Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Hidangan menggoda


__ADS_3

Lina (Violet) menarik tangan Daniel menuju meja dan mengajak duduk. Tepat bersebelahan dengan meja tersebut sudah ada meja beroda dengan beberapa hidangan disana dan sebotol anggur. Daniel mengambil botol anggur itu lalu membaca lebelnya.


"Anggur merah tahun 91."


"Aku sengaja memesannya untukmu. Apa kau suka?"


Daniel mengangguk sambil meletakan botol anggur itu di atas meja. "Tapi kau tidak bisa ikut meminumnya. Itu akan menggangu kesehatan janinmu."


"Tenang saja. Untukku, aku sudah menyiapkan jus blueberry."


Lina (Violet) meraih cangkir yang sudah berisi jus blueberry dan meletakkannya di hadapannya. Kemudian ia meraih botol anggur tersebut, menarik sumbatnya lalu menuangkannya ke dalam cangkir kosong dihadapan Daniel.


"Warnanya hampir sama, bukan?"


"Kau benar," Daniel mengangkat gelas itu sedikit tinggi. "Mari bersulang."


"Bersulang."


Ting!


Suara dari dua cangkir kaca itu ketika bertemu. Lina (Violet) dan Daniel kemudian meneguk minuman mereka.


"Minumlah Daniel, habiskan anggur itu. Ini adalah anggur spesial yang sengaja aku pesan untukmu. Seteguk saja meminumnya, bagi orang-orang biasa akan langsung kehilangan kendali atas tubuhnya. Malam ini kau pasti akan jatuh dalam pelukanku," batin Violet sambil melirik Daniel yang menghabiskan anggur tersebut.


"Wow... Ini sungguh anggur yang nikmat."


"Apa dia sudah mabuk? Seharusnya iya. Dia sudah menghabiskan satu cangkir penuh," Lina (Violet) berdiri dari kursinya berjalan ke belakang Daniel. Ia membelai tubuh Daniel dengan dagunya ia letakan di bahunya. "Apa kau tahu? Ada sesuatu yang lebih nikmat lagi dari pada anggur itu," bisiknya.


"Oh, apa itu?"


Dalam keadaan mabuk, Daniel menoleh pada Lina (Violet), namun Lina (Violet) sudah berlalu pergi duduk di tepi ranjang. Ia menurunkan krah bajunya untuk memperlihatkan belahan buah dadanya yang montok.


"Aku."


"Kau mencoba menggodaku?"


"Kemari lah. Puaskan aku," dengan senyum lebar di wajahnya selebar ia membuka pahanya. Violet semakin menggoda Daniel.


Daniel tersenyum. "Jangan salahkan aku jika aku menerkammu dengan ganas malam ini."


Daniel berdiri. Ia berjalan menuju saklar lampu sambil menanggalkan jasnya. Ditekannya tombol off yang membuat semua lampu dalam kamar tersebut mati. Pencahayaan yang ada cuman cahaya bulan yang lolos dari tirai tipi di jendela kaca. Daniel telah melepas seluruh pakaiannya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Lina (Violet). Dalam kegelapan itu tangan Daniel mulai merabah apa yang ada dibalik helainan kain tipis itu lalu meremasnya.

__ADS_1


"Ah..."


Suara kenikmatan keluar dari mulut Lina (Violet). Mendengar itu membuat Daniel semakin bersemangat. Ia mengedus tekuk Lina (Violet) memberi beberapa kecupan disana dengan tangannya masih memainkan gumpalan kenyal itu secara bergantian. Puas menindihi Lina (Violet), Daniel membalikan tubuh Lina (Violet) dan mulai mengucup punggung Lina (Violet) sampai mengigit kuping nya. Salah satu tangan Daniel kini telah membelai turun sampai ke antara paha Lina (Violet) sampai dua jarinya menyelinap masuk ke area ketat itu.


"AAH!"


Lekingan tak tertahanan itu lolos lagi dari mulut Lina (Violet). Ia menggigit bibir bagian bawahnya begitu Daniel menggerakkan tangannya. Sesekali ia memejamkan mata disaat Daniel mempercepat gerakannya.


"Aah.... Haa... Haa..."


Nafas Lina (Violet) mulai terengah-engah ketika ia mencapai batasnya. Daniel menarik tangannya dan membalikkan Lina (Violet) kembali.


"Lanjut?" tanya Daniel.


"Haa... Tentu saja."


"Jika aku sudah mulai, tidak ada gunanya kau memohon untuk berhenti sampai aku puas."


"Aku terima tantangan itu."


Daniel mengecup bibi Lina (Violet) dengan tekanan panas. Ia membuka paksa mulut Lina (Violet) agar lidah mereka bisa bertemu. Sambil berciuman Daniel mencengkram pinggul Lina (Violet) dan mulai mengarahkan miliknya. Lina (Violet) mencengkram rambut Daniel begitu sesuatu yang besar mencoba masuk. Ia tidak bisa berteriak. Daniel masih menciumnya dengan ganas. Daniel baru melepaskan ciuman mereka setelah beberapa menit berselang.


"Haa... Haa... Oooh... Astaga. Besar sekali. Hmmmph..." racau Lina (Violet).


"AAAAAH ! ! !" pekik Lina (Violet) mengisih kamar tersebut.


Tidak memperdulikan rasa sakit yang dialami Lina (Violet), Daniel mulai menggerak dirinya dengan tempo lambat namun semakin mempercepatnya.


"Ah... Daniel. Ooow.... Iya, percepatlah!" pintanya. Lina (Violet) mulai menikmati permainan Daniel.


"Baiklah."


Mendengar permintaan itu tentunya tidak boleh ditolak. Daniel mempercepat gerakannya. Lina (Violet) hanya bisa mencengkram batal menahan kenikmatan yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


"AH! Astaga kasar sekali. Pelan-pelanlah sedikit sayang. Ooow... Aku tidak akan kemana."


"Kau begitu nikmat sayang. Milikmu sempit sekali."


"Milikmu yang terlalu besar. Ah... Hmmmmph! Oooww.... A, aku mau keluar."


"Tahan sebentar lagi. Aku hampir sampai."

__ADS_1


Namun Lina (Violet) tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Menyadari hal itu, Daniel menghentakkan miliknya bersamaan semburan panas mengisi perut Lina (Violet).


"AAAH ! ! !"


Teriakan Violet kembali mengisi ruangan. Ia terkulai lemas sambil mengatur nafasnya yang tersendat-sendat. Ia meletakan satu tangannya di atas perutnya yang terasa hangat di dalam lalu mengelusnya.


"Haa... Haa... Hu... Banyak sekali. Jika seperti ini aku bisa langsung hamil dalam semalam," batinnya.


"Kita mulai lagi?"


"Hah... Sebenarnya, aku sudah lelah. Bagaimana kalau besok lagi saja?" kata Lina (Violet) dengan nada sedikit memohon.


Daniel memberi senyum jahat. Ia menjatuhkan seluruh berat badannya ke atas tubuh Lina (Violet), lalu berbisik. "Aku sudah bilang sebelumnya. Aku tidak akan berhenti sampai aku puas biarpun kau memohon sekalipun."


Mata Lina (Violet) melebar ketika mendengar itu. Sejujurnya ia tidak sanggup lagi, apalagi permainan Daniel sebenarnya sangat kasar. Didorong dengan begitu kuat dan ditambah dengan ukuran itu membuat Lina (Violet) cepat terkulai. Tapi apalah daya. Daniel sedang dalam pengaruh alkohol sekarang. Ia tidak memiliki rasa belas kasihan.


"Daniel."


Satu bulir air mata mengalir tanpa sadar di ujung mata Lina (Violet). Daniel tidak memperdulikan hal itu. Ia menarik tubuh Lina (Violet) sampai ia terduduk.


"Aaw...!" teriak Lina (Violet) menahan sakit di area bawahnya karna milik Daniel masih di dalam dirinya. "Berhati-hatilah. Apa kau lupa kalau aku sedang hamil? Kau bisa melukai... Bayi kita," kata Lina (Violet) berharap Daniel berbelas kasihan.


"Oh, maafkan aku," Daniel mengelus perut Lina (Violet) yang masih berbalut pakaian itu. "Bagaimana kalau kita berjalan-jalan dulu?" katanya memberi saran.


"Berjalan? Tapi tempat ini gelap."


"Aku akan membimbingmu."


Daniel membantu Lina (Violet) turun dari tempat tidur. Dengan kaki gemetar Lina (Violet) melanglah secara hati-hati dalam kegelapan itu. Daniel membimbingnya dari belakang dengan keadaan masih menyatuh. Baru beberapa langkah berjalan, Lina (Violet) tiba-tiba menabrak sisi lain sofa yang membuat tubuhnya terhimpit antara sofa dan Daniel.


"Aww!" rintih Lina (Violet).


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2