
Lina lekas berlari menuju dapur sambil berteriak memanggil Ramona, karna dapur adalah salah satu tempat favorit Ramona di rumah ini. Ia tidak menemukannya disana. Lina bergegas mencari ke kamar Ramona yang bersebelahan dengan dapur. Betapa terkejutnya ia mendapati tubuh orang yang sangat disayanginya telah tidak bernyawa di atas tempat tidur dengan pisau yang masih menancap tepat di jantungnya.
"RAMONA ! ! !"
Teriak Lina histeris. Kakinya tiba-tibas lemas begitu melihat itu. Ia terduduk di depan pintu sambil menangis terseduh-seduh. Daniel seketika menarik Lina dan didekapnya dalam pelukannya. Daniel mengeluarkan hpnya dari saku jas. Ia mencari nomor telpon lalu menghubungi seseorang.
"Qazi, segera datang kemari! Ajak 3-5 orang bersamamu. Cepatlah!" Daniel memutuskan telponnya setelah mendapat jawaban. "Kita keluar dulu dari sini. Jangan khawatir, aku akan membantumu mencari tahu siapa yang telah melakukan ini pada Ramona mu," bujuk Daniel menenangkan Lina.
"Huaaaaa..........aah...... Daniel. Katakan ini cuman mimpi. Aku masih di tempat tidur dan sedang bermimpi, kan? Katakan Daniel. Hiks... Hiks... Ramona tidak mati," tangis Lina dalam pelukan Daniel.
"Sudah, sudah, berhentilah menangis. Kita keluar dulu ya."
Daniel membantu Lina berdiri lalu mengajaknya keluar dari rumah itu. Lina berusaha menenangkan diri dari peristiwa yang dialaminya saat ini. Ia terduduk di teras sambil menatap kosong ke luar. Air matanya telah terkuras habis. Ia benar-benar tidak menyangkah akan kehilangan Ramona hari ini dan dalam keadaan mengenaskan. Siapa yang telah berani melakukan ini pada Ramona? Ramona hanya seorang wanita tua yang selalu ramah pada semua orang dan tidak perna jahat pada siapapun. Atau sebenarnya semua ini dituju untuknya sebagai ancaman serta peringatan. Tapi siapa? Kesedihan Lina berubah menjadi dendam. Tidak peduli diapapun itu, ia akan membalas dendam ini 100 kali lipat pada orang yang telah berani menyakiti Ramona.
Satu jam kemudian Qazi datang bersama anggotanya yang berjumlah lima orang. Qazi memasang ekspresi bingung melihat kesunyian disekeliling Daniel dan Lina. Apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Tuan muda," sapa Qazi.
"Kalian segera periksa apa yang terjadi di dalam sana dan cari tahu siapa pelakunya! Aku ingin mereka hidup-hidup," perintah Daniel.
"Baik tuan muda."
Mereka semua langsung menjalankan perintah Daniel tampa mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. 6 jam penyelidikan dan pencarian tersangkang, mereka berhasil menemukan empat orang preman yang diduga kuat sebagai pembunuh Ramona. Empat pria itu segera dibawa kehadapan Daniel dan Lina. Di halaman belakang Lina siap melakukan pengeksekusian.
"Bermainlah kucingku. Balas kan dendam Ramona mu," kata Daniel sambil memberikan cambuk dengan ujungnya terdapat besi runcing dan tajam.
"Dengan senang hati," jawab Lina ketika menerima cambuk tersebut.
"Berhati-hatilah. Ingat, kau dalam masa mengandung. Jangan terlalu kelelahan."
"Baik."
Lina berjalan menghampiri keempat pria itu yang keadaan tubuh mereka telah digantung pada dahan pohon.
__ADS_1
"Siapa pemimpin dari kalian berempat?" tanya Lina pada para preman tersebut.
"Apa mau mu gadis kecil?!! Kenapa kalian mengikat kami disini?" bentak salah satu dari mereka yang me memiliki bekas luka di wajahnya.
"Aku akan menganggap kau sebagai pemimpin dari mereka," Lina mengayukan cambuknya dan tepat mengenai pinggang pada pria itu.
"ARGRRH ! !"
"Aku tidak akan banyak basa-basi lagi. Katakan saja apa yang telah kalian perbuat pada Ramona dan kenapa kalian membunuhnya?"
"Ramona? Siapa dia? Kami tidak kenal. Benarkan?" kata Pria itu minta pendapat rekan-rekanya.
'Iya, kami tidak mengenalnya."
Jawab rekannya membenarkan saling bergantian. Tapi lina tidak memperdulikan itu. Ia mala mencabuk mereka semua satu persatu. Darah kini mengalir keluar dari tubuh mereka bersama dengan jeritan mereka. Menjerit lah sepuas-puasnya disini. Tidak akan ada yang mendengar kalian.
"Jangan mencoba menipuku!! Ramona adalah wanita yang tinggal di tempat ini. Wanita yang telah kalian bunuh dengan sangat keji. Kenapa kalian membunuhnya?!!" Lina kembali mencambuk mereka sekuat tenaga.
"Ka, kami tidak membunuh siapapun. Tidak ada bukti kami pelakunya. ARGRRH.....!"
"Ampun! Ampuni kami! Okey, aku akan memberitahukannya padamu," teriak pria itu memohon ampun.
Lina menghentikan cambukannya. "Katakan!"
"Baiklah. Ada, ada seseorang yang meminta kami membunuh wanita itu. Kami tidak tahu siapa dia, tapi ia memberi kami uang yang sangat banyak. Karna tergiur dengan uang itu, tampa pikir panjang kami langsung menjalankan perintahnya. Ia tidak perna memberitahu tujuan mengapa ia menginginkan kematian wanita tersebut dan kamipun tidak mempertanyakan nya. Hanya itu yang kami tahu. Mohon lepaskan kami," jelas pria tersebut.
"Mohon lepaskan kami."
"Mohon lepaskan kami."
"Mohon lepaskan kami."
"Kami cuman preman kecil yang mencari nafkah."
__ADS_1
"Kalian memang sampah yang tidak berguna! Sebelum Ramona, sudah berapa banyak orang yang menderita di tangan kalian?"
"Kami janji tidak akan berani melakukan itu lagi."
"Baiklah. Aku juga sudah lelah. Aku akan melepaskan kalian. Dari kehidupan ini."
Lina menyiramkan bensin ke tubuh para preman itu. Seperti sudah mengerti, Daniel melemparkan pemantik api yang sudah menyala ke arah para preman tersebut. Dengan cepat api menyambar bensin dan berkobar semakin besar membakar keempat pria itu hidup-hidup. Mereka mengeliat sambil berteriak begitu api membakar mereka. Bau khas kulit manusia terbakar menyebar ke seluruh halaman belakang. Lina memberi isyarat ke anak buah Daniel untuk menyiram bensin lagi pada preman tersebut. Selang beberapa menit, kobaran api perlahan-lahan mengecil dengan tubuh dari keempat pria tersebut telah berubah menjadi abu.
"Huaa.........aah...... Ramona... Aku telah membalaskan dendam mu. Aku harap kau tenang di alam saja. Hiks... Hiks..." tangis Lina mengiring kepulan asap di udara. Ia terduduk di tanah dengan Daniel di sampingnya.
"Ramona pasti bangga memiliki putri sepertimu. Berhentilah menangis. Ramona mu akan ikut sedih jika melihatmu terus menangis seperti ini," bujuk Daniel lembut.
"Huaaa....aah... Aku hanya memiliki Ramona saja di dunia ini. Tapi sekarang dia sudah pergii..... Aku tidak punya siapa-siapa lagi...."
"Hei, masih ada aku. Kau tidak sendirian. Di rumah juga ada Emma dan Judy, bukankah kalian telah berteman? Serta... Ingatlah kau masih memiliki dia," Daniel mengusap lembut perut Lina secara memutar.
Lina mengusap air matanya. Setelah itu ia berusaha bangkit dibantu oleh Daniel. Lina berjalan menghampiri makam Romona yang memang telah dimakamkan di halaman belakang rumah tersebut. Lina mengusap batu nisa Ramona yang cuman sebuah batu biasa. Lina telah mengukir nama asli Ramona, tanggal lahir serta tanggal kematian di batu itu dengan tangannya sendiri. Menurut perkiraan Daniel, Ramona telah meninggal sejak 37-38 jam yang lalu. Daniel membiarkan Lina sendirian bersama makam Ramona. Lina butuh waktu untuk merelakan kepergian Ramona untuk selamanya.
"Qazi. Cari tahu siapa yang telah menyuruh preman-preman rendahan itu untuk melakukan semua ini. Aku dia hidup-hidup. Dia harus membayar semua perbuatannya. Berani sekali dia membuat kucingku bersedih."
"Baik. Tuan muda."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε