Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Hajar mereka!


__ADS_3

"Maaf, maafkan saya," kata Lina sambil menunduk.


"Kau gadis yang berani sekali ya, tapi aku akan memaafkanmu jika kau ikut bersama kami," kata pria itu menggoda sambil hendak menyentuh dagu Lina.


Lina dengan cepat menepis tangan pria tersebut. "Maaf tuan, lebih baik anda jangan macam-macam dengan saya."


"Kau mengancam ku?" pria tersebut berhasil menahan tangan Lina. "Ini pertama kalinya ada seorang gadis menolakku dan mala berbalik mengancamku. Jangan jual mahal begitu. Aku pasti membuatmu sangat bahagia dan juga apapun yang kau minta aku pasti bisa membelikannya untukmu. Barang-barang mewah, perhiasan sampai kendaraan aku berikan untukmu jika kau ikut bersamaku malam ini."


"Maaf tuan, tawaranmu tidak menggiurkan," kata Lina dengan tatapan sinis.


"Apa?! Hei, nona! Memangnya seberapa tinggi bayaranmu itu? Aku yakin kau itu cuman gadis penghibur rendahan. Sebutkan saja jumlahnya, aku bisa membayarnya dua kali lipat!" pria itu semakin mencengkram kuat pergelangan tangan Lina.


"Lepaskan aku!" bentak Lina sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria tersebut.


"Kau tidak akan bisa pergi dariku. Jika aku menginginkan mu maka itu lah yang akan terjadi."


"Kau pria brengsek, jauhkan tangan kotormu itu dari menantu ku!!"


Satu tendangan mendarat di wajah pria itu yang membuatnya tersungkur ke lantai. Lina cukup terkejut dengan apa yang baru saja terjadi di depannya. Ia tidak perna berpikir kalau ibu Daniel akan menendang pria tersebut dengan sangat kejam. Dimana tingkah anak-anak mu tadi Ny. Flors?


"Anda baik-baik saja nona Lina?" tanya Judy yang juga datang bersama Emma. Lina cuman mengangguk sebagai jawaban.


"Siapa yang berani menendang wajahku?!!" bentak Pria itu sambil melirik tajam pada Briety. Dua orang disampingnya segera membantunya berdiri. "Apa kalian tahu siapa aku? Aku adalah Zaym, putra ketiga dari keluarga Edner. Salah satu keluarga paling berpengaruh di ibu kota ini."


"Oh... Aku kenal dirimu. Kau adalah bocah ingusan yang dulu suka lari-lari keliling rumah hanya dengan menggunakan ****** ***** saja. Ternyata kau sudah tumbuh besar dan menjadi pria bajingan rupanya," kata Briety dengan tatapan tajam di arahkan pada Zaym.


"Apa?! Si, siapa kau?" kata Zaym dengan wajah merah karna malu aib nya dibongkar di depan umum. "Be, berani sekali kau mempermalukan. Kalian semua tangkap mereka!!" perintah Zaym pada beberapa anak buahnya yang muncul dari berbagai sisi.


"Kalian sungguh bukanlah seorang pria, beraninya hanya pada wanita saja. Tapi tidak mengapa. Kalian belum mengenal kami yang sebenarnya. Emma! Judy! Sudah berapa lama kalian berdua tidak olahraga? Mau kah kalian sedikit meregangkan otot-otot kalian bermain dengan mereka?"

__ADS_1


"Dengan senang hati Ny. Flors," jawab mereka hampir bersamaan. Mereka berdua maju sambil menggeretakan jari-jari manis mereka.


"Hm! Apa yang bisa dilakukan dua gadis pelayan seperti kalian ini? Jumlah kami jauh lebih banyak dari pada kal..."


Belum selesai salah satu anak buah bicara Judy sudah menonjok wajah pria tersebut dengan sangat keras sampai satu giginya patah. Semua anak buah Zaym terkejut melihat itu termasuk Zaym sendiri.


"Aku paling benci pria yang banyak bicara omong kosong."


"Hajar mereka!!"


Segerombolan pria yang mengepung mereka dan mulai menyerang. Dengan sigap Emma dan Judy menyerang balik. Sudah lama mereka berdua tidak menggunakan kekuatan mereka untuk bertarung. Sejak tinggal di rumah Daniel mereka hanya terlibat dengan pekerjaan rumah. Dan saat ini mereka meluapkan keinginan mereka untuk memukul seseorang. Kebetulan sekali ada orang bodoh yang minta dihajar. Tidak rugi juga mereka ikut keluar hari ini. Sebagai seseorang yang telah dilatih menjadi pembunuh bayaran secara ketat sejak kecil, bagi Emma dan Judy melawan para pengawal biasa ini sangatlah mudah mau berapapun jumlah mereka. Lebih enak lagi kalau menggunakan senjata dan mereka diperbolehkan membunuh lawannya, pasti mereka lebih cepat membereskan orang-orang ini.


Briety telah menarik Lina menjauh dari pertarungan sengit itu. Untuk pertama kalinya Lina melihat Emma dan Judy dalam mode bertarung. Mereka terlihat sangat keren, begitu lincah dan gesit memukul, menendang, menangkis dan menghindari serangan lawan kemudian menyerang mereka balik. Zaym tercengang dan kini merasa ketakutan melihat dua gadis pelayan tersebut dapat dengan mudahnya mengalahkan seluruh anak buahnya. Dia hendak melarikan diri namun botol merica sudah mendarat di wajahnya.


"Mau mencoba kabur? Jangan harap!!"


"Apa yang mau kalian lakukan padaku? Menjauh lah dariku atau aku akan memanggil petugas keamanan!!" acaman Zaym yang telah terpojok.


Briety menyuruh Emma dan Judy untuk menahan Zaym agar tidak kabur. Dipaksaknya Zaym bersujud sampai kepalanya membentur lantai di depan Lina.


"Minta maaf pada menantu ku atau keluargamu bianasa," ancam Briety pada Zaym sambil menginjak tangan Zaym dengan sangat kuat.


"AAAAAH ! ! ! Baik, baik. Saya minta maaf!"


"Kurang tulus," Briety semakin menginjak tangan Zaym.


"ARGH.......! Saya, saya minta maaf pada nona. Maafkan saya yang tidak memiliki mata yang baik. Saya telah menyingung nona. Mohon maafkan saya. Saya janji tidak akan mengulangi nya lagi."


"Bagaimana sayang? Apa kau mau memaafkan orang ini.," tanya Briety pada Lina.

__ADS_1


"Aku terima maaf mu kali ini tapi aku harap tidak perna terulang kembali. Kalau tidak..." Lina berjongkok di depan Zaym alu berbisik. "Kau akan menjadi teman mainku," Lina berdiri kemudian berbalik. "Ayok pergi ibu."


"Baiklah sayangku. Mari kita rileskan tubuh kita di tempat spa,"


Dengan riang kembali seperti semula Briety menggandeng tangan Lina ke tempat yang mereka ingin kunjungi. Emma dan Judy mengikuti mereka dari belakang meninggalkan Zaym yang masih merintih kesakitan akibat tulang jarinya yang patah dan kekacawan yang telah mereka perbuat.


Sampai di tempat spa, mereka segera disambut dengan ramah oleh beberapa pegawai yang ada disana. Lina dan Briety dituntun ke ruang spa. Setelah ganti baju mereka mulai melakukan pijatan. Briety benar, dipijat seperti ini sangat membuat nyaman dan juga merileskan tubuh dan pikiran. Rasanya semua kelelahan tadi hilang seketika.


"Bagaimana? Merasa nyaman, bukan?"


"Iya."


"Jangan sungkan-sungkan padaku. Jika kau mau kesini lagi, aku akan senang hati menemanimu."


"Terima kasih."


"Sudah kewajibanku sebagai ibu mertuamu. Di kondisimu saat ini dukungan dari seorang ibu sangat di perlukan. Aku sudah dengar tentang Ramona mu. Aku turut berduka cita atas kehilangan orang yang kau sayang, tapi kau jangan sedih. Kami ada untukmu. Kau kini bagian dari keluarga Flors."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2