Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Potongan ingatan terakhir


__ADS_3

Kletar!


Foto tersebut terjatuh dari gegaman tangan Julia yang menyebabkan bingkai kacanya seketika pecah berhamburan disaat tiba-tiba Julia merasakan rasa sakit yang menusuk tajam di kepala. Ia mencengkram kuat kepalanya sambil meringkuk kesakitan. Rasa sakit yang dialaminya kali ini lebih hebat dari biasanya. Sisa dari bayangan ingatannya sebelum kecelakaan itu perlahan-lahan muncul secara keseluruhan. Cahaya menyilaukan yang dilihatnya itu ternyata adalah cahaya dari lampu mobil yang menyorotnya disaat mobil Julia tertabrak. Mobil yang Julia kendalikan tiba-tiba oleng dan berputar di aspal sebelum akhirnya terjun bebas jatuh ke jurang. Dari sepersekian detik silaunya cahaya lampu mobil tersebut Julia dapat melihat dengan jelas siapa yang duduk di depan kemudi mobil dihadapannya. Dia adalah gadis yang ada di foto bersama dengan Julia, teman lamanya. Karna alasan inilah ia mengejar mobil tersebut di malam hari yang tengah hujan deras.


"Stt... Aku... Aku ingat semuanya. Gerda, kau... Kau masih hidup. Kenapa? Kenapa kau menghindar dariku?"


"Julia!" teriak seseorang memanggil Julia sambil mendekatinya.


Dengan susah Julia melirik siapa itu. "Delfa?"


"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali dan kau berkeringat," Delfa hendak membantu Julia berdiri namun Julia masih ingin duduk sebentar.


"Aku baik. Kepalaku cuman sakit sedikit. Apa yang kau lakukan disini? Kau mengikutiku?" tanya Julia dengan nafas begitu berat.


"Aku tidak bermaksud mengikuti. Di sekolah tadi aku tanpa sengaja mendengar percakapan kalian kalau kau ingin mencari Nisa dan Rica. Sebab itu aku mengikutimu sampai kesini."


"Hah? Bukankah kau ini temannya Rica? Lantas kenapa kau malah bersikap baik padaku?"


"Tidak. Tidak lagi. Dia bukan temanku. Sudah cukup selama setahun ini aku mengenalnya. Dia cuman menganggap ku sebagai pelayannya saja. Dan hari ini ia malah merebut paksa mobilku hanya karna mobilnya disita ayahnya sebagai hukuman."


"Jadi kau datang kesini cuman ingin mengambil mobilmu kembali?"


"Iya. Tapi aku tidak mungkin bisa membawa dua mobil sekaligus. Em... Mungkin aku bisa membantumu menyelamatkan Nisa agar aku bisa minta tolong padanya membawakan mobilku kembali," pinta Delfa malu-malu.


"Apa kau bisa dipercaya?"


"AAAH ! ! !"


Percakapan mereka terputus begitu mereka mendengar suara teriakan dari atas, dan suara itu sangat jelas merupakan suara Nisa. Julia berusaha bangkit sambil dibantu Delfa. Mereka bergegas naik ke lantai dua, tempat dimana suara itu berasal. Sampai diruangan yang satu-satunya memiliki pencahayaan di lantai dua, Julia mendapati Nisa dalam keadaan tangan serta kakinya terikat.


"Nisa!" Julia berlari mendekati Nisa bersama Delfa.

__ADS_1


"Julia?!" Nisa terlihat sangat kaget melihat Julia datang menyelamatkannya. Bukanya tidak berterima kasih tapi... "Tidak, Julia! Pergilah dari sini! Ini perangkap!" teriak Nisa memperingatkan. "Awas di belakangmu!"


Belum sempat meminta Julia pergi, Rica tiba-tiba muncul sambil mengayunkan tongkat baseball ke arah Julia. Dengan gerak reflek yang cepat Julia berhasil menghindar.


"Gerakan yang bagus."


"Terima kasih. Aku sering berlatih."


"Lady Blue ternyata benar. Tidak perlu memberimu petunjuk apapun, kau masih dapat dengan cepat menemukan ku disini. Tidak salah aku memilih adik tiriku ini sebagai umpan, kau rela datang sejauh ini demi dia," Rica berjalan mendekati Nisa sambil masih menggegam erat tongkat baseball.


"Lady Blue! Lady Blue! Lady Blue! Apa tidak ada orang lain lagi? Aku sedikit muak mendengarnya! Pertama Yusra yang selalu menyombongkan tentang Lady Blue, sekarang kau lagi."


"Oh, mungkin kau tidak tahu Julia. Sebenarnya Lady Blue ini adalah orang yang dekat denganmu dulu. Hal yang wajar jika ia terus menjadi bayang-bayang dalam hidupmu karna ia ingin menghancurkan mu!"


"Orang yang dekat denganku? Mau menghancurkan ku? Jujur saja aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Aku tidak merasa memiliki musuh."


Julia sungguh merasa tidak perna menyinggung atau menyakiti hati orang lain sama sekali sejauh yang ia tahu. Apa lagi orang yang mampu memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar seperti Lady Blue. Kebanyakan orang-orang yang Julia usili berasal dari kalangan dibawa keluarganya. Itupun merekalah yang duluan mengganggu Julia.


"Jika kau begitu tahu siapa dia, apa kau bisa memintanya datang kesini? Aku ingin sekali melihat wajahnya," kata Julia pada Rica, tapi sendari tadi Julia terus melakukan gerakan-gerakan kecil agar ia dapat mendekati Nisa tanpa dicurigai oleh Rica.


"Aku bukan temanmu lagi! Kembalikan kunci mobilku!" betak Delfa pada Rica namun ia memberi isyarat mata bagi Julia untuk mengambil kesempatan ini mendekati Nisa.


Julia mengangguk sebagai jawaban. Jarak antara Julia dan Nisa saat ini kira-kira tinggal dua meter. Dengan posisi Rica yang membelakangi Nisa semakin mempermudah Julia melangkah ke arah temannya itu.


"Cuman sekedar aku meminjam mobil mu, kau sudah tidak menganggap ku sebagai temanmu lagi. Yang benar saja. Ayok lah, apa tidak ada alasan yang lebih masuk akal?" Rica melipat tangannya di dada sambil memutar mata.


"Aku memang sudah lama tidak menyukaimu! Kau sama sekali tidak menganggap ku sebagai teman. Aku ini lebih mirip seperti pelayan di matamu!"


"Itu cuman perasaanmu saja. Sejak kapan aku memperlakukan mu seperti pelayan? Apa ada aku meminta mu untuk mengambilkan minuman untukku atau barang-barang lainnya? Tidak pernah, kan?"


"Memang tidak perna, tapi kau selalu meluapkan emosimu padaku! Menarik krah bajuku lalu mendorongku! Apa itu yang dilakukan teman pada temannya?"

__ADS_1


Untuk sesaat Rica terdiam. Memang benar ia perna melakukan itu pada Delfa namun karna luapan emosi yang membuatnya tanpa sadar melakukan itu. Berkat cek-cok diantara mereka berdua membuat Julia berhasil mendekati Nisa. Ia mengeluarkan belatinya lalu mencoba memotong tali yang melilit tangan Nisa. Baru terputus satu lilitan, tiba-tiba...


Klontang!


Satu benda yang ada di atas meja seketika terjatuh akibat hembusan angin dari kaca jendela yang pecah. Suara yang terdengar lumayan nyaring sehingga membuat Rica menoleh ke belakang.


"Kau! Kalian pikir bisa kabur?! Tidak akan aku biarkan!!"


Rica hendak menyerang Julia menggunakan tongkat baseball namun dengan cepat Delfa merebut paksa tongkat baseball itu. Aksi tarik-tarikan terjadi beberapa saat. Tapi karna tanaga Rica lebih besar dari Delfa membuat tidak berhasil merebut tongkat tersebut dan malah di dorong jatuh oleh Rica.


"Kau sungguh menjengkelkan, Delfa! Tidak aku sangka ternyata kau lebih memilih menolong mereka dari pada temanmu sendiri. Aku telah salah menilaimu sebagai temanku!" dengan tatapan tajam Rica mengayunkan tongkat baseball itu ke arah Delfa yang telah terduduk di lantai.


"Hentikan ini Rica! Jangan sampai aku bertindak serius padamu!" geram melihat Rica, Julia seketika mengacungkan senjatanya pada Rica.


Mendengar itu membuat Rica menoleh. "He! Kau pikir aku takut dengan pistol mainan itu?"


Dor!


Satu tembakan tidak segan-segan Julia luncurkan dan berakhir membuat lubang di dinding. Hal itu membuat Rica terdiam. Sedikit saja lagi peluru tersebut hampir menembut kepalanya. Tubuhnya seketika mematung dan terdiam seribu bahasa.


"Bagaimana? Masih berpikir kalau ini cuman senjata mainan?" lirikan tajam membunuh terlihat jelas di wajah Julia.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2