
"Cerita yang menarik," kata Daniel membuat Lina menoleh ke atas.
"Daniel. Sejak kapan kau ada disana?"
"Sudah cukup lama," Daniel turun ke bawah menghampiri istrinya.
"Bagaimana dengan sisa para penjaga bersenjata itu?" tanya Lina sambil berdiri.
Daniel merangkul pinggang Lina menariknya dalam pelukannya. "Sudah dibereskan. Kau sungguh kucing yang nakal ya. Kau meninggalkan aku begitu saja."
"Hihi... Maaf, maaf."
"Daniel! Lina! Kalian baik-baik saja?" panggil Rayner sambil menuruni tangga bersama Ducan.
"Violet!" Ducan bergegas menghampiri Violet yang terlihat lemah akibat gas beracun. Ia melepaskan ikatan yang meliliti tangan serta kaki Violet.
"Ayah. Apa-apaan semua ini?" tanya Violet setelah semua ikatan ditubuhnya terlepas.
"Ayah akan menjelaskannya nanti..."
"Tidak! Aku minta ayah menjelaskannya sekarang! Apa benar aku cuman anak angkat ayah?"
"Violet ini..."
"Katakan yang sebenarnya!! Apa benar gadis itu putri kandung ayah?!!" tunjuk Violet pada Lina.
"Itu benar!" jawab Ducan membuat Violet tersentak. Air mata mengalir pelan di pipi Violet. "Veliana adalah putri kandungku. Kau puas?"
Violet menggeleng pelan. Ia berusaha untuk tidak mempercayai apa yang baru saja di dengarnya itu. "Tidak... Ini tidak mungkin."
"Maafkan aku Violet."
"Jadi sebab itu perlakuan ayah selama ini selalu acuh tak acuh padaku? Tapi begitu bertemu dengan Lina sikap ayah seketika berubah perhatian padanya! Tidak ! ! ! Aku tidak mau percaya semua ini! Aku adalah putri satu-satunya dari keluarga Ceshom. Aku tidak mau kehilangan semuanya. Hiks... Hiks..."
"Violet sadarlah. Walaupun kau cuman putri angkatku. Kau masih tetap bagian keluarga Cershom. Aku sudah melihatmu tumbuh dari kecil sampai sekarang. Hubungan ini sudah terbentuk selama bertahun-tahun dan tidak akan putus begitu saja," Ducan mencoba menenangkan Violet.
"Apa itu benar?" tanya Violet sambil menyekat air matanya.
"Aku tidak keberatan soal itu. Karna ayah masih peduli padamu, itulah alasanya aku menggunakan gas beracun yang cuman berakibat melemahkan lawan tidak sampai membunuh," kata Lina.
"Lina," Violet menatap Lina lalu kemudian menunduk. "Iya. Semua ini karna Lina."
"Ayok kita pulang. Kediaman tidak akan sama tanpa kehadiran dirimu," ajak Ducan sambil mengulurkan tangannya Violet.
Violet menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Ia mengangkat wajahnya menatap Lina. "Baik, aku terima kenyataan ini kalau Lina adalah putri kandung ayah. Tapi... Kepemilikan dari rumah lelang Red Krisan tetap menjadi milikku dan pernikahanku dengan Daniel masih harus tetap terlaksana!" kata Violet dengan nada tegas.
__ADS_1
Mendengar permintaan Violet membuat semua orang terkejut.
"Violet! Kau jangan lancang!!!" bentak Ducan. "Kepemilikan rumah lelang itu merupakan warisan ibu Lina. Kau tidak bisa merebutnya begitu saja!!"
"Tentu saja bisa! Karna Token rumah lelang Red Krisan ada padaku," Violet menunjukan batu giok yang entah sejak kapan ada di tangannya.
"Violet, sebaiknya kau kembalikan Token itu!" bentak Lina.
"Jangan harap!! Biarpun kau putri kandung ibu tapi aku lah pemilik rumah lelang Red Krisan yang di kenal masyarakat! Mereka tidak akan curinga kalau aku cuman anak angkat jika kau MATI!"
Violet merebut pistol ayahnya lalu mengacungkannya pada Lina dan menarik pelatuknya.
Dor!
Suara tembakan menggema di udara. Beruntung Ducan siap tanggap. Ia berhasil mengangkat tangan Violet yang menyebabkan arah tembakan tersebut meluncur ke atas.
"Violet! Beginikah caramu berterima kasih?!!" Ducan merebut kembali pistol itu lalu membuangnya. "Ingatlah siapa dirimu! Tidak puaskah kau telah merebut hak dari putri kandung ku selama 17 tahun ini?!!"
"Merebut? Dia lah yang sebenarnya merebut semua yang aku miliki! Seandainya ia tidak perna muncul, kehidupanku pasti sempurna. Tapi kau..." Violet menatap tajam pada Lina. "Kenapa kau menggabil semua yang aku miliki?!!! Kekayaan, kekuasaan dan cintaku. Kau harus mati Lina!!!"
Plak!!
Tamparan keras mendarat di pipi Violet. Hal itu menyebabkan ia tersungkur ke lantai. Ia memengangi pipinya yang merah sambil menatap ayahnya.
Dor!
Suara tembakan terdengar membuat semua orang kaget. Bersamaan dengan itu beberapa pipa besi roboh dan menghalangi salah satu pintu disana. Yang membuat sangat kaget lagi adalah Stevan telah berdiri di balik pintu terbuka itu. Efek gas beracun tersebut pasti telah sedikit memudar.
"Iya, aku tidak mau menggangu masalah keluarga kalian tapi aku harus pergi dari sini," kata Stevan.
"Apa?! Sejak kapan ia ada disana?" ujar Ducan.
"Sial! Fokus kita terlalu teralihkan," geram Lina.
"Terima kasih untuk pistol nya Ducan."
Baru hendak berbalik pergi tiba-tiba dari arah belakangnya ada seorang pria yang seketika mengayunkan tinjunya ke wajah Stevan. Melihat itu membuat langkah yang lain terhenti ketika hendak mengejar Stevan.
"Kakek?!" kata Daniel begitu tahu siapa pria itu.
"Ayah?!" Rayner sedikit terkejut bercampur binggung. Bagaimana bisa ayahnya ada disana sedangkan rencana penyerangan ini tidak diberitahukan sama sekali padanya.
"Tuan besar Flors?"
"Hei, apa maksud kalian? Ayah ada disana?" tanya Briety yang ikut terkejut mendengar teriakan itu melalui Handsfree. Ruang inti tersebut tidak memiliki cctv sama sekali.
__ADS_1
"Iya," jawab Rayner. "Bagaimana bisa kalian tidak tahu kalau ayah datang kesini?"
"Sepertinya kakek masuk lewat pintu rahasia di sebelah utara," kata Via.
"Kalian curang. Kenapa tidak memberitahu sama sekali?" ujar Tn. Flors sambil melirik ke yang lain.
"Kau tua bangka! Berani sekali memukulku!!"
Stevan hendak menembak Tn. Flors namun Tn. Flors lebih dulu menyerang Stevan. Hal hasil pistol yang ada di tangan Stevan terpental jauh. Tidak sampai disitu. Tn. Flors kembali mengayunkan tinjunya memukul perut, wajah, menedang pinggang Stevan tanpa memberi Stevan kesempatan menyerang balik. Ditambah lagi tenaga Stevan belum pulih sepenuhnya membuat dia tersungkur ke lantai sambil memuntahkan darah.
Daniel, Rayner dan Ducan sendari tadi berusaha menyingkirkan pipa-pipa besi yang menghalangi. Tapi mereka kurang cukup cepat. Tidak diduga Stevan ternyata menyembunyikan belati di balik jasnya. Akibat serangan mendadak itu Tn. Flors tidak bisa menghindari serangan tersebut dengan sempurna. Stevan berhasil menancapkan belati itu ke perut Tn. Flors. Kemudian ia mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri.
"Kakek!"
"Ayah!"
"Tuan besar Flors!"
Teriak mereka bersama sambil bergegas menghampiri begitu melihat Tn. Flors tersungkur ke lantai sambil memenganggi perutnya yang terluka.
"Apa yang terjadi?" tanya Briety khawatir.
"Kakek, apa kakek baik-baik saja?" tanya Daniel. ia orang yang pertama menghampiri kakeknya.
"Aku baik-baik saja. Ini cuman luka kecil," Tn. Flors menarik belati di perutnya lalu membuangnya.
Lina memungut belati tersebut begitu ia menyadari ada sesuatu yang aneh. "Anda tidak dalam keadaan baik tuan besar Flors. Dibelati ini ada racunnya."
"Racun? Tapi kakek pasti akan baik-baik saja kan kucing kecil?"
Lina duduk disamping Daniel, kemudian memeriksa kondisi tuan besar Flors. "Aku tidak yakin Daniel. Dilihat dari kondisi dan gejala yang ada, ini merupakan jenis racun mematikan dan sulit untuk disembuhkan," jelas Lina dengan berat hati atas kenyataan ini.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1