
"Aku sudah meminta seseorang untuk mencari tahu identitas asli Velia namun hasil pencariannya nihil. Kenapa identitasnya tidak bisa ditemukan dimanapun, seperti memang sengaja dirahasiakan sampai anggota ku saja tidak bisa melacaknya. Siapa sebenarnya dirimu, Velia? Jauh dari keunikan darahmu, identitasmu juga membuatku penasaran," pikir George.
"Itu benar. Jika kau tersesat, aku juga yang repot harus mencarimu di kota yang luas itu. Lebih baik kau duduk diam saja di rumah, tidak usah kemana-mana," kata Samuel yang duduk berhadapan dengan ibunya.
"Aku bosan jika cuman duduk di rumah seharian. Tidak ada yang bisa dilihat disini kecuali pohon," kata Lina sebelum meminum tehnya.
"Bagaimana kalau kau ajak jalan-jalan Velia hari ini, Samuel? Di rumah seharian memang membuat dia bosan," saran Sara.
"Ffrrrt.... Uhuk... Uhuk..." Lina sampai tersedak mendengar saran itu.
"Ide bagus. Mungkin dengan melihat-lihat ibu kota bisa membantu mengembalikan ingatannya," sambung George menyetujuinya.
"Tapi kenapa harus aku? Dia bisa berkeliling bersama supir. Aku bukan pengasuhnya," kata Samuel menolak.
"Siapa juga yang membutuhkan mu. Aku bukan anak kecil. Aku bisa pergi sendiri."
"Aku tidak percaya. Di dalam rumah ini saja kau bisa tersesat, bagaimana kalau di ibu kota."
"Apa katamu?! Sejak kapan aku tersesat di rumah ini?"
"Jangan membuat aku mengingatkannya untukmu, nona. Kau bahkan sering salah masuk kamar."
"Wajar saja orang bisa salah masuk kamar jika lorong menuju kamarku seperti rumah sakit. Aku harus menghitung pintu setiap kali mau ke kamarku sendiri."
"Hah... Mereka mulai lagi," George hanya bisa menghela nafas panjang.
"Sebenarnya aku sedikit suka melihatnya. Rumah ini menjadi ceria," ujar Sara.
"Tapi berisik. Setiap kali mereka bertemu selalu saja bertengkar."
"Maka dari itu aku menyarankan mereka untuk keluar jalan-jalan. Mungkin bisa memperbaiki hubungan mereka. Velia gadis yang manis. Seandainya ia belum menikah, aku pasti sangat senang jika bisa menjodohkan mereka berdua," bisik Sara pada suaminya.
"Menjodohkan? Aku juga berpikiran sama denganmu. Aku tidak keberatan walau ia sudah mengandung. Jika seandainya suaminya tidak mau menerimanya lagi atau sebenarnya dia adalah korban pelecehan, karna tidak ada laporan orang hilang di ibu kota dalam beberapa minggu terakhir ini. Jika memang keluarganya melakukan pencarian tentunya mereka sudah dulu melapor pada polisi."
"Gadis yang malang."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Aduuuh.... Punggungku sakit," rintih Violet sambil melepaskan silikon perut ibu hamil.
__ADS_1
Menurut informasi yang ia dapat dari para pelayan, Lina perna tiba-tiba merasa mual dan terakhir tiga minggu yang lalu. Jadi Violet memperkirakan kalau Lina mungkin telah hamil 4 bulan sekarang. Violet terpaksa menggunakan perut palsu agar penyamarannya lebih sempurna.
"Semua ini karna dua bocah nakal itu! Bisa-bisanya mereka menebar seluruh mainan mereka sembarangan sampai membuatku terpeleset. Seandainya aku benaran hamil, aku pasti sudah keguguran. Dan Daniel lagi, ia mala keluar kota. AAAH....! Semua rencanaku jadi berantakan! Hah..." Violet membaringkan tubuhnya di sofa. "Sabar Violet. Kau harus fokus pada rencanamu disaat Daniel pulang nanti. Jika kau berhasil menidurinya dan benaran hamil anaknya, tentu saja aku tidak perlu berpura-pura lagi. Untuk sekarang, bagaimana caranya aku menyikirkan kedua bocah nakal itu?"
Selagi Violet berpikir, Julius dan Julia begitu asik merayakan keberhasilan rencana mereka yang sukses besar. Beberapa hari terakhir ini Violet benar-benar dikerjai habis-habisan oleh mereka. Kecoak dalam makanan, bangkai tikus dibalik selimut, racun yang bisa membuat diare seharian, semut api dalam sepatu, krim wajah dicampur bubuk gatal, dan banyak lagi kejahilan kecil mereka. Namun dari semua itu, rencana kali ini memang dibuat lebih sadis dari kejahilan mereka sebelumnya. Violet tentunya tidak bisa menuduh mereka karna tidak ada bukti untuk itu.
"Julius! Julia!"
Terdengar suara papa mereka memanggil. Julius dan Julia berlari keluar dari ruang bersantai menghampiri Daniel. Mereka melompat dalam pelukan papa mereka.
"Papa! Akhirnya papa pulang juga."
"Iya. Kami sangat merindukanmu."
"Papa juga merindukan kalian."
"Daniel sudah pulang?!" Violet yang juga mendengar itu seketika berdiri, mengenakan kembali perut palsu itu dan bergegas turun. "Daniel, kenapa tidak memberitahu kami lebih awal kalau kau pulang sekarang," sapa Lina (Violet).
"Aku sengaja ingin memberi kejutan untuk kalian."
"Papa, apa papa bawa oleh-oleh?" tanya Julia.
"Tentu saja."
"Wah... Sebuah boneka beruang," Julia langsung memeluk boneka tersebut. "Eh? Resleting apa ini?" Julia membuka resleting yang terdapat di bagian belakang boneka. Baru terlihat sedikit apa isinya, ia dengan cepat menutupnya kembali.
"Bagaimana? Apa kalian suka oleh-olehnya?" kata Daniel mempertanyakan pendapat mereka.
"Sangat suka. Terima kasih papa," Julia melirik Julius yang terlihat belum membuka paper bag nya. "Em... Kakak dapat apa?"
"Kau tidak perlu tahu."
"Aah... Dasar kakak pelit. Aku mau lihat!" Julia berusaha merebut paper bag itu dari tangan kakaknya, namun dengan cepat Julius menjauhkannya.
"Kau sudah punya. Kenapa kau maksa ingin melihat punyaku!" Julius berlari pergi.
"Memangnya apa isinya? Jangan membuatku semakin penasaran," Julia mengejar kakaknya yang berlari ke lantai atas.
"Astaga, masalah oleh-oleh saja bisa membuat mereka bertengkar," Daniel menggeleng pelan melihat kelakuan kedua anaknya itu.
__ADS_1
"Mereka memang anak yang nakal."
"Oh, iya. Aku juga belikan ini untukmu," Daniel menyodorkan sisa paper bag di tangannya pada Lina (Violet).
"Untukku? Seharusnya kau tidak perlu repot-repot Daniel."
"Tidak repot. Ambilah."
"Terima kasih."
Lina (Violet) menerima paper bag itu dan membukanya. Sebuah dress dibawa lutut dengan atasan brokat berwarna tulip, bahu terbuka dan pita berukuran sedang di bagian belakang.
"Wow... Bukankah ini dress keluaran terbaru itu. Cantik sekali."
"Kau menyukainya?"
"Sangat suka. Kau memang sangat baik," Lina (Violet) seketika memeluk Daniel, dan Daniel membiarkan itu. "Tumben Daniel perhatian hari ini? Sepertinya malam ini saja aku melancarkan rencanaku."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Malam itu Violet selesai menyiapkan semuanya di kamar. Rencana yang telah dipikirkan sejak lama siap menjebak mangsa. Violet sangat yakin kalau rencananya kali ini tidak akan mungkin gagal. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Daniel masuk ke kamar. Dengan mengenakan pakaian yang cukup seksi, Violet menyambut kedatangan Daniel.
"Daniel," Lina (Violet) seketika melingkarkan tangannya di leher Daniel.
Daniel melirik sebuah meja bundar dengan dua kursi yang ada di dekat pintu balkon. Terdapat perlengkapan makan lengkap di atas meja tersebut dan setangkai bunga mawar dalam vas bunga kecil.
"Apa yang sudah kau persiapkan ini?" tanya Daniel.
"Aku sudah merencanakan ini sejak lama, khusus untuk menyambut kepulanganmu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε