Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Saatnya mengakhiri


__ADS_3

Semua anak buah Daniel terkejut. Belum perna mereka melihat tuan muda mereka itu memasang raut wajah seperti itu untuk seorang gadis. Sungguh momen yang langkah. Jika tidak melihatnya sendiri pasti tidak akan ada yang percaya. Karna memang Daniel merupakan seorang pria yang sangat dingin. Ia tidak perna memasang ekspresi lain kecuali tersenyum jahat pada musuhnya.


"Tidak apa. Aku baik. Aw..."


Lina melepaskan jas dari seragam yang ia kenakan dan memperlihatkan bagian lengannya yang memar.


"Aku terlalu bersemangat tadi sampai lupa kalau sebenarnya lenganku sakit."


"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Daniel dengan aura membunuh seketika menyebar menyelimuti seisi ruangan. Ia benar-benar tidak terima, berani sekali orang tersebut telah membuat lengan cantik kucingnya sampai memar seperti itu.


Lina tidak menjawab. Ia cuman melirik ke si pelaku. Dalam sekejap Daniel segera tahu.


"Kau."


Tampa basa-basi lagi Daniel menginjak tempurung lutut Rylie dengan sangat kuat sampai hancur.


"AAAAAH ! ! ! !" teriak Rylie kesakitan.


"Berani sekali kau melakukan hal ini pada orang ku?!!" tatap tajam Daniel pada Rylie. Ia begitu marah saat ini.


"Orang ku?! Kenapa ia mengucapkannya terdengar sangat berbeda ya?" batin Lina tersentak.


DUG.... DUG...


Jantung Lina tiba-tiba berdetak kencang.


"Ada apa ini? Kenapa jantungku berdebar setelah mendengar itu? Panas sekali. Apa yang terjadi denganku? Perasaan aneh ini sedikit menyiksa," batin Lina.


"Kembalilah ke kursi penonton. Kau tidak boleh naik ke atas panggung acara tanpa seizin dariku. Kau bisa dikeluarkan loh," kata Lina sambil mendorong Daniel kembali ke tempat duduknya. Ia tidak mau Daniel menggangu konsentrasinya bermain.


"Tapi lenganmu terluka. Berhentilah bermain dan obati lukamu dulu," kata Daniel berubah lembut.


"Ini cuman memar sedikit. Beberapa hari juga akan sembuh. Aku janji akan mengunakan tangan kiri saja untuk bermain hari ini," bujuk Lina pada Daniel seperti membujuk anak kecil.

__ADS_1


"Janji ya. Aku tidak mengizinkan mu sampai kau terluka lagi. Siapapun yang berani menggores sedikit saja kulit mu aku pasti akan membunuhnya."


"Sudahlah, berhenti mengoceh. Cepatlah kembali duduk," kata Lina. Entah kenapa setiap kalimat yang Daniel ucapkan menimbulkan perasaan aneh dalam benaknya.


"Aku serius. Biarlah tangan ini berlumuran darah orang lain tapi jangan perna ada setetespun darahmu."


Daniel menggenggam tangan Lina sambil menatap serius. Jantung Lina semakin berdetak kencang dan pipinya merona saat melihat perlakukan lembut Daniel. Lina menarik tangannya lalu segera berbalik dengan wajah malu.


"Aku, aku akan dengan cepat mengakhiri ini. Sepertinya teman mainku sudah hampir mati," Lina bergegas menjauh dari Daniel. Ia tidak mau sampai Daniel tahu apa yang dirasakannya saat ini.


Para bawahan Daniel yang menyaksikan adengan tersebut kembali dibuat sangat terkejut. Mereka semua tercengan melihatnya. Bisa-bisanya tuan muda mereka merubah suasana hatinya secepat membalik buku, dan sikap manja seperti apa itu? Sepertinya tuan muda yang terkenal sadis telah mendapatkan pawang nya.


Lina menghampiri Rylie yang kini tertunduk lemah. Ia berjongkok di depannya lalu kemudian menjabak rambut Rylie sama seperti saat Rylie menarik rambutnya waktu itu. Sesuai janjinya pada Daniel, Lina mengunakan tangan kirinya.


"Kau juga perna menarik rambutku seperti ini, kan? Rasakan lah sendiri."


Lina membenturkan kepala Rylie ke lantai sampai kepalanya mengalirkan darah. Keadaan Rylie saat ini terbaring telentang. Lina menyeret sebuah kapak kemudian langsung saja memotong putus kedua kaki dan kedua tangan Rylie.


"AAAAH............!"


"Aku ingat mau memetik buah, kan? Mari kita lihat apa buah itu sudah matang atau belum?"


Lina mengeluarkan pisau lipat dan segera menggunakan itu untuk menyayat gumpalan lemak yang menghiasi dada Rylie. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Rylie masih berusaha melawan walau itu sia-sia. Lina berhasil memotong itu. Di belahnya buah dada itu untuk melihat isinya.


"Em... Sepertinya belum matang. Bagaimana dengan yang satunya?" Lina tidak lagi memetiknya. Ia langsung belah saja di tempat. "Ini juga sama."


Rylie semakin melemah karna kehilangan banyak darah. Matanya perlahan-lahan mulai terpejam. Tapi Lina tidak memperdulikan itu. Ia mala membuat sayatan besar membelah perut Rylie dan mengeluarkan organnya satu-persatu lalu disusun di lantai. Usus, hati, ginjal, lambung, paru-paru dan bahkan jantung pun sudah tergeletak di lantai. Tubuh Lina kali ini bermandikan darah dan bahkan sampai wajahnya karna ia menyekat keringat yang menetes.


"Akhirnya selesai juga." Lina berdiri sambil merengangkan otot-ototnya. "Fiuh... Aku lelah. Aku ingin mandi membersihkan semua darah di tubuhku ini."


"Kemari lah," panggil Daniel. "Akan ku temani kau mandi setelah itu baru kita pulang. Kau kotor sekali."


"Baiklah. Aku akan mengikuti perintahmu."

__ADS_1


Sikap Lina berubah seperti anak kucing yang penurut dan manja. Melihat sikap Lina seperti itu membuat Daniel merasa gemas dan ingin mencubitnya.


"Ehm, bereskan semua ini, setelah itu baru tugas kalian selesai hari ini," perintah Daniel pada seluruh anak buahnya.


"Baik tuan muda," jawab mereka serempak.


Daniel menarik tangan Lina menujuh kamar terdekat. Daniel menunggu di luar sambil duduk di kasur memainkan hpnya. Ia menelpon salah satu anggota elitnya yang ditugaskan untuk menyelidiki sesuatu. Selang beberapa detik telpon diangkat.


"Bagaimana?"


"Maaf tuan muda. Kami masih belum mendapatkan informasi mengenai orang yang menyerang tuan muda hari itu. Tapi yang pasti nona Rylie dan Lexi tidak terlibat sama sekali dalam aksi penyerangan tersebut," jelas nya.


"Selidiki sampai tuntas. Aku ingin sekali tahu siapa yang telah berani menyerang ku saat itu. Jika kalian semua tidak bisa menyelesaikan tugas ini sebaiknya jangan perna kembali lagi, mengerit?"


"Siap tuan muda. Pasti akan menangkap pelaku dari aksi penyerangan tersebut."


Daniel langsung memutuskan telpon. "Siapapun mereka. Mereka harus membayar semua perbuatan yang telah mereka lakukan padaku dengan nyawa mereka," Daniel mengepalkan tangannya dengan geram.


"Da...ni...el..."


Panggil Lina saat ia keluar dari pintu kamar mandi. Daniel seketika terpesona dan mematung. Bagaimana tidak, Lina keluar tanpa menggunakan sehelaipun di tubuhnya. Tetesan air masih menetes di rambut dan mengalir mengikuti lekuk tubuh Lina yang ramping itu. Cukup lama Daniel dalam diam sampai ia sadar kalau Lina berjalan ke arahnya. Daniel berusaha menahan diri. Ia melepaskan jasnya dan langsung mengenakannya pada Lina.


"Kenapa kau keluar dalam keadaan seperti ini. Kau tidak mengeringkan tubuhmu dulu. Jangan membuatku repot karna kau masuk angin nantinya."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2