
"Aku lihat kau membeli sebuah racun seharga 500.000 dolar. Untuk apa itu?" tanya Ducan pada Violet.
"Tentu saja untuk membunuh seseorang."
"Kekasih Daniel itu?" tebak Ducan.
"Siapa lagi kalau bukan dia. Aku tidak peduli lagi membuat ia menderita. Kematiannya adalah cara terbaik untukku menarik Daniel ke sisiku."
"Aku harap rencana tersebut gagal. Aku sedikit menyukai gadis itu, karna ia telah memberi pelajaran pada putri angkat ku yang sombong ini. Akan sangat disayangkan kalau ia mati," batin Ducan. "Aku ke toilet dulu."
Ducan beranjak pergi meninggalkan Violet. Bukan pergi ke toilet tapi melainkan pergi ke tempat pengajuan barang lelang. Master ahli racun Oleander telah menarik perhatiannya. Ia sangat penasaran siapa Master ahli racun ini. Walau oa menggunakan nama samaran Oleander tapi syarat mengajukan suatu barang yang ingin di lelang diharuskan mengisi data diri yang asli. Data ini tidak sembarang orang bisa melihatnya. Rumah lelang Red Krisan sangat ketat menjaga dokumen-dokumen penting mereka. Namun Ducan memiliki akses untuk mengetahui sebagian kecil dari dokumen-dokumen tersebut.
"Selamat malam Tn. Cershom. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin mengetahui identitas asli dari Oleander."
"Oh... Mari ikuti saya Tn. Cershom," wanita itu menuntun Ducan ke ruang bagian penyimpanan data. "Sepertinya Oleander telah menarik perhatian anda Tn. Cershom."
"Iya. Saya sangat penasaran siapa Master ahli racun ini. Ia pasti orang yang sangat hebat seperti julukannya."
"Dia memang gadis yang hebat. Diusia mudanya sudah dapat membuat racun tersebut."
"Seorang gadis? Saya kira ia seorang kakek-kakek tua."
"Tidak. Dia masih sangat muda. Jika pertama kali melihatnya pasti beranggapan kalau ia masih anak sekolahan," wanita itu memberikan selembar kertas pada Ducan. "Ini data asli dari Oleander, sang Master ahli racun tersebut."
Begitu membaca nama asli yang tertera di kertas tersebut, Ducan sangatlah terkejut. "Ve-lia-na. Namanya Veliana?"
"Iya. Ia tidak memiliki marga karna ia seorang yatim piatu. Ia tidak tahu siapa orang tua kandung nya. Gadis yang malang."
"Dia putriku."
"Apa? Pitri anda?" wanita itu sangat kebingungan melihat reaksi Ducan.
__ADS_1
"Veliana adalah putriku. Apa gadis ini mengenakan sebuah liontin kunci?"
"Dia memang mengenakan sebuah kalung tapi saya tidak tahu itu sebuah liontin kunci atau bukan."
"Ternyata benar. Ia memang putri kandungku Veliana. Akhirnya, setelah pencarian yang begitu lama akhirnya aku menemukan titik terang. Putriku masih hidup. Ariana lihatlah, putri kita masih hidup. Andai kau masih ada disini, kau pasti sangat bangga ketika mendengar kalau putri kita telah menjadi seorang master ahli racun yang sangat hebat di usia mudanya. Aku pasti membawanya kembali," Ducan mendekap lembaran kertas itu dalam pelukannya. "Apa ada data lain selain kertas ini, seperti fotonya atau alamat dan sebuah kontak telpon?"
"Kami sangat menghargai privasi nya, jadi kami tidak memaksa ia untuk mengisi keseluruhan data itu secara lengkap. Yang kami perlukan hanya nama asli serta tanda tangannya saja."
"Apa dia masih ada di sekitaran rumah lelang ini?"
"Dia langsung pulang setelah menerima pendapatannya dari hasil melelang racun dan penawar racun tersebut."
"Saya mohon padamu untuk mencari akse yang dapat menghubungi gadis ini, bagaimanapun caranya. Dan tolong segera beritahu saya jika kau sudah mendapatkannya. Saya harus segara pulang untuk melakukan pencarian lebih lanjut," Ducan bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Tunggu Tn. Cershom..." wanita itu mencoba mencegat Ducan pergi namun sudah terlambat. Ducat sudah hilang di kerumunan disaat ia hendak mengejarnya. "Hah... Aku lupa memberitahu kalau gadis itu pergi bersama tuan muda dari keluarga Flors. Ya sudahlah. Aku akan memberitahukannya setelah menyelesaikan tugasku disini."
Sementara itu.
"Ayah pergi kemana sih? Tidak mungkin cuman ke toilet saja selama ini. AAAH....... Ayah.....! Apa kau melupakan putrimu ini lagi?!!" teriak Violet kesal.
Setelah pulang dari acara lelang dan juga setelah membaringkan Lina ke tempat tidur, di ruang kerja Daniel memanggil Qazi untuk mempertanyakan hasil penyelidikannya.
"Qazi. Bagaimana hasil penyelidikanmu selama seminggu ini?" tanya Daniel.
"Masih belum membuahkan hasil tuan muda. Orang tersebut benar-benar telah memutuskan kontak dengan para preman itu. Kami sudah menyelidiki seluruh petunjuk yang ada tapi semuanya menuju jalan buntu. Saya juga telah melakukan penyelidikan pada orang-orang yang memiliki kemungkinan melakukan hal tersebut, tapi saya tidak menemukan bukti apapun kalau salah satu dari mereka adalah orangnya," jelas Qazi.
"Siapa saja orang yang kau selidiki?"
"Hampir seluruh orang yang ingin menjatuhkanmu, seperti..."
"Disini kesalahanmu," potong Daniel.
"Kesalahan?!" mendengar itu membuat Qazi tersentak. Ia langsung membungkukkan badannya lalu bertanya. "Mohon maaf tuan muda, bisa beritahu letak kesalahan saya ada dimana?"
__ADS_1
"Kesalahanmu ada di penyelidikan orang-orang yang berkemungkinan menjadi dalang dari kasus ini. Orang tersebut sama sekali tidak ada kaitanya denganku."
"Maksud anda..."
"Iya. Tujuan orang itu memang mengincar kucing kecil. Ia membunuh Ramona sepertinya untuk memberi ancaman dan peringatan pada kucing kecil."
"Tapi siapa dia? Dilihat dari ketelitiannya, dia bukanlah orang biasa. Lina... Em... Maksud saya nona Lina hanyalah gadis yang berasal dari desa dan dikenal lugu, sangat kecil kemungkinan ia terlibat dengar orang-orang seperti ini. Orang besar mana yang telah ia singgung?"
"Suruh seseorang untuk menyelidiki orang-orang yang dinyatakan hilang dan masih belum ditemukan sampai sekarang. Apa ada di antara mereka yang memiliki latar belakang yang sesuai dengan kriteria orang yang kau cari?"
"Baik. Saya akan segera menjalankan perintah tuan muda."
"Oh, iya. Untukmu aku minta kau secara pribadi menyelidiki latar belakang kucing kecil sebelum dia diadopsi Ramonanya. Aku berpendapat kalau latar belakang kucing kecil tidaklah sederhana yang kita kira. Selidiki juga penyebab kematian ibunya, dan juga jangan ada siapapun yang tahu tentang misimu ini, termasuk kucing kecil. Mengerti?"
"Baik. Saya undur diri dulu."
"Pergilah."
Qazi melangkah keluar dari ruang kerja itu meninggalkan Daniel sendirian. Daniel memandang sunyi nya kota dari dinding kaca transparan di ruang kerjanya yang memang menyajikan pemandangan ibu kota pada malam ini.
"Veliana. Siapa dirimu yang sebenarnya? Aku ingin sekali mengetahui hal itu. Kenapa ada orang yang ingin sekali mencelakai mu? Tapi siapapun itu, aku tidak akan membiarkannya menyakiti kucing kecil ku."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε