
...Bab spesial di bulan Juli, bulan kelahiran Julius dan Julia....
...Cerita singkat pertemuan pertama Julius dan Marjorie yang bertepatan pada bulan Juli, tiga tahun yang lalu....
Diakhir pekan, pagi harinya. Julius sedang duduk santai di balkon kamarnya. Ia menikmati pagi yang cerah ini sambil ditemani secangkir teh dan kue jahe. Ia meraih kotak hitam kecil yang tergeletak disamping cangkir tehnya. Kotak itu adalah pemberian dari adiknya sebagai hadiah ulang tahun mereka kemarin. Ia belum sempat membukanya. Isi dari kotak itu ternyata sebuah anting-anting berbentuk salib berhiaskan satu berlian. Julius melepaskan anting-anting yang dikenakannya saat ini lalu mengenakan anting-anting pemberian adiknya itu.
"Hah... Hari yang indah. Tidak ada misi jadi aku bisa bersantai seharian. Enaknya hari ini aku melakukan apa, ya? Melakukan eksperimen? Aku tidak memiliki kelinci percobaan. Jalan-jalan? Malas. Pergi ke tempat latihan? Juga malas."
Disaat santai-satainya sambil memikirkan kegiatan untuk menghabiskan waktu liburnya, tiba-tiba pintu kamar Julius diketuk dari luar. Seorang pelayan menyampaikan pesan dari Daniel untuk meminta Julius menemuinya di ruang kerja. Dengan malas Julius bangkit dari kursinya lalu melangkah masuk ke kamar. Perasaan Julius mulai tidak enak kalau waktu bersantai nya ini akan berakhir sudah. Ia keluar dari kamarnya dan melangkah pergi ke ruang kerja dimana papanya berada. Sampai di depan pintu ruang kerja, Julius mengetuk pintu tersebut. Terdengar suara dari dalam memintanya masuk. Julius memutar knop pintu lalu membukanya. Tidak ada siapapun di dalam ruang kerja itu selain papanya yang duduk kursinya.
"Ada apa, pa?" tanya Julius sambil menghampiri.
"Duduklah," pinta Daniel pada putranya untuk duduk di kursi dihadapannya. "Papa minta maaf dulu sebelumnya. Papa tahu ini hari liburmu tapi papa ada tugas untuk mu."
"Sudah aku duga. Bahkan diakhir pekan ini juga. Ayok lah pa, minggu lalu aku baru saja menyelesaikan misiku. Apa tidak ada orang lain yang bisa menggantikan aku?" dengan malas nya Julius menyadarkan tubuhnya di kursi.
"Papa terpaksa memintamu melakukan tugas ini karna hanya kau yang bisa. Awalnya mama mu yang berinisiatif mau menjalankan misi ini namun tiba-tiba mama mu mendapat tugas ke luar kota untuk beberapa hari kedepan."
"Memang apa misinya sampai tidak bisa menyuruh orang lain saja?"
"Misinya adalah mendapatkan kembali harta warisan turun-temurun keluarga Flors."
"Harta warisan keluarga Flors?" Julius seketika mulai tertarik.
"Iya."
Daniel menekan tombol yang tersembunyi di meja kerjanya. Begitu tombol ditekan, semua tirai di ruang kerja itu secara otomatis menutup dan lampu dimatikan. Muncul hologram tiga dimensi tepat di tengah-tengah meja kerja tersebut. Hologram yang ditampilkan adalah sebuah patung ular berwarna hitam dengan mulut mengangah.
__ADS_1
"Ini adalah patung ular Black Mamba yang menjadi harta warisan keluarga kita. Saat ini patung tersebut tersimpan di kediaman utama keluarga Flors. Nilainya tidak terlalu berharga, untuk sekarang."
"Kenapa?"
"Karna patung itu tidak lengkap sama sekali," Daniel memperbesar gambar patung tersebut tepat ke mulut ular yang terbuka lebar. "Ada bagian yang hilang di dalam mulut patung ini. Bagian yang hilang itu berupa permata kuno yang tampak gelap namun sebenarnya memiliki warna biru bila terkena cahaya."
"Bagaimana bisa hilang? Benda yang begitu berharga di keluarga Flors apa tidak dijaga?"
"Permata itu dicuri oleh orang kepercayaan kakekmu 9 tahun yang lalu."
"Sudah lama sekali berarti," Julius cukup terkejut mendengarnya.
"Iya. Si pencuri itu sebenarnya telah di eksekusi mati namun permatanya berhasil ia jual di suatu pelelangan. Kami sudah mencari permata itu kemana-mana selama ini. Tapi permata tersebut bak hilang di telan bumi. Semua petunjuk yang di dapat berakhir dengan jalan buntu."
"Lalu sekarang papa memintaku mencari permata yang sudah lama hilang itu?"
"Selama 9 tahun ini papa tidak perna menyerah mencari permata tersebut. Telah banyak papa menemukan permata yang serupa namun bukan permata yang dicari. Permata yang ada di patung ular ini sangat istemewa. Keunikannya adalah dapat memancarkan 3 warna dasar apabila terkena cahaya matahari."
"Memang benar. Tapi permata warisan keluarga Flors tidak hanya mampu memancarkan 3 warna saja. Jika terpapar sinar ultraviolet permata itu dapat memancarkan 7 warna berbeda."
Daniel mengganti gambar hologram dihadapannya. Sekarang hologram tersebut menampilkan sebuah pulau kecil dengan satu bangunan berdiri kokoh di tengah-tengah pulau yang dikelilingi hutan.
"Misimu kali ini akan menghadiri sebuah pelelangan di pulau ini. Di salah satu daftar barang lelang disana ada satu permata yang kemungkinan adalah permata yang dicari. Permata itu kini telah berubah menjadi hiasan berbentuk kura-kura emas dengan permata tersebut sebagai tempurungnya," Daniel menampilkan barang yang dimaksud. "Kau harus memenangkan permata tersebut di acara lelang yang akan diadakan besok siang."
"Baiklah. Jadi tugasku cuman membeli permata itu."
"Iya. Tapi berhati-hatilah Julius. Acara pelelangan ini sangat berbeda dengan acara pelelangan yang diadakan di rumah lelang Red Krisan. Pelelangan ini juga dikenal sebagai acara pelelangan paling berdarah yang perna ada. Qazi akan menemanimu kesana dan menjelaskan lebih rinci tentang acara pelelangan tersebut. Kalian akan berangkat menggunakan kapal feri siang ini. Perjalanan dari pelabuhan kota menuju pulau itu terbilang cukup jauh."
__ADS_1
Hologram yang ditampilkan dimatikan. Semua tirai kembali bergeser agar cahaya pagi bisa masuk dan menerangi ruang kerja itu.
"Kalau begitu aku akan segera bersiap-siap," Julius bangkit dari kursinya dan hendak beranjak pergi.
"Julius," panggil Daniel membuat langkah putranya terhenti. "Permata itu memang sangat penting bagi keluarga Flors, namun kau jangan terlalu memaksakan dirimu. Nyawamu lebih berarti dari pada seongok batu kuno itu. Jika kau tidak berhasil mendapatkannya sebisa mungkin selidiki saja siapa yang berhasil mendapatkan permata tersebut."
"Papa tidak perlu khawatir. Aku pasti akan mendapatkannya," kata Julius penuh percaya diri.
"Maaf karna terpaksa merusak liburan mu. Di hari saat pelelangan itu diadakan, papa malah diminta kembali ke kediaman utama."
"Bagaimana dengan Julia, Adelia dan Adelio?"
"Adelia dan Adelio ikut mama mu keluar kota dan Julia akan ikut papa kembali ke kediaman."
"Setidaknya dia akan aman bersama papa," batin Julius. "Aku permisi dulu."
Julius melangkah pergi kembali ke kamarnya. Ia menyiapkan semua keperluan yang harus dibawa untuk menjalankan misinya kali ini, seperti pakaian ganti, senjata dan beberapa serbuk racun yang mungkin berguna. Disaat Julius tengah bersiap-siap, ia sedikit dikagetkan dengan Julia yang menerobos masuk begitu saja ke kamarnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε