Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Barang kenangan


__ADS_3

Marjorie menatap Julius dengan raut wajah tak berdaya. Julius menggenggam erat tangan Marjorie sambil memberi senyum hangat. Biarpun tidak mendengar apa yang dikatakan orang yang menelpon Marjorie tapi Julius tahu kalau itu Lady Blue yang memberi sebuah perintah pada Marjorie. Dari tatapan Marjorie, Julius bisa menebak kalau perintah tersebut merupakan tugas terakhir dari misi gadis dihadapannya ini.


"Kenapa kau diam, Marjorie?" tanya Lady Blue dengan nada mencurigai.


"Em... Lady Blue... Apa boleh aku..."


"Sebaiknya singkirkan pikiranmu itu, Marjorie. Jangan macam-macam!" potong Lady Blue. Nada bicaranya seketika berubah dingin. "Apa kau lupa dengan kak Laura mu itu?"


"Hah?!" Marjorie tersentak mendengarnya. "Apa yang kau lakukan padanya?"


"Ada apa Death knell?" tanya Julius namun diabaikan.


"Tenangkan dirimu, Marjorie. Dia baik-baik saja. Aku sudah perna bilang kalau aku mengetahui semuanya. Kau rela mengontrak satu gedung di pusat kota dan mengubahnya menjadi restoran, semata-mata hanya untuknya. Sepertinya Laura ini sangat berarti untukmu."


"Jangan apa-apakan dia! Dia sama sekali tidak terlibat dengan semua!"


"Maka dari itu segera laksanakan perintaku, sayang. Aku jamin Laura mu akan baik-baik saja. Tapi jika kau menolak, kau bisa ucapkan selamat tinggal padanya. Em... Aku sangat suka Steak Hamburger buatannya," ancam Lady Blue.


"Sialan kau Lady Blue!" geram Marjorie namun ia tidak bisa melakukan apa-apa jika sudah menyakut nyawa kakaknya. "Baik. Akan aku lakukan."


"Bagus. Aku tunggu kabar baik darimu. Oh iya, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini karna kau mencoba melawan dariku. Aku harap hal ini tidak terulang kembali atau aku tidak akan segan lagi."


Lady Blue memutuskan telponnya. Sedangkan Marjorie hanya bisa menangis terseduh-seduh setelah membanting hpnya ke lantai. Karna dirinya Laura malah ikut terseret masalah ini. Tidak ada cara lain yang bisa Marjorie lakukan selain mengikuti perintah Lady Blue. Ini semua demi keselamatan kakaknya. Dia lebih memilih mengorbankan nyawanya dari pada harus menyaksikan kakaknya mati.


"Ada apa? Apa Lady Blue menyandera orang-orang terdekatmu?" tanya Julius memastikan.


"Aku harus pergi," Marjorie bangkit dan hendak melangkah pergi setelah ia menghapus air matanya.


"Tunggu!" cegat Julius berhasil menahan tangan Marjorie. "Jika itu benar, kita bisa menyelamatkannya. Aku akan membantumu. Kau tidak harus mengikuti perintah Lady Blue lagi. Kau akan bebas. Izinkan aku memutuskan ikatan ini!"


"Terima kasih Julius. Tapi Lady Blue bukanlah orang yang mengikatku. Dengan kekuasaan keluargamu saja belum cukup untuk bisa menghentikannya! Keluarga Flors tidak tahu apa yang mereka hadapi."


"Kalian lah yang tidak mengetahui apa-apa tentang kami. Percayalah padaku Death knell, aku bisa melindungi mu."

__ADS_1


"Tidak Julius. Lepaskan aku!"


"Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan mereka terus menggunakan mu menjadi pion mereka."


"Kalau begitu kau harus melawanku!"


Marjorie tiba-tiba menyerang Julius menggunakan pisau lipat yang memang selalu ia bawa kemana-mana. Julius tidak sempat menghindari serangan tersebut yang membuat pisau lipat itu berhasil menggores pipinya. Darah mengalir mengalir pelan dari luka yang terbuka.


"Ooh... Sepertinya kau tidak main-main soal ini," Julius menyekat darah yang mengalir.


"Jangan halangi aku atau aku tidak segan-segan membunuhmu!" ancam Marjorie.


"Kalimat itu mengingatkanku pada hari pertama kali kita bertemu. Iya, seperti itulah kau mengatakannya."


"Memangnya kapan kita pertama kali bertemu? Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?"


Marjorie kembali menyerang namun kali ini berhasil ditangkis oleh Julius. Pertarungan mereka mulai semakin serius. Terlihat dari serangan Marjorie yang tidak segan lagi mengarahkan pisaunya ke titik-titik vital. Julius berusaha menghindar dan menangkis serangan tersebut dan terpaksa juga sesekali balik menyerah Marjorie.


"Baiklah, aku akan membantumu mengingatnya. Pada hari pekan yang cerah dimana aku seharusnya menikmati hari santai ku, aku mala mendapat misi mengikuti pelelangan di salah satu pulau yang sama sekali tidak tercatat di peta," Julius terus bercerita selama pertarungan mereka. "Kau pasti mulai mengingat satu-satunya acara pelelangan yang diadakan di pulau paling berdarah, bukan? Setiap kali mengadakan acara pelelangan selalu saja ada yang tidak bisa kembali hidup-hidup."


"Kau sama sekali tidak mengingatnya sepenuhnya. Apa kau lupa, semua orang di pelelangan itu diharuskan mengenakan topeng untuk menyembunyikan identitasnya?"


Julius berhasil menendang pisau tersebut sampai terlempar jatuh ke bawah. Berharap saja pisau tersebut tidak mencelakai seseorang yang ada di bawah sana.


"Sama seperti sekarang kita perna bertarung disana. Ooh, momen inilah yang paling tidak perna aku lupakan."


"Hanya ada satu orang yang bisa membuatku kewalahan melawannya. Si pria bertopeng biru yang sama dengan warna matanya. Iya, mata itu, aku mengingatnya. Kau pria bertopeng biru itu?"


"Itu benar Death knell," Julius menunjukan sebuah lonceng kecil dan mengguncangnya sampai terdengar gemericik lonceng.


"Lonceng lama ku."


"Benar sekali. Cinderamata yang bagus. Lonceng inilah yang menjadi satu-satunya kenangan ku terhadapmu."

__ADS_1


"Julius, maafkan aku," kata Majorie pelan.


Tanpa peringatan tiba-tiba Majorie menyekap hidung serta mulut Julius menggunakan sapu tangan yang sudah dilumuri obat bius. Karna dosis yang lumayan tinggi, tak memakan waktu lama sampai obat bius itu berkerja dan membuat Julius pingsan.


"Maaf, ini demi kebaikanmu, Julius. Aku semakin tidak bisa melibatkanmu dalam masalah ini, apa lagi setelah tahu kalau kau adalah pria bertopeng biru itu. Terima kasih telah menjaga loncengku selama ini."


Marjorie memberi satu kecupan di dahi Julius sebelum ia mengambil loncengnya kembali. Tak lupa Marjorie juga mengembalikan satu barang milik Julius yang sempat terjatuh saat pertarungan mereka dulu. Sebuah anting-anting bertanda salib berwarna hitam berhiaskan satu berlian kecil.


"Ini, ku kembalikan lagi barang milikmu. Selamat tinggal."


Marjorie berlari pergi meninggalkan Julius sendiri di atas atap bangunan sekolah sambil mengusap air matanya. Tanpa menunda lagi, ia segera menemui Yusra untuk melancarkan rencana yang memang telah dibahas berbulan-bulan yang lalu bersama Lady Blue. Di lorong di lantai dua gedung sekolah, Marjorie dan Yusra tidak sengaja bertemu.


"Kemana saja kau, Marjorie? Apa kau tahu? aku sendari tadi mencarimu!!" bentak Yusra dengan marahnya. "Sungguh tidak pantas bagi seorang atasan malah mencari bawahannya yang suka berkeluyuran! Sepertinya yang dikatakan ayahku benar. Aku terlalu memberimu kebebasan!"


"Diam kau!! Dasar tuan muda tidak berguna!" bentak Marjorie lebih galak.


"Ka, kau, kau berani sekali membentaku seperti itu!! Aku adalah bosmu dan kau itu cuman pengawal rendahan yang harusnya tunduk padaku! Sebaiknya kau segera bersujud minta maaf atau aku akan menghukum mu dengan sangat berat!!"


"Kau bukan bosku, bodoh!"


Marjorie melesat cepat ke arah Yusra. Dalam sekali serang, Yusra sudah terkapar tidak sadarkan diri.


"Ups, sepertinya aku terlalu kasar padamu tuan muda. Maaf saja ya. Awalnya aku ingin mengunakan obat bius tapi sudah aku gunakan pada Julius. Tidak ada cara lain selain memukulmu agar kau pingsan dan dapat dengan mudah membawamu. Walau sebenarnya aku sudah lama ingin melakukan itu padamu."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2