Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Salah memilih sandra


__ADS_3

"Julia!"


Teriak Daniel, Lina dan Julius sambil mengejar Violet yang menarik Julia ke balkon kamar. Ia berdiri tepat di tepi balkon dengan seorang sandra di tangannya.


"Jangan coba-coba mendekat atau aku akan terjun bersamanya!" ancam Violet.


"Violet, aku peringatkan kau, Jangan macam-macam pada putriku," kata Daniel memberikan peringatan.


"Bunuh dirimu Lina maka aku akan melepaskan dia! Bersediakah kau menggatikan nyawa putrimu sendiri?"


"Jika aku jadi kau, aku tidak akan melakukan itu," kata Lina yang terlihat tenang-tenang saja.


"Apa yang sebenarnya yang ingin kau katakan? Apa kau tidak menyayangi putrimu sama sekali? Nyawanya ada di ujung tanduk sekarang!" Violet cukup bingung dengan ketenangan Lina.


"Aku cuman mau bilang kalau kau itu salah menyandra seseorang. Kepribadian gadis kecil yang ada di tanganmu itu tidak semanis wajahnya. Ia sangat berbahaya."


Senyum serigai jahat terukir di wajah Julia. Belum sempat Violet menyadarinya, tanpa aba-aba Julia memukul ulu hati Violet menggunakan sikunya. Julius dengan sigap menarik tangan adiknya sebelum mereka jatuh, tapi berbarengan dengan itu ia menyerang Violet menggunakan belati.


"AAAA ! ! !" teriak Violet begitu belati tersebut mengores kulitnya.


Tidak sampai disitu. Bukannya menjauh karna telah bebas dari cengkraman Violet, Julia mala berbalik menyerang. Satu goresan belati kembali mendarat di tubuh Violet. Dua, tiga, empat dan terus-menerus. Julius dan Julia tidak memberi kesempatan bagi Violet untuk balik membalas, ditambah lagi gerakan mereka terlalu lincah. Setiap serangan yang Julius dan Julia berikan tidak menyerang titik vital sama sekali. Mereka ingin bermain sebentar.


"AWW ! ! ! Hentikan itu anak-anak nakal! ARGH!"


Bukannya berhenti Julius dan Julia mala semakin bersemangat ketika mendengar teriakan kesakitan Violet. Mereka memang sudah lama ingin melakukan hal tersebut pada Violet. Karna terlalu banyak mendapatkan luka, tubuh Violet semakin melemah. Ia kehilangan banyak darah. Sebagai penutup permainan mereka, Julius menaburkan sesuatu tepat keseluruh tubuh Violet yang terluka.


"AAAAAH............. ! ! ! Perih!!! Perih sekali! Sakit..........!!!"


Teriak Violet kesakitan sampai berguling-guling. Tidak tahan merasakan rasa sakit yang teramat menusuk sampai ke tulang, Violet memutuskan untuk loncat dari balkon. Hal hasil ia tewas seketika dengan tengkorak kepala retak akibat mendarat duluan ke tanah.


"Kalian hebat," puji Lina. Ia duduk terlutut di lantai memeluk putra-putrinya yang menghampiri.


"Aah... Aku tidak mencapai kepuasan dalam membunuh seseorang," rengek Julia.


"Kenapa?"


"Karna dia matinya terlalu cepat. Aku suka bagian penyiksaan yang seperti mama sering lakukan."


"Lawannya terlalu lemah."


"Lebih baik kalian berlatih lebih baik lagi agar menjadi semakin hebat," Lina membersikan sisa darah di wajah putra-putrinya.

__ADS_1


"Baiklah," jawab mereka bersamaan.


"Mereka akan menjadi pembunuh yang mengerikan," kata Daniel sambil membantu Lina berdiri.


"Oh, iya. Siapa yang mengantar kalian pulang? Apa Samuel?" tanya Lina karna memang ia tidak tahu hal ini. Ia bertemu Julius dan Julia tepat sebelum ia menuruni tangga.


"Iya. Paman berambut pirang itu yang mengantar kami," jawab Julius.


"Sekarang dia ada dimana?"


"Kami tadi berlari masuk begitu saja meninggalkan paman pirang itu. Kami tidak tahu ia ikut masuk juga atau tidak."


Julius melirik ke pintu lalu berkata. "Apa mungkin sudah pulang?"


"Bisa jadi."


"Sudah pulang?! Mobilnya masih ada padaku. Aku harus mengembalikannya."


"Tunggu kucing. Aku tidak melarangmu baik padanya. Hanya saja yang perlu kau tahu dia itu sebenarnya mus..."


"Dia kakak sepupu," potong Lina.


"Apa?! Bagaimana bisa?" Daniel tersentak kaget.


"Dia bagian dari keluarga tersembunyi?"


"Oh... Aku ingat. Pria bodoh di gedung itu juga memanggil paman pirang sebagai tuan muda dari keluarga tersembunyi," ujar Julius mengingat-ingat.


"Jadi paman pirang itu sungguh paman kita."


"Iya. Dia paman kalian."


"Jika begitu sebaiknya aku tidak perlu memberitahu dia soal hubungan aku dengan Samuel," batin Daniel.


"Ternyata dia adik sepupuku. Ayah akan sangat senang jika aku memberitahu hal ini padanya. Aku bahagia untukmu adik sepupuku."


Samuel melangka pergi. Ia sendari tadi berdiri di luar kamar memperhatikan semuanya secara diam-diam. Walau yang keluar dari mulunya kata 'bahagia' namun jauh dilubuk hatinya ia merasa sedih. Sedih karna ia tidak akan mungkin mendapatkan cinta dari Lina. Setelah melihat keharmonisan keluarga yang Lina miliki, tegakah ia merusak itu semua demi egonya? Tidak. Lina tidak akan bahagia sama sekali. Samuel rela tersakiti demi melihat senyum itu tetap terlukis di wajah Lina walau bukan berasal darinya.


"Sepertinya aku akan menerima tawaran kakek untuk menjalankan bisnis di Italia. Selamat tinggal Velia. Aku tidak akan melupakamu."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...

__ADS_1


Menjelang sore. Setelah menemani Julius dan Julia membersikan diri dari semua darah dan berganti pakaian, bersama keluarga kecilnya Lina berangkat menuju rumah George. Sambilan mengembalikan mobil, Lina juga membawakan racikan obat penawar dari racun Gold crystal yang sudah jadi. Sampai di rumah tersebut Lina disambut hangat oleh George.


"Velia, rupa-rupanya kau adalah putri kandung dari adikku Ariana. Sudah aku duga kalau aku tidak merasa asing padamu. Aku sangat senang begitu mengetahuinya. Kau ternyata bagian dari keluarga besar keluarga tersembunyi."


"Dari mana Tn. George tahu? Aku belum cerita sama sekali."


"Samuel sudah menceritakan semuanya," mata George tertuju pada Daniel. "Kau pasti Daniel, putra dari Rayner dan Briety. Aku sudah dengar banyak tentangmu. Kau pria yang hebat."


"Terima kasih Tn. George. Suatu kehormatan dapat berjupa dengan anda," Daniel menjabat tangan George dengan hangat.


"Dan mereka?" mata George kini beralih pada Julius dan Julia.


"Mereka anak-anak kami. Namanya Julius dan Julia," kata Lina memperkenalkan mereka.


"Mereka kembar. Anak-anak yang manis dan lucu."


"Saya disini ingin mengucapkan terima kasih karna telah merawat kucing kecilku semasa ia sakit sampai aku berhasil menemukannya dan putra-putriku berhasil membawanya kembali pulang," Daniel menoleh pada Lina.


"Seharusnya aku yang berterima kasih. Berkat dia aku mendapat harapan bisa berjalan kembali dan bahkan berhasil menangkap sang penghianat di rumah ini."


"Ngomong-ngomong dimana Sara sekarang?" tanya Lina.


"Dia ada di taman belakang, terikat di tiang besi. Kami sedang menunggu ia sadar untuk mempertanyakan alasan utama ia melakukan semua ini. Dan untuk kekasihnya itu, dia sudah tewas di tempat. Aku memang sengaja meminta bawahanku untuk membununya."


"Tn. George, Sara sudah sadar," ucap seorang pelayan yang datang menghampiri.


"Iya, aku akan kesana. Apa kalian mau ikut?" tanya George pada Lina dan Daniel.


Lina dan Daniel saling pandang. "Em... Boleh. Kalau Tn. George tidak keberatan."


"Sama sekali tidak."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2