
"Wah... Lihat siapa itu?"
"Tampan sekali."
"Kelihatannya sedang menunggu seseorang."
"Apa menunggu pacarnya?"
"Beruntung sekali kalau memiliki pacar setampan dia."
"Aku juga mau."
"Siapa gerangan gadis yang beruntung itu?"
"Aaa... Pria dingin adalah tipeku."
"Tapi aura pria itu menakutkan."
Bisik setiap mahasiswi setiap melihat Daniel. Iya, Daniel. Ia sudah berdiri hampir dua jam di luar universitas tempat Lina kuliah. Dua anak buahnya telah berulang kali membujuk bos mereka untuk menunggu gadis itu di dalam mobil saja. Cuaca diluar sangat panas, tapi berulang kali Daniel menolak dengan ekspresi menyeramkan. Mereka jadi takut dan tak berani berbicara lagi. Dari pada kehilangan nyawa lebih baik diam seribuh bahasa. Entah apa yang dipikirkan bos mereka itu membuat mereka bingung.
"Daniel?! Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sedang menungguku?" Violet bergegas menghampiri begitu ia melihat Daniel.
"Pergi dari hadapanku!" kata Daniel menatap tajam Violet.
"Apa maksud tatapanmu itu? Aku ini tunanganmu," Violet seketika merangkul tangan Daniel sambil menyadarkan buah dadanya mencoba menggoda dengan ekspresi manja.
Melihat itu membuat Daniel merasa jijik. "Kalian berdua seret nona Cershom dan lempar ia ke tempat sampah!"
"Baik," jawab dua anak buahnya. Mereka langsung menarik Violet menjauh dari Daniel.
"Apa-apa ini Daniel? Beginikah caramu memperlakukan tunanganmu? Apa karna gadis miskin itu? Apa yang kau suka darinya? Ia itu cuman gadis kampungan!!" caci Violet sambil memberontok melepaskan diri. "Kalian pengawal rendahan lepaskan tangan kalian dariku!! Daniel! Daniel!"
"Cepat bawa dia pergi! Sungguh berisik sekali."
Dua anak buahnya itu segera membawa Violet pergi mengikuti perintah bos mereka melempar Violet ke tempat sampah. Mereka tidak memperdulikan Violet yang terus mengancam atas nama keluarganya. Yang mereka tahu cuman menjalankan perintah bos mereka. Sementara itu Daniel sudah tidak tahan lagi menunggu. Ingin dia menghancurkan universitas ini dan menyeret Lina keluar.
"Kemana perginya itu si kucing? Jika aku bertemu dengannya nanti akan kuberi hukuman berat!!! Berani sekali dia membuatku menunggu lama disini!" gerutu Daniel dalam diam sampai pandangan matanya tertujuh pada pintu gerbang.
__ADS_1
Terlihat Lina sedang menunggu angkutan umum di halte bus disebrang jalan. Lina lupa kalau pagi tadi dia diantar oleh anak buak Daniel dan berjanji harus pulang kembali ke rumah Daniel. Seperti biasa jika ia tidak membawa sepeda Lina akan menggunakan angkutan umum untuk sampai di kosan nya. Tapi kali ini ia benar-benar lupa dan tidak tahu kalau Daniel khusus datang menjemputnya. Tamat sudah riwayat Lina.
"Apa yang ia lakukan disana? Mencoba kabur dariku? Jangan harap!" Daniel bergegas menghampiri Lina yang ada disebrang sana lalu menarik tangan Lina ke atas. "Mau mencoba kabur dariku?"
"Kau?! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Lina yang terkejut atas kehadiran Daniel.
"Apa yang aku lakukan disini? Apa kau tahu, aku sudah menunggumu lebih dari dua jam di bawah sinar matahari yang panas ini!"
"Jika panas kenapa tidak beteduh? Tidak ada yang menyuruhmu menungguku," kata Lina dengan alis hampir menyatuh.
"Kau mulai berani lagi ya. Apa kau mau dihukum?" bisik Daniel di telinga Lina. Hal itu membuat Lina merinding.
"Tidak, tidak, aku tahu salah," Lina seketika mendorong Daniel sambil memalingkan muka. "Lebih baik menghindarinya."
"Bagus. Ayok pulang!"
Daniel hendak menarik tangan Lina namun Lina sekuat tenaga menahannya.
"Pulang? Aku tidak mau pulang denganmu!"
Lina tersentak begitu mengingatnya. "Ak, aku... Bukan maksudku begitu. Aku harus kembali ke kosan ku untuk mengambil sesuatu."
"Kau tidak memerlukan barang bututmu itu lagi. Aku sudah belikan semua yang diperlukan setiap gadis untukmu."
"Tapi yang ini beda. Itu adalah harta karun ku," ujar Lina bersikeras ingin mengambil barang tersebut.
"Biar Qazi yang mengambilnya."
"Tidak bisa. Ia tidak akan dapat menemukannya. Barang itu tersimpan di tempat rahasia."
"Tinggal beritahu saja dia dimana kau menyembunyikannya! Apa susahnya itu?!!"
"Aku takut dia akan merusaknya! Jika tidak hati-hati membawa barang tersebut, ia bisa mati!!"
"Mati? Memang benda apa itu?" pikir Daniel penasaran. "Aah... Sungguh merepotkan! Biar aku menemanimu mengambilnya."
"Tidak perlu. Aku sendiri saja bisa mengambilnya."
__ADS_1
"Mau mengambilnya atau tidak?" tatap tajam Daniel yang seketika membuat Lina takut.
Sampai di kosan, semuanya masih seperti pertama kali Lina meninggalkannya. Penggunaan mobil untuk berpergian memang sangat menghemat waktu. Kurang dari lima belas menit mereka telah sampai tujuan. Tidak seperti Lina yang harus bersepeda hampir sejam baru sampai ke kosan nya. Selain mengambil hpnya yang masih tergeletak di kasur, Lina membongkar lemari nya untuk mengambil harta karun yang ia maksud. Benda itu tersimpan dalam laci lemari yang cukup tersembunyi di bawah tumpukan bajunya. Sebuah kotak kayu gelap berukuran 40×40 cm dengan tinggi 10 cm. Lina meletakan kotak itu di atas meja secara hati-bati. Ia sepertinya tidak mau merusak apa yang ada di dalamnya.
"Ini dia kesayanganku."
"Jadi ini benda yang kau maksud? Em... Memang cukup berharga, kotak ini terbuat dari kayu Purple Wood yang setidaknya berusia ratusan tahun," kata Daniel membuat Lina menoleh.
Lina tidak menyadari Daniel berdiri tepat dibelakangnya. Hal itu membuat hidung mereka saling bersentuhan sangking dekatnya wajah mereka. Selang beberapa detik Lina mematung lalu dengan cepat menoleh kembali dengan wajah merona. Daniel hanya tersenyum kecil.
"Da, dari mana kau tahu?" tanya Lina yang seketika gugup.
"Itu muda. Ciri umum dari kayu Purple Wood adalah warna ungu diataran warna coklat tua ini. Kau bisa melihatnya dengan jelas," tunjuk Daniel garis berwarna ungu yang ada pada tutup kotak tersebut.
"Aku tidak peduli mau jenis kayu apa ini dan seberapa antiknya ia. Yang paling penting adalah isinya."
"Kau sama sekali tidak tahu apa-apa. Purple Wood adalah jenis kayu paling mahal di dunia, apalagi kotak ini sudah berumur ratusan tahun. Jika dilelang setidaknya bisa mencapai ratusan ribu dolar bahkan bisa lebih."
"Hah, maupun sejuta dolarpun tetap tidak dapat menandingi isinya. Semua yang ada di dalam ini tidak ternilai harganya," ujar Lina dengan sombong.
"Memang apa isinya? Biar aku sendiri menilai seberapa berharganya itu."
"Baik. Tapi setelah melihatnya jangan memohon meminta satupun apa yang ada di dalamnya ya, karna aku tidak akan memberikannya padamu."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1