Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Alasannya


__ADS_3

Violet tidak bisa berbuat apa-apa disaat puluhan peluruh menghujani di sekitarnya. "Sial! Tidak aku sangka ternyata Lina merencana membunuhku," batin Violet. Ia juga ikut terkena dampak dari gas beracun itu.


Kini yang tersisa cuman Stevan dan Violet di bawah sana. Lina turun ke bawah bersama Emma dan Judy begitu asap itu perlahan menipis.


"Kau gadis yang licik, tapi bodoh. Kau dengan santai nya mala turun disaat asap beracun ini menyebar di udara," kata Stevan yang sudah terduduk lemas di lantai. Ia mencengkram kuat tangannya kanannya yang terluka akibat tembakan dari Judy. Hal itu menyebabkan senjata yang dipegang Stevan telempar jauh.


"Kau pikir aku bodah? Aku pikir otakmu itu yang tidak jalan. Kau tidak bisa menggunakan racun pada sang pembuatnya. Racun ini sama sekali tidak mempan padaku," Lina menerima liontinya yang dipungut Emma di lantai dan langsung mengenakannya.


"Aku sungguh meremehkan putri dari Ariana. Dirimu ini lah yang pantas memang sebagai keturunan dari keluarga tersembunyi."


"Aku tidak peduli dengan keluarga tersembunyi. Kalian tidak pantas disebut keluarga. Aku cuman ingin tahu kenapa kau membunuh ibuku dan juga melakukan percobaan membunuhku 17 tahun yang lalu?" Lina mengacukan pistol nya ke Stevan.


"Bukankah sudah jelas. Aku menginginkan kekayaan rumah lelang yang tak terhingga."


"Aku rasa bukan itu saja tujuanmu. Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya? Apa semua ini ada kaitannya dengan jabatan sebagai kepalah keluarga tersembunyi?"


"Ternyata kalian yang mengutak-atik komputer ku."


"Sudah terlambat untuk menyadarinya sekarang."


"Kau benar. Aku menginginkan kekayaan rumah lelang untuk membantuku menjadi kepalah keluarga tersembunyi. Dengan mengandalkan seluruh kekayaan rumah lelang yang ada, aku bisa melakukan apapun untuk dapat memperebutkan posisi tersebut."


"Bukankah kau sudah menjadi Kandindat terkuat? Kenapa kau masih menginginkan Token rumah lelang? Kau tega membunuh saudarahmu sendiri. Kau memang serakah Tn. Stevan!!"


"Serakah? Di dunia bawah tanah ini hanya ada yang terkuat. Yang lemah hanya akan menjadi batu loncat!"


Bugk!


Hataman senjata mendarat keras di kepala Stevan. Bukan tembakan tapi melainkan pukulan. Stevan tersungkur ke lantai dengan darah mengalir dari kepalanya.


Lina menekan kepala Stevan menggunakan sepatunya. "Kalau begitu aku lah yang terkuat sekarang."


Violet benar-benar tidak percaya atas apa yang Lina lakukan. Orang yang paling ditakutinya kini tersungkur tidak berdaya di hadapan gadis yang dulunya diremehkan nya. Apa dia masih Lina yang ia kenal? Tidak. Tatapan mata itu dan aura yang terpancar dengan tekanan kuat. Siapa pun yang berhadapan dengannya sekarang pasti gemetar ketakutan, termasuk diri Violet saat ini.


Tapi dari semua itu, Violet masih tidak percaya kalau dirinya bukanlah putri kandung dari ayah dan ibu yang dikenalnya selama ini. Tidak. Ia tidak mau mempercayainya. Apa lagi setelah tahu kalau ternyata Lina adalah putri kandung dari Ariana.


"Bagaimana bisa ini terjadi? Apa benar aku bukanlah putri keluarga Cershom? Dari percakapan mereka jujur saja aku tidak tahu semua itu. Apa yang sebenarnya terjadi 17 tahun lalu? Aku cuman tahu kalau saat itu ibu meninggal dunia akibat kecelakaan. Dan, apa maksudnya memperebutkan posisi kepalah keluarga tersembunyi? Apa ibu bagian dari keluarga tersembunyi? AAAA ! ! ! Semua ini membuatku gila!! Tolong seseorang jelaskan semuanya padaku!!!" Violet benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Semuanya terlalu cepat dan tiba-tiba. Ia butuh waktu untuk memahaminya.


Lina melirik Violet dengan senyuman. Ia tahu betul kekacawan dalam otak Violet. Lina tidak mau mengusik Violet dulu untuk sementara. Biarlah dia mencerna semuanya perlahan-lahan. Yang terpenting berurusan dengan Stevan dulu.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau masuk ke markas ku? Penjanganan di markas ini sangat ketat. Ada lebih dari 200 orang bersenjata disetiap sudut markas bawah tanah ini. Sangat tidak mungkin untuk ketiga wanita terutama kau bisa menerobos begitu saja."


"Baru sekarang kau mempertanyakan ini? Ya sudah aku akan cerita," Lina berbalik mengambil tempat duduk dimana Stevan duduk sebelumnya.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Mobil Daniel berhenti sebuah bukit yang berjarak 500 meter dari sebuah gedung yang menjadi markas utama target mereka. Hari telah tampak senja. Sinar mentari sudah tidak menyinari gedung itu lagi. Beberapa lampu redup menjadi penerang disekitar bangunan satu lantai tersebut. Dilihat dari teropong, para penjaga lalu-lalang dengan membawa senjata laras panjang di tangan mereka.


"Itu markasnya?" tanya Lina.


"Kecil sekali," kata Via.


"Menurut informasi dari mata-mata, markas tersebut berpusat di bawah tanah," jelas Daniel.


Ting...!


Satu pesan masuk ke leptop Via.


"Tn. Cershom baru mengirikan sesuatu," Via membuka file kiriman dari Ducan. "Ini dena markas itu," Via memperlihatkan dena itu pada semua.


"Ternyata bagian ruangan di bawah tanah itu sangat luas," kata Briety begitu melihat dena bangunan tersebut.


"Anak buah Tn. Cershom sudah mengurusnya. Mereka telah berjaga disana."


"Sekarang ayah ada dimana?" tanya Lina pada Daniel.


"Tanyakan saja padanya sendiri," Daniel menyerahkan sebuah Handsfree pada Lina.


Lina menerimanya lalu menyematkan Handsfree itu di telinganya. "Hallo Ayah."


"Lina. Kalian sudah sampai?"


"Iya. Ayah ada dimana?"


"Ayah ada di bagian 217° barat daya, 200 meter dari markas. Kami siap-siap menyusup."


"Ayah sudah siap menyerang," kata Lina pada yang lain.


"Mungkin kita juga harus bersiap-siap. Aku sudah mendapat kabar dari para sniper di 139° tenggara dan 314° barat laut sudah beraksi."

__ADS_1


"Wow... Para sniper itu sangat hebat. Satu persatu penjaga itu jatuh. Ayah pasti sudah membawa anggotanya untuk menyerang," kata Lina yang kembali melihat melalui teropong.


"Itu sudah pasti," Daniel ikut melihat melalui teropong.


"Kalau begitu, ayok mulai beraksi. Judy, Emma kalian siap?" tanya Lina pada mereka yang ada dibelakangnya.


"Selalu siap nona Lina," jawab mereka serempak.


"Mereka dua gadis hebat," puji Rayner.


"Suatu kehormatan kami dapat beraksi kembali bersamamu Tn. Flors," kata Emma.


"Aku bukan tuan kalian lagi. Aku sudah menyerahkan kalian pada Daniel."


"Aku juga bukan tuan kalian. Bukankah kalian berdua lebih dekat dengan nona kalian?" ujar Daniel.


"Tidak tidak, aku cuman menganggap kalian berdua sebagai teman, sahabatku," kata Lina juga menolak.


"Jadi kami milik siapa dong?" tanya Judy dengan raut wajah murung.


"Bahkan nona Lina saja tidak menginginkan kami," Emma juga sama murungnya.


"Kalian bukanlah milik siapa-siapa. Diri kalian milik kalian sendiri. Kalian tidak mungkin terus bersama kami. Kalian memiliki kehidupan masing-masing. Bukannya aku tidak menginginkan kalian," jelas Lina agar Emma dan Judy tidak murung lagi.


"Tidak. Kami masih mau tetap mengabdikan diri pada nona selamanya."


"Hei, Suatu hari nanti kalian pasti akan menemukan cinta kalian, menikah dan membentuk keluarga kalian sendiri. Perjalanan hidup ini masih panjang."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2