Kami tidak bermaksud mengganggu kalian. Semua ini ide..."
Baru saja melirik, Si pelaku utama ternyata telah lari menyelamatkan diri amukan badai.
"Julia.......!!!"
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...ξκύαε...
__ADS_1
...TAMAT...