
"Aku tidak bisa mempercayai mu kau tidak berbuat curang."
Samuel melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sisi kanan, lalu ia menggulung lengan kemeja nya. "Kau lihat sendiri sekarang, aku tidak memiliki senjata apapun. Aku tidak akan berbuat curang."
"Tendang belati itu sejauh mungkin!"
"Baiklah," Samuel menedang belati tersebut sampai hilang dari pandangan mereka.
Daniel melemparkan pistolnya, kemudian ia melepaskan jas yang ia kenakan. Mereka mulai maju dan bersiap melakukan serangan. Daniel menyerang duluan dengan mengayunkan tinjunya. Samuel berhasil menghindar, kemudian giliran ia menyerang. Daniel berusaha menangkis serangan tersebut. Pertarungan diantara mereka semakin segit. Apalagi masing-masing serangan mereka berhasil mengenai lawan. Daniel hampir tersengkur disaat kepalan tinju Samuel mengenai rahangnya. Darah mengalir di ujung bibirnya. Tidak terima akan hal itu, Daniel membalas. Satu tendangan mendarat di pinggang Samuel. Tidak sampai disitu, Daniel menyerang lagi dan lagi tanpa memberi kesempatan Samuel membalas sampai akhirnya Samuel berakhir terpental jauh.
"Berdirilah jika kau masih mampu melawanku," tantang Daniel.
"Ciuh!" Samuel meludahkan darah yang ada di mulutnya sambil berusaha bangkit. "Lumayan Daniel. Tapi maaf saja aku tidak menemanimu sampai akhir. Ada pejamuan yang harus aku hadiri besok di luar negeri. Adiós."
Samuel melompat terjun dari gedung tersebut tapi sebelum itu dalam persekian detik dengan gerakan tangan yang cepat, Samuel menembakan belati kecil ke arah Daniel. Karna serangan tiba-tiba, Daniel kurang cukup cepat menghindari. Belati itu berhasil menggores lengan kanannya.
"Beraninya kau melarikan diri Samuel!!!" betak Daniel.
Muncul sebuah helikopter, terbang ke atas dengan Samuel sudah ada di dalamnya.
"Selamat menikmati detik-detik terakhirmu Daniel. Aku sudah melumuri belati itu dengan racun. Sedikit saja kau tergores akibat belati itu maka racunnya akan langsung menyebar ke aliran di seluruh tubuhmu. Semoga kita dapat bertemu lagi di kehidupan selanjutnya," teriak Samuel di sela-sela suara helikopter yang berisik.
"Cih!"
"Oh, iya aku hampir lupa memberitahu mu. Aku sudah menebar bom di seluruh penjuru gedung itu!" ia menujukan sebuah remot kontrol dengan satu tombol merah. "Terimalah hadiah kecil yang telah aku siapkan untukmu Daniel!"
Tidak menghiraukan ocehan Samuel yang tidak jelas terdengar. Daniel menarik pistol yang terselip dibelakang tubuhnya lalu segera membidik Samuel.
Dor!
Satu tembakan meluncur cepat dan tepat mengenai pergelangan tangan Samuel sebelum ia sempat menekan tombol remot tersebut. Remot kantrol yang ada ditangannya kini terpental jatuh.
"ARGH ! ! Sialan kau Daniel!!!" bentak Samuel geram sambil mencengkram tangannya yang terluka. Ia meminta pada pilot untuk segera pergi dari tempat itu.
"Sepertinya aku lupa mengisi ulang pistol ini. Aku akan membalasmu lain hari bocah tengik!" Daniel mengeluarkan hpnya lalu menghubungi Norman dan Jony. "Kumpulkan seluruh anggota, urusan kita sudah selesai disini."
"Baik, tuan muda."
Daniel memungut remot kontrol yang terlempar dari tangan Samuel tadi. Beruntung jatuhnya remot itu tidak tepat menekan tombolnya. Ia berjalan turun ke bawah untuk menemui anggotanya yang lain.
Di dalam mobil yang telah melaju meninggalkan gedung itu, Daniel menekan tombol pemicu bom yang disebar Samuel di dalam gedung tersebut. Ledakan dahsyat seketika menghancurkan bangunan tujuh lantai tersebut. Kobaran api terlihat jelas melalui kaca jendela mobil.
__ADS_1
"Obat penawar yang diberikan kucing kecil sungguh sangat berguna. Aku sama sekali tidak merasakan apa-apa dari efek racun itu. Samuel pasti akan sangat terkejut begitu mengetahui racunnya tidak mempan padaku," gumang Daniel sambil memperban luka di lengannya.
Jam 22.17 Daniel baru sampai di rumah dengan keadaan lampu utama telah dimatikan. Semua orang pasti sudah tidur termasuk Lina. Ia tidak perlu khawatir kalau-kalau Lina akan melihatnya dalam kondisi seperti ini. Daniel berjalan santai menuju kamar. Disaat baru membuka pintu kamar, Daniel di kejutkan dengan lampu kamar yang masih menyala.
"Daniel, akhirnya kau pulang juga," Lina turun dari tempat tidur dan langsung menghapiri Daniel yang berdiri di depan pintu.
"Kau belum tidur?"
"Tidak bisa tidur. Eh? Ada apa dengan wajahmu?" tanya Lina begitu melihat sebam di ujung bibir Daniel.
"Ini..."
Belum sempat Daniel menjelaskan, Lina sudah menariknya masuk. Di suruh nya Daniel duduk di pinggir kasur, lalu ia berlalu pergi benganbil kotak obat. Lina duduk di samping Daniel begitu kembali dengan kota obat di tangannya. Dituangkannya alkohol secukupnya diatas kapas lalu perlahan di oleskannya di sudut bibir Daniel yang terluka.
"Sstt..." Daniel sedikit mendesit begitu rasa dingin dan perih dari alkohol menyentuh lukanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Masalah apa yang membuatmu berakhir seperti ini?" tanya Lina.
Daniel tidak menjawab. Ia mala mengambil remot tv dan menekan tombol disana. TV menyala. Dicarinya saluran yang menanyangkan berita tentang penggerebekan senjata ilegal dan narkotika di pelabuhan siang tadi.
"Ada penyusup yang membocorkan informasi pengiriman barang hari ini dan melaporkannya ke polisi. Kerugian yang dialami lebih dari ratusan juta dolar," jelas Daniel.
"Lalu, apa penyusup telah tertangkap?" Lina kini beralih mengobati luka di lengan Daniel.
"Lukamu ini ada racunnya."
"Kau bisa tahu?"
"Disekitaran lukamu menghitam. Jika tidak diobati dengan baik akan meninggalkan bekas. Hoam..." Lina menguap karna ngantuk setelah selesai memperban kembali luka Daniel. Matanya sudah tidak tertahan lagi untuk terbuka.
"Sebaiknya kau tidur."
"Aneh, tadi mataku tidak mau terpejam sama sekali tapi sekarang terasa berat."
"Tidurlah. Aku mau mandi dulu," Daniel beranjak lalu melakah menuju kamar mandi.
"Hati-hati, lukamu jangan terkena air dulu."
"Baik...lah" begitu Daniel menoleh, Lina sudah tertidur.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
__ADS_1
Dikediaman keluarga Cershom. Kembali ke jam 16.26.
"Violet! Violet!" panggil Ducan namun tidak ada balasan. Ia bertanya pada pelayan yang kebetulan lewat.
"Nona belum pulang juga tuan besar."
"Kemana dia?"
"Katanya mau berbelanja."
"Kerjaannya menghamburkan uang saja. Aku sungguh tidak sanggup menyerahkan Token rumah lelang ini padanya," batin Ducan. "Jika dia pulang nanti, tolong sampaikan padanya untuk segera temui saya."
"Baik."
Ducan berlalu pergi ke lantai atas menuju kamarnya. Satu setengah jam menunggu akhirnya Violet pulang. Ia segera menemui ayahnya begitu mendapat pesan dari pelayan tadi.
"Ayah. Ada apa ayah mau bertemu denganku?" tanya Violet begitu menemukan ayahnya yang ada di ruang kerja.
"Berapa usiamu sekarang?"
"Pertanyaan aneh apa itu?"
"Jawab saja."
"21 tahun."
"Aku rasa sekarang waktu yang tepat," Ducan mengambil kotak perak dari dalam laci meja kerjanya dan meletakkannya di atas meja. "Bukalah. Ini adalah wa, warisan i,bumu. Ia memintaku memberikannya padamu disaat umurmu telah menginjak 21 tahun."
Violet meraih kotak itu lalu membuka nya. "Warisan ibu hanya sebuah batu giok kusam? Hah. Kerikil yang kutemukan di jalan hari ini lebih cantik dari pada batu giok ini," Violet meletakan kotak tersebut sedikit kasar.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε