
"Yang mana satu ruangan kemungkinan Ny. Sara berada?" tanya Lina.
"Tidak bisa dipastikan. Kita terpaksa harus memeriksa ruangan ini satu persatu."
"Tapi semua ruangan ini terkunci."
"Aku bisa membukanya, cuman... Itu akan memerlukan waktu jika harus memeriksa semuanya satu persatu," ujar Julia.
"Tidak perlu memeriksanya satu persatu. Kita cukup memeriksa rekaman cctv," tunjuk Julius pada salah satu cctv yang ada di sudut lorong.
"Memeriksa cctv? Bagaimana caranya?"
"Aku tidak punya leptop untuk mengakses sistem keamanan gedung ini."
"Apa dengan ini bisa?" Samuel menyerahkan tab pada Julia. Ia ingin mencari tahu apa benar gadis kecil dihadapannya ini bisa menyusup sistem keamanan.
"Iya, bisa," Julia menerima tab itu.
"Apa kau sungguh yakin bisa melakukannya? Kau masih kecil," kata Lina meragukan kemampuan putrinya sendiri.
"Putri mama kan sangat hebat. Tentu saja bisa melakukannya."
Julia mulai mengakses sistem keamanan gedung. Jari-jemari mungil nya begitu lincah menekan tombol-tombol keyboard. Cuman butuh waktu lima menit rekaman cctv gedung ini sudah muncul di layar tab.
"Wow... Kau memang hebat. Di seusiamu ini kau telah mampu menerobos sistem keamanan," puji Lina.
"Aku belajar dari ahlinya. Okey. Ini rekaman cctv di lorong ini 10 menit yang lalu."
Julia memperlihatkan rekaman cctv tersebut pada yang lain. Dari haris rekaman, Sara terlihat keluar dari lif kemudian masuk ke ruangan ke empat dari kiri. Sebelum masuk ke sana Julia sempat memeriksa ruangan tersebut dengan waktu aslinya. Ruangan itu terbagi tiga namun cuman cctv di ruang utama saja yang bisa Julia akses.
Melihat keadaan aman di ruang utama, mereka bergerak masuk setelah Julia berhasil membuka kunci pintu. Ruangan utama itu kosong, tidak ada siapa-siapa namun mereka mendengar suara tawa Sara. Samuel berjingkat mendekati asal suara tersebut diikuti yang lain. Baru hendak mengintip dari cela pintu yang terbuka sedikit, Samuel dan Lina mendapati Sara berciuman mesrah dengan seorang pria. Dengan cepat Lina menutup mata Julius dan Samuel menutup mata Julia sebelum kedua anak ini melihatnya.
"Kenapa mataku ditutup? Memang apa yang terjadi?" tanya Julia dengan polosnya.
"Tidak ada apa-apa."
Samuel dan Lina baru menurunkan tangan mereka setelah adegan yang tak patut dilihat itu selesai.
__ADS_1
"Kapan kau mau membunuh si tua bangka itu?" tanya pria tersebut pada Sara.
"Malam ini. Aku baru kehilangan satu pelayan yang aku tugaskan untuk memberi racun seperti biasa dan bahkan berserta mangku itu juga. Aku sudah bertanya pada pelayan lain namun tidak ada satupun yang tahu. Aku masih menyelidiki hal ini."
"Apa mungkin pelayan tersebut telah ketahuan dan dibunuh?" tebak pria tersebut. Ia meminta dituangkan anggur pada salah satu bawahannya.
"Jika memang ketahuan pasti telah terjadi kericuhan di rumah dan George akan memberitahu ku bahwa ada penghianat. Dia kan sangat mempercayai ku."
"Bagaimana kau pelayan tersebut buka suara?"
"Tidak mungkin. Dia orangku yang setia. Dia tidak akan berani berbicara macam-macam," Sara terlihat percaya diri sekali.
"Aku kasihan melihatnya. Ia begitu percaya pada pelayan yang ia tugaskan tapi nyatanya orang kepercayaannya itu secara terang-terangan menyebutkan namanya tanpa perlu diacam," kata Lina yang terus mendengarkan percakapan mereka.
"Dia bodoh," timpal Samuel.
"Aku sudah tidak sabar menunggu mereka mati. Dengan begitu kita bisa menguasai seluruh harta benda milik George."
"Aku juga. Rencana malam ini harus sukses besar."
"Lebih baik kita cepat-cepat memberitahu hal ini pada Tn. George dan bersiap untuk serangan mereka," saran Lina.
"Kau benar. Ayok pergi."
"Kalian tidak akan pergi kemana-mana."
Belum sempat Samuel berbalik, sebuah pistol telah diarahkan ke kepalanya. Ia mengangkat sebelah tangan dengan tangan satunya masih di bahu Julia. Lina juga tidak bisa bergerak sembarangan. Ia menarik Julius ke dekatnya. Dan untuk Julius serta Julia, mereka terlihat tenang-tenang saja dihadapkan dengan situasi menegangkan tersebut.
"Jalan!" pria bersenjata itu menggiring mereka berempat menghadap Sara dan bosnya.
"Oho... Lihatlah sayang. Keluarga kecil putra tirimu datang berkunjung," ujar pria itu sambil membuat Sara menoleh.
"Samuel? Velia? Apa yang kalian lakukan disini? Dan siapa anak-anak manis ini?" tanya Sara dengan senyum sinis di wajahnya.
"Lepaskanlah mereka! Urusanmu denganku. Mereka tidak ada kaitannya dengan ini," kata Samuel yang menatap benci wanita di depannya.
"Lalu kenapa kau membawa mereka bersamamu? Atau ini memang rencanamu, membawa anak-anak agar aku melepaskan mereka supaya mereka bisa memanggil bala bantuan. Kau pikir aku bodoh?"
__ADS_1
"Kau nenek jelek yang cukup licik juga ya," kata Julia spontan.
Samuel dan Lina sangat dikejutkan mendengar kalimat tersebut. "Gadis kecil ini terlalu berani," pikir mereka sama.
"Apa?! Beraninya kau mengataiku nenek-nenek!! Aku ini masih muda, tahu!" betak Sara tidak terima.
"Apa kau tidak perna melihat cermin? Atau kau perlu kacamata? Mau setebal apapun make up yang kau gunakan, wajah keriputmu itu tidak bisa disembunyikan, nenek," Julia mala semakin memancing emosi Sara.
Samuel segera menutup mulut Julia sebelum kata-kata kelewatan lainnya keluar dari bibir mungil itu. Sara menyentuh wajahnya dengan ekspresi malu. Ia sadar tanda-tanda penuaan dini di wajahnya sudah tampak dan ia memang berusaha tutupi dengan make up.
"Kau bocah tidak tahu di untung! Berani sekali mengejekku. Apa kau mau lidahmu aku potong dan menggantung nya dibalkon?!!" betak Sara kesal.
"Kau salah adikku. Dia itu bukan nenek-nenek tapi Jenny Greenteeth," kini Julius ikut mengejek Sara.
Julia menarik turun tangan Samuel menjauhkannya dari mulutnya. "Oh... Maksud kakak film Jenny Greenteeth yang kita tonton semalam. Iya, dia mirip sekali dengannya."
"Jika ia berwarna hijau akan lebih mirip lagi."
Ejek Julius dan Julia semakin membuat Sara kesal. "Dasar kau bedebah!!! Apa kau sungguh ingin mati bocah?!!" ia mengacungkan pistol ke arah Julius dan Julia.
"Sekarang kak!"
Bersamaan dengan teriakan itu Julius melemparkan semacam bola berwarna hitam ke udara. Dalam sedetik bola itu meledak dan menyebarkan asap yang seketika mengepul memenuhi ruangan. Hal itu membuat jarak pandang berkurang. Julius dan Julia mengambil kesempatan ini menyerang dengan menggunakan belati kecil kesayangan mereka. Dengan secepat kilat mereka berhasil membunuh tiga anak buah kekasih Sara yang ada disana. Julius tidak dapat membunuh Sara karna dihalangi pria disampingnya. Julius hanya berhasil melukai tangan Sara sampai ia melepaskan senjatanya. Perlahan asap menipis. Samuel dan Lina sangat tercengang atas apa yang telah dilakukan Julius dan Julia.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1