Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Hari kelulusan


__ADS_3

Lina menerima bunga tersebut, namun kemudian meletakkannya di kursi disaat ia melihat Julius dan Julia memberi isyarat dengan senyum lebar minta digendong.


"Oh... Apa putra-putri ibu minta digendong? Kemari sayangku," Lina mengangkat tubuh Julius dari kereta dorong nya yang dibawa Briety, sedangkan Julia digendong oleh Daniel.


"Mereka sepertinya juga sangat bahagia melihat ibunya lulus dan akan menjadi seorang dokter," kata Briety.


"Lina!" panggil Ira sambil menghampiri. "Senang bertemu dengan kalian keponakan kecilku."


"Selamat atas kelulusanmu Ira. Aku dengar kau menempati juara pertama di kelasmu," Kata Lina memberi ucapan selamat.


"Itu bukan apa-apa, aku tidak sehebat kau yang menempati juara utama di acara kelulusan tahun ini. Kau memang hebat Lina."


"Terima kasih. Semua ini berkat dukungan dari orang-orang tercintaku dan pemberi semangat kecil ini," Lina mengecup gemas Julius kemudian Julia.


"Mereka berdua semakin lucu saja. Aku pasti akan merindukan kalian. Sering-sering lah menelpon bibimu ini ya keponakanku."


"Memang kau mau pergi kemana kak Ira?" tanya Via.


"Aku akan melanjutkan studyku keluar negeri," jelas Ira.


"Jadi kita tidak akan bertemu lagi," Via tiba-tiba memeluk Ira. "Wuuuaaa....... Aku pasti akan sangat merindukanmu."


"Jangan sedih. Setiap hari libur aku akan pulang," Ira melepaskan pelukannya.


"Xavira, ini untukmu sebagai ucapan terima kasihku karna kau telah menjadi sahabat putriku," Ducan menyodorkan rangkaian bunga pada Ira.


"Terima kasih Tn. Cershom. Aku sudah mengganggap Lina seperti saudariku sendiri," Ira menerima bunga tersebut.


"Ada hadiah kecil terselip di bunga itu untukmu. Aku harap kau menyukainya."


Mendengar itu membuat Ira meneliti rakaian bunga ditangannya. Memang benar, ada kotak kecil terselip disana. Ira mengambil kotak tersebut kemudian membukanya. Sebuah kalung berwarna perak dengan loket zamrud berwarna hijau tampak indah dalam balutan beludru merah.


"Ini sungguh untuk ku Tn. Cershom?"


"Iya."


"Ini cantik sekali. Terima kasih."


"Sama-sama."


"Kak Ira, bagaimana dengan acara nanti malam? Kau akan datang, kan?" tanya Via.


"Pastinya."


"Acara apa?" tanya Lina karna sebenarnya cuman ia seorang yang tidak tahu.

__ADS_1


"Bukan sesuatu yang penting," kata Daniel.


"Iya, tidak perlu dipikirkan," sambung Briery.


"Gelagat kalian seperti ada yang kalian sembunyikan dariku," muncul sedikit curinga dari Lina.


"Eh, Lina. Bagaimana kalau kita berkeliling kampus sejenak? Itung-itung untuk yang terakhir kalinya," saran Ira mengalikan percakapan.


"Boleh."


Lina meletakan kembali Julius ke kereta dorong nya dengan Julia yang juga Daniel dudukan kembali disamping Julius. Kereta bayi itu memang berdesain khusus untuk bayi kembar. Bersama Ira, Lina mendorong kereta bayinya sekedar mengajaknya berkeliling taman kampus. Daniel tidak menemeni mereka, ada urusan yang harus ia kejakan. Tentunya urusan itu berhubungan nya dengan acara malam nanti.


Suasana taman yang rimbun pepohonan dengan angin lembut bertiup membuat tengah hari yang terik ini tidak terlalu panas bagi Julius dan Julia untuk jalan-jalan. Sedang asik berbincang sambil berjalan santai, secara kebetulan atau tidak, Lina berpapasan dengan dua orang gadis yang merupakan teman sekelasnya atau lebih tepatnya sih musuh. Dulunya dua gadis ini merupakan salah satu dari sekian orang yang beberapa kali perna jahili Lina. Namun setelah tahu Lina adalah putri dari keluarga paling berpengaruh sikap mereka seketika berubah.


"Hai Veliana. Selamat ya atas keberhasilan mu menempati posisi pertama," sapa mereka ramah dengan senyuman.


"Tumben kalian mau menyapaku seperti ini."


"Jangan seperti itu Veliana. Kita kan teman satu kelas."


"Wah... Siapa si kecil ini? Mereka imut sekali," kata gadis berambut pirang yang telah berjongkok di hadapan kereta bayi Lina.


Lina menarik mundur kerata bayinya ketika gadis itu hendak menyentuh pipi Julia. "Mereka anak-anakku."


"Anakmu?" gadis itu terlihat kecewa lalu lekas berdiri.


"Hah, kalian bilang teman sekelas Lina, tapi kenapa kalian tidak tahu? Tidak perlu sok baik deh. Aku ingat betul kalau kalian ini salah satu orang sombong yang suka menjahili Lina, mengejeknya karna dia berasal dari desa dan mahasiswa miskin. Kenapa tiba-tiba sikap kalian berubah? Apa karna baru tahu kalau ternyata gadis yang selama ini kalian rendahkan merupakan putri kandung dari keluarga ternama? Dasar penjilat!" kata Ira.


"Xavira, kau..." mereka berdua terlihat berusaha menahan geram pada Ira.


"Benar sih apa yang dikatakan Ira. Bukankah kalian berdua begitu asiknya menggosipkan kalau aku ini seorang gadis penghibur, yang mendapatkan barang-barang mewah dari hasil menggoda pria-pria kaya," timpal Lina.


"Okey, Veliana. Mungkin dulu aku perna... Iya, kau tahu... Merendahkan mu. Tapi sekarang aku tahu kalau aku salah. Aku minta maaf," ucap gadis berambut coklat dengan ekspresi memohon.


"Iya, aku juga minta maaf. Jujur saja kalau semua itu cuman sebatas candaan saja. Kami tidak berniat menyakitimu atau membuatmu terluka."


"Minta maaf? Seberapa tulusnya kata maaf ini keluar dari mulut kalian?" tanya Lina.


"Apa maksudmu?" tanya mereka balik penuh kebingungan.


"Maksudku, aku tidak mau memaafkan kalian. Kenapa? Karna kalian tidak tulus minta maaf padaku."


"Veliana, kami sungguh tulus minta maaf padamu."


"Percayalah pada kami."

__ADS_1


"Percaya? Aku mau tanya pada kalian? Apa kalian masih akan minta maaf seperti ini jika aku bukan putri dari keluarga Cershom?"


"Te, tentu. Kami akan minta maaf padamu."


"Kau teman kami. Teman seharusnya saling memaafkan."


"Aku tidak percaya. Dengan sifat sombong kalian itu tidak mungkin mau membungkukan badan pada kalangan bawah. Jadi sebaiknya kalian pergi saja," usir Ira dengan gerakan tangan.


"Xavira, kami bicara pada Veliana bukan denganmu."


"Veliana saja belum berkata apa-apa, kau tidak berhak mengusir kami."


"Mereka benar, Ira. Kenapa kau mala mengusir mereka?"


"Tapi, Lina..."


"Lihatkan, Xavira. Veliana tidak menginginkan kami pergi. Jadi tutup saja mulutmu itu," potong gadis berambut pirang.


"Benar sekali. Aku meminta kalian untuk tetap disini sampai fajar," kata Lina dengan tatapan dingin.


"Apa!!"


"Haha... Rasakan itu! Selamat kemping malam ini," Ira melambaikan tangannya ke arah dua gadis itu sambil menyusul Lina yang mendorong kereta bayinya melangkah pergi.


"Veliana, kau tidak bisa berbuat begini!"


"Kami tulus minta maaf padamu! Tapi kau... Kau mala jadi sombong setelah menjadi orang kaya!"


Mendengar itu membuat langkah Lina terhenti. Ia menyerahkan kereta dorong bayinya pada Ira, kemudian berjalan mendekati kedua gadis tersebut.


"Sombong? Bukankah itu lah yang kalian lakukan padaku? Jika kalian memang tulus mau minta maaf, kenapa tidak dari dulu? Sebelum mengetahui identitas asli ku. Lebih baik kalian tidak perna muncul lagi di hadapanku atau aku akan dengan senang hati membiarkan kalian merasakan rasa sakit yang sama seperti dulu. Kalian masih ingat, kan?" bisik Lina.


"Ma, maksudmu, kau yang membuat kami sampai masuk rumah sakit karna sakit perut waktu itu?"


"Benar. Aku yang memberikan racun itu di makanan kalian. Tapi jika kalian tidak percaya, kalian bisa mencobanya lagi. Atau, kalian mau mencoba racun lain? Aku punya banyak," Lina berbalik pergi meninggalkan dua gadis itu terdiam ngeri disana.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2