Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pulang ke rumah


__ADS_3

Daniel membantu Lina duduk begitu yang lain masuk ke kamar tersebut. Ducan segera memeluk putrinya dengan satu titik air mata mengalir pelan ke pipinya.


"Oh... Sayang, putriku. Kau membuatku takut. Aku sempat berpikir kalau kita tidak akan bertemu lagi. Aku sungguh tidak sanggup kehilanganmu."


"Sudahlah ayah, jangan menangis. Apa yang dikatakan orang-orang nanti jika melihatmu seperti ini."


"Jangan larang aku menangis. Aku cuman manusia biasa yang masih bisa merasakan sakit dan takut. Bahkan seonggok batupun takut tenggelam," Ducan melepaskan pelukannya.


"Kau hebat Lina. Walau dalam kondisi mu mau melahirkan, kau masih bisa kabur dari mereka," puji Briety.


"Ngomong-ngomong, apa kau tahu apa yang mereka inginkan dari menculikmu?" tanya Ducan pada Lina.


"Ini juga yang ingin aku tanyakan. Menurut informasi yang di dapat dari bawahanku, kalau seluruh identitas orang yang menculikmu tidak ada kaitannya dengan kelompok mafia manapun di kota ini. Siapa mereka sebenarnya? Dan kenapa mereka menculikmu?" kata Rayner seperti bertanya pada diri sendiri.


"Apa dia berhasil kabur lagi?" tanya Lina dengan eksprisi bingung, namun yang lain lebih bingung lagi mendegarnya.


"Dia siapa kucing kecil?" tanya Daniel.


"Violet. Tidak kah kau bertemu dengannya? Dia lah yang menculikku," kata Lina membuat semua terkejut.


"Violet? Bukankah bocah serakah itu telah tewas di renruntuhan markas Stevan?" Ducan sedikit tidak percaya atas apa yang di dengarnya.


"Tidak. Dia berhasil selamat. Ya walau dia memang mengalami luka yang sangat serius dan sebelah wajahnya rusak, aku masih dapat mengenalinya," tegas Lina.


"Biarpun ia selamat, bukankah dia juga tersiksa setiap bulannya oleh racunmu," kata Daniel.


"Sepertinya atau mungkin tidak juga. Waktu aku meminta pelayan membereskan kamarnya, tidak ditemukan botol obat itu dimanapun, baik terbuang atau tersimpan. Ia mungkin meminta seseorang untuk meneliti kandungan obat tersebut agar mendapatkan resepnya. Aaaah!! Seharusnya aku tidak meminta kan obat itu untuknya! Biarkan saja dia tersiksa selamanya!" Ducan sangat kesal atas itu.


"Mau mengetahui resep obat milikku, ia tidak akan bisa. Jika pun ada seseorang yang dapat mengetahui setiap bahan yang terkandung dalam obat tersebut, itu juga tidak akan berdampak baik bagi Violet."


"Maksudmu?"


"Ada satu bahan dalam kandungan resep obat tersebut yang tidak bisa diolah sembarangan. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal pada tubuh seseorang yang meminumnya. Sistem reproduksinya akan rusak dan Violet tidak akan mungkin bisa mendapatkan keturunan," jelas Lina.


"Tapi Lina, okey dia selamat. Lalu bagaimana bisa ia menyewa sekelompok orang untuk menculikmu? Kita selama ini kan mengira kalau dia sudah dan tentunya Ducan tidak mungkin membiayai mayat hidup," kata Rayner mengutarakan pikirannya.


"Soal itu, dia mengatakan kalau sebenarnya sejak dari dulu ia membangun kekuatan tanpa sepengetahuan ayah. Ia bilang kalau ia telah memiliki puluhan bawahan dan mengembangkan bisnis jual beli ilegal dan narkotika di luar negeri," jelas Lina.

__ADS_1


"Apa?! Aku sungguh telah meremehkannya. Ternyata ia mencoba memberontak dariku! Benar-benar tidak tahu berterima kasih! Apa dia lupa siapa dirinya. Kediaman Cershom sudah memanjakannya seperti tuan putri tapi ini balasan yang ia berikan!! Aku tidak akan perna memaafkan nya. Biarlah aku yang membunuhnya dengan tanganku sendiri!" geram Ducan begitu mengetahui hal itu.


Oooooeeekk... Oooooeeekk...


Tangis dari salah satu bayi Lina membuyarkan percakapan mereka. Semua mata mala tertuju pada Via karna cuman dia yang paling dekat dengan tempat tidur bayi.


"Jangan melihat, aku cuman menyentuh pipinya. Aku tidak tahu kalau itu bisa membuat ia bangun."


Daniel berdiri mendekati tempat bayinya yang menangis lalu menggendongnya. "Ssutt... Ssutt.. Putri kecilku. Apa kau mau bertemu ibumu?"


Dengan hati-hati Daniel menyerahkan Julia untuk di gendong oleh Lina. Seperti tahu kalau ibunya yang mengendong, Julia berhenti menangis.


"Oh, astaga. Dia lembut sekali," Lina memberi satu kecupan di dahi putrinya itu.


Oooooeeekk... Oooooeeekk...


Tak lama sang putra ikut bangun dan menangis kencang. Pandangan mereka kembali pada Via.


"Bukan aku. Dia menangis sendiri," protes Via membela diri.


"Sepertinya ia juga ingin digendong olehmu, Lina," kata Briety.


Seminggu berlalu. Lina sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sampai di rumah, begitu hendak membuka pintu, Lina dikejutkan dengan pesta penyambutan yang telah dipersiapkan temannya, Ira, Via, Emma Judy dan yang lainnya. Ruang tamu dihias sedemikian rupa imutnya terbagi dua. Disisi kiri semua hiasan nya berwarna biru untuk Julius dan sisi kanan tentunya berwarna pink untuk Julia. Sebagai sentuhan akhir, beberapa foto dari masa kehamilan Lina sampai foto bayi mereka ikut dipajang disana.


"Selamat atas kelahiran bayi kalian!"


Sambut Ira, Via, Emma dan Judy bersamaan dengan confetti yang di tembakan ke udara. Potongan kertas warna-warni berterbangan di sekitar mereka.


"Wow... Sejak kapan kalian menyiapkan semua ini?" kata Lina yang terpesona dengan penyambutan mereka.


"Nona Lina!"


Emma dan Judy langsung memeluk Lina dengan air mata yang telah mengalir. Mereka berdua juga sebenarnya baru keluar dari rumah sakit kemarin. Beberapa luka ditubuh mereka terlihat masih diperban.


"Syukurlah nona Lina baik-baik saja. Kami sungguh khawatir padamu."


"Iya, kami sungguh takut sekali kehilangan mu."

__ADS_1


"Maaf, maafkan kami yang tidak menjagamu dengan baik."


"Sudah, jangan menangis. Aku baik-baik saja. Jangan terus menyalahkan diri sendiri," Lina melepaskan pelukan mereka dan mengusap air mata di kedua pipi Emma dan Judy.


"Tidak. Seandainya kami lebih kuat, kau tidak akan..."


"Ssutt..." Lina dengan cepat menutup mulut Judy sebelum ia mengucapkan sesuatu. "Masih ada Ira disini."


"Ups... Maaf."


"Tapi kemana dia?" Lina celingak-celinguk mencari Ira yang ternyata sudah ada tidak jauh di belakangnya.


"Ny. Flors, boleh aku mengendong mereka?" kata Ira dengan semangat. Entah sejak kapan ia sudah ada dihadapan Briety. Ia lebih tertarik pada sang bayi dari pada kepulangan sang ibu.


"Tentu saja boleh," dengan hati-hati Briety mengizinkan Ira untuk menggendong Julia yang ada dalam pelukannya.


"Wah... Dia sungguh menggemaskan."


"Dasar kau Ira. Tidak bisa melihat yang imut sedikit kau langsung lupa dengan temanmu ini," kata Lina sambil menggeleng pelan.


"Bukannya aku melupakanmu, Lina. Kau itu berat. Mana muna mungkin aku bisa menggendongmu, lebih baik aku menggendong replikan kecilmu ini. Aaa.... Dia begitu imut sama seperti ibunya."


"Aku bisa menggendongmu jika kau mau," bisik Daniel di telinga Lina menggoda. Ditangannya sekarang ia tengah menggendong Julius.


"Bukan itu yang aku maksudkan," Lina mendorong wajah Daniel sedikit menjauh.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2