Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Untuk sekarang aku yang menang, Lina


__ADS_3

"Kenapa kau kabur, Violet? Kau bilang kau belum kalah dariku. Kalau begitu, ayok lawan aku."


"Sebenarnya aku memberimu satu kesempatan tapi kau menyia-nyiakannya. Aku akan kabulkan permintaanmu yang ingin mati hari ini!!" dengan tangan kosong Violet menyerang Lina.


"Hah! Apa kau sungguh yakin dapat membunuhku? Aku tidak akan mati semudah itu!"


Perkelahian mereka kini berlanjut di jembatan tanpa senjata. Aksi pukul, tangkis, tendangan dan menghindar mereka lakukan secara bergantian. Beberapa kali Violet mendapat pukulan dari Lina yang membuatnya tersungkur. Lina juga sama. Ilmu bela diri yang Violet kuasai selama ini cukup bisa membuat ia muntah darah begitu kecolongan. Yang tidak disangkah oleh Lina adalah, Violet menggunakan sisa dari hiasan rambutnya sebagai senjata untuk menusuk jantung Lina.


Walau Lina menyadari serangan tiba-tiba itu, namun masih belum cukup cepat baginya menangkisnya sepenuhnya. Hiasan rambut itu tepat menancap di dada Lina, sedikit lagi menembus jantungnya. Tapi hal tersebut masih membuat Lina kehilangan setengah kesadarannya. Violet memanfaatkan situasi ini menerjang Lina sampai membuat ia jatuh ke sungai.


"Sungguh sangat merepotkan melawanmu, Lina. Cuman masih tetap aku yang menang. Jangan bersedih. Aku akan merawat keluarga kecilmu itu," Violet memberi isyarat pada salah satu bawahannya untuk menghampiri. "Temukan mayatnya. Aku ingin memastikan ia benar-benar mati!"


"Baik nona."


Dengan menggunakan mobil Lina, Violet menancap gas pulang ke kediaman. Dengan menggunakan identitas Lina, ia menyamar agar bisa mendapatkan semua hak Lina secara keseluruhan. Dengan matinya Lina, tidak ada lagi yang bisa menjadi penghalangnya. Itu menurutnya.


Dua penjaga kediaman dikejutkan dengan keadaan mobil Lina yang rinsek di bagian depan sisi kiri begitu memasuki halaman rumah. Mereka segera melaporkan hal ini pada Daniel sambil menghampiri mobil Lina untuk melihat kondisi pengemudi. Mendapat kabar itu membuat Daniel bergegas keluar.


"Kucing kecil, apa yang terjadi pada mu?" Daniel seketika memeluk Lina (Violet) disaat melihat keadaannya yang kacau begitu keluar dari mobil.


"Mama... Hiks... Hiks... Mama kenapa?" dalam tangis yang terisak Julia berlari keluar dan seketika memeluk Lina (Violet) bersama Julius.


"Jadi, mereka anak-anak Lina. Ternyata Lina hamil anak kembar waktu itu," batin Violet. "Jangan sedih, mama tidak apa-apa."


"Sudah, sudah. Ceritanya di dalam saja."


Daniel mengajak Lina (Violet) masuk ke rumah. Dengan senyum lebar di dalam hati Violet melangkah masuk. Di dalam, beberapa pelayan segera menyiapkan kotak obat dan sebaskom air untuk mengobati semua luka yang Lina (Violet) alami. Dan dua diantara mereka juga membawakan kopi panas serta handuk untuk mengeringkan tubuh Lina (Violet).


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Daniel yang duduk di sofa berbeda agar para pelayan lebih leluasa mengobati luka Lina (Violet).


"Aku mengalami kecelakaan. Aku tidak terlalu ingat dengan pasti apa yang terjadi. Semuanya berlalu begitu cepat. Jalanan sangat licin, aku kehilangan kendali mobilku dan berakhir menabrak pohon. Aku sempat pingsan sebentar..."


"Kenapa kau tidak menelponku?" potong Daniel.


"Iya. Mama seharusnya menelpon kami jika mengalami kecelakaan. Kenapa memaksakan diri mengendarai mobil untuk pulang?" tanya Julius yang duduk di samping papanya.


"Aku..."

__ADS_1


"Hp nona ketinggalan di kantornya," kata Emma sambil menghampiri. Ia meletakan hp Lina di atas meja. "Aku mengambilkannya untuknya. Tapi begitu kembali ke parkiran, kulihat mobil nona Lina sudah tidak ada. Aku pikir nona pulang duluan, jadi aku langsung saja kembali ke kediaman untuk mengantarkan hpnya. Maafkan aku nona Lina. Aku tidak tahu kalau kau mengalami kecelakaan."


"Tidak apa-apa."


"Lukamu sudah diobati. Sebaiknya kau ganti bajumu dan segera istirahat. Besok aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu," Daniel meraih hp Lina dan memasukannya ke saku jasnya. "Julius, Julia. Kembalilah ke kamar dan tidur."


"Baik papa," jawab Julius.


"Tapi aku ingin bersama mama," kata Julia yang masih menangis.


"Mama harus banyak-banyak istirahat agar bisa cepat pulih," bujuk Daniel sambil mengelus lembut rambut Julia.


"Itu benar Julia. Kita jangan menggangu mama istirhat," Julius menarik tangan Julia kembali ke kamar. "Kami kembali ke kamar dulu." teriaknya sambil pergi.


"Mari aku antar kau ke kamar."


Daniel membantu Lina (Violet) berdiri dan membimbingnya kembali ke kamar. Sampai di kamar, Lina (Violet) segera membersikan dirinya dan mengganti baju dengan pakaian yang baru dibawakan pelayan. Ia kemudian membaringkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur. Daniel menghampiri Lina (Violet) lalu mengambil tempat duduk di tepi kasur.


"Kau istirahatlah. Ada sesuatu yang harus aku urus sebentar," ujar Daniel yang dibalas anggukan. Ia berdiri lalu melangkah keluar.


"Yang benar saja. Tidak ada kecupan selamat malam? Kehidupan mereka tidak seromantis yang aku kira. Ya sudahlah. Yang penting Daniel milikiku sekarang," Violet menarik selimut dan lekas tidur.


"Ada perlu apa tuan muda?"


"Qazi, selidiki apa yang terjadi dengan Lina dari sore sampai malam ini. Aku merasa kalau dia bukanlah kucing kecil."


"Maksud tuan? Jika dilihat dari penampilannya, ia jelas nona Lina." tanya Qazi yang bingung.


"Jika dilihat sekilas, ia memang mirip dengan kucing kecil. Tapi dia tidak bisa meniru gelagat kucing kecil yang imut serta kucing kecil tidak akan meninggalkan Emma begitu saja tanpa alasan. Dan kejangalan yang paling mencolok terjadi disini yaitu, tidak mungkin tinggi kucing kecil bisa bertambah walau itu cuman tiga cm dan tanpa mengenakan sepatu hak tinggi pula."


"Itu jelas sangat aneh."


"Maka dari itu, temukan dia sekarang!"


"Baiklah tuan muda."


"Dan ingat, jangan ada yang tahu soal ini. Aku akan mengikuti permainannya dan mencari tahu siapa dia serta tujuannya. Aku merasa dia akan menggunakan kucing kecil sebagai sandra apabila identitasnya ketahuan."

__ADS_1


"Dimengerti."


Daniel memberi isyarat pada Qazi untuk segera mengerjakan tugasnya. "Oh, sayang. Dimana kau berada? Aku harap kau akan baik-baik saja."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Kakak! Kenapa kau menarik ku ke kamar? Mama sedang terluka. Aku ingin bersamanya," Julia berusaha menepis cengkraman tangan Julius.


"Nanti dulu Julia. Apa kau tidak merasa ada sesuatu yang janggal?"


"Janggal?"


"Iya. Kau lihat saja tadi, sikap papa pada mama sedikit berbeda dari biasanya."


"Benar juga. Papa tidak merasa khawatir melihat mama terluka parah seperti itu. Biasanya, apabila mama terluka biarpun itu luka kecil saja, papa sendiri yang paling lebai."


"Itulah yang sendari tadi aku perhatikan. Apa yang sebenarnya terjadi pada mama dan papa?"


"Apa mungkin mereka sedang bertengkar?"


Julius mengangkat sebelah alisnya. "Apa iya? Papa dan mama tidak perna bertengkar selama ini. Walau memang papa sering membuat mama kesal."


"Bagaimana kalau kita selidiki ini? Kita cari tahu apa benar mereka sedang bertengkar?" saran Julia.


"Tumben otakmu sepemikiran denganku. Kalau begitu ayok."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2