Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Menyusup ke markas musuh


__ADS_3

"Jika nona memintaku menikah, aku bisa menikah dengan Qazi," kata Judy sambil menunjuk Qazi yang ada di samping Daniel.


"Hah?! Kenapa aku?" Qazi tersentak kaget.


Bagaimana tidak. Seorang gadis baru saja menyatakan perasaannya dihadapan semua orang. Tidak jauh berbeda, Judy juga baru tersadar atas apa yang baru saja ia katakan. Ia menutup wajahnya yang merah menggunakan kedua tangan sambil berjongkok. Ini cukup memalukan baginya. Bisa-bisanya ia keceplosan mengatakan ingin menikah dengan Qazi di depan semua orang.


"Bagaimana menurutmu Qazi? Seorang gadis telah menyatakan perasaannya padamu dan ingin menikah denganmu," lirik Lina pada Qazi sambil menyilangkan tangannya, namun Qazi sepertinya tidak mendengar.


"Tidak, tidak. Ini tidak benar. Bagaimana bisa seorang gadis yang melamarku? Dimana derajat ku sebagai seorang pria? Seharusnya aku yang melamar nya," gumang Qazi pelan sampai tidak terdengar oleh mereka tapi Lina bisa membaca gerak bibi Qazi.


"Apa yang kau gumangkan Qazi?" dengan senyum diwajahnya, Lina bertanya.


"Hah?!" seketika wajah Qazi yang memerah karna malu. Ia berharap Lina tidak mendengar gumangannya. "Bu, bukan apa-apa. Aku, aku pergi dulu untuk melamar. Em, maksudku menyerang," Qazi bergegas pergi.


"Qazi! Markas nya ada di sebelah sana," panggil Daniel sambil menuju ke arah berlawanan yang mau dituju Qazi.


"Ah, iya. Anda benar tuan muda. Saya akan pergi kesana," Qazi berbalik lalu melangkah ke arah yang di tunjuk Daniel.


"Qazi, kau pergi sendiri? Dimana anggota mu?" tanya Rayner membuat langkah Qazi terhenti lagi.


Qazi menarik nafasnya lalu menghembuskannya perlahan. "Hah... Anggota saya sedang menyiapkan peralatan di mobil. Saya pergi menemui mereka dulu."


"Kau membuatnya salah tingkah, kak," kata Emma pada Judy yang masih berjongkok menutupi wajahnya.


"Sepertinya dia juga menyukaimu Judy," kata Lina.


Judy mengangkat wajahnya melihat Lina. "Benarkah? Em, maksudku... Ini, ini..." ia mengalihkan pandangnya sambil berdiri.


"Kalian berdua bisa mengobrol lebih jauh dulu. Ukapkan perasaan masing-masing dan mulai hubungan perlahan-lahan," saran Briety.


"Iya, jika kalian sudah mantap ingin menikah, aku bersedia menjadi wakilmu menuju altar pernikahan," ujar Rayner.


Mendengar itu membuat Judy kaget dan tanpa sadar mundur selangkah. "Tn. Flors, ini... Ini sungguh tidak perlu. Saya hanya seorang pembantu. Tidak sepantasnya anda mendampingi saya menuju altar pernikahan. Apa yang akan dikatakan masyarakat nanti."

__ADS_1


"Aku yang membawa kalian, aku yang merawat kalian dan aku juga yang telah melatih kalian sampai jadi pembunuh bayaran. Lalu kenapa aku tidak boleh melepaskan kalian menuju kehidupan berumah tangga?"


"Tapi..." Judy masih merasa tidak enak hati.


"Hei, Emma. Apa kau juga memiliki seseorang yang kau cintai?" tanya Lina pada Emma untuk mengalihkan semua dari Judy.


"Em... Aku, aku... Apa aku harus mencari pasangan diantara anggota Black Mamba juga agar tetap bisa bersama dengan mu, nona Lina?"


"Kau harus mencari orang yang kau cintai dan juga mencintaimu. Tidak dari anggota Black Mamba juga. Cinta bisa datang dari mana saja."


"Baiklah, pembahasan cari jodohnya dilanjutkan lagi nanti. Norman memberi kabar kalau semua penjaga diluar sudah dibereskan. Kita bisa masuk sekarang."


"Via, apa kau sudah selesai disana?" panggil ibunya.


"Iya," jawab Via sambil menyusul ibunya. Sendari tadi Via sedang mencari jalan masuk menuju ruang kendali dari markas tersebut.


Mereka kembali masuk ke mobil meninggalkan bukit itu. Mobil melaju masuk ke area markas. Seseorang membuka pintu gerbang begitu mobil mereka sampai disana.


"Lina," panggil Ducan begitu melihat putrinya turun dari mobil.


"Semuanya berjalan baik. Para penjaga diluar sini telah dilumpuhkan dan cctv juga telah dibereskan. Aku cuman mohon padamu untuk berhati-hati. Aku tidak mau kehilanganmu."


"Iya. Ayah jangan khawatir. Ada Judy dan Emma yang menemaniku."


Mereka masuk secara bergiliran dengan kelompok Rey memimpin di depan. Beberapa cctv yang ada segera ditembak hancur. Para penjaga yang menyadari ada penyusup seketika langsung meluncurkan tembakan namun mereka kalah cepat. Tima panas telah bersarang di kepala atau jantung mereka sebelum mereka sempat mengangkat senjata. Kelompok Rey segera berpencar menyelusuri setiap ruangan di lantai dasar tersebut untuk melumpuhkan para penjaga yang tersisa.


Briety dan Via pergi ke bagian kendali markas yang ada di lantai dasar itu. Sedangkan yang lain melanjutkan langkah mereka turun ke lantai yang ada di bawah tanah. Hanya ada satu lif sebagai jalan penghubung antara lantai atas dan ruangan dibawah mereka. Lif ini bisa menampung lebih dari 20 orang sekaligus, dan lif ini menggunakan kartu tanda pengenal para pengawal untuk bisa menjalankannya. Tapi itu tidak mengapa. Briety dan Via sudah berhasil mengambil alih kendali dari markas tersebut. Semua pintu ruangan, cctv dan sistem penjagaan otomatis kini bisa mereka kendalikan sesuka hati.


"Bagaimana situasi di bawah sana Via? Apa kami sudah bisa turun?" tanya Daniel melalui Handsfree.


"Jangan turun dulu. Banyak penjaga lalu-lalang di pintu lif. Akan gawat jika kalian turun, apa lagi kalian tidak bisa turun bersamaan."


"Saatnya menguji racunku," kata Lina. "Emma, Judy."

__ADS_1


"Baik nona Lina," jawab mereka serempak.


Mereka berdua meletakan masing-masing kotak berisi bom di dalam lif tersebut. Lina meminta Via untuk menurunkan lifnya setelah Emma dan Judy keluar dari lif. Pintu lif kaca itu menutup dan mulai bergerak turun. Seperti perkiraan Lina, para penjaga yang menyadari pintu lif tiba-tiba terbuka segera memeriksanya. Mereka yang mendapati dua kotak aneh dalam lif tanpa ada satupun orang disana merasakan kebingungan dan waspada. Dengan hati-hati mereka memeriksa dua kotak tersebut sebelum membukanya. Namun begitu kotak dibuka, bom di dalamnya menjadi aktif dan meledak.


Ledakan yang dihasilkan tidak membuat para penjaga itu cerdera serius tapi asap yang muncul dari ledakan benar-benar mengepul sampai keluar dari lif. Sebagian penjaga yang mendengar suara ledakan itu berbondong-bondong mendekat ke sumber suara. Hal hasil mereka ikut terdampak kabut asap beracun tersebut.


"Sungguh ide yang hebat Briety. Mereka dengan bodohnya datang sendiri mengantarkan nyawa," puji Briety yang melihat semua itu di monitor cctv.


"Tidak. Mereka tidak akan mati, cuman kehilangan tenaga mereka saja. Jadi kita tinggal memberi sentuhan akhir mengirim mereka ke neraka. Hei, ini seperti sebuah permainan dalam video game," jelas Lina.


"Kucing kecil selalu saja ada ide menarik untuk membuat semua ini menjadi menyenangkan," Daniel mengacak-acak rambut Lina dengan gemas.


"Kalau begitu tunggu apa lagi. Mari musnakan tikus-tikus ini," kata Rayner bersemangat.


"Bagaimana keadaannya sekarang Via?" tanya Daniel.


"Asapnya mulai menipis. Mereka semua batuk-batuk akibat menghirup asap tersebut. Sebagian besar telah meninggalkan area sekitar lif mencari udara bebas asap," jelas Via.


"Kalau begitu kita sudah bisa turun sekarang."


"Via, naikkan lifnya sekarang," pinta Via.


"Baik."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2