Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Penyerangan palsu


__ADS_3

Azkya melirik Lina dari atas sampai bawah mencoba menilainya. "Jadi ini gadis miskin yang merebut tunangan temanku. Dilihat dari tampang nya memang tidak cocok bersanding dengan kakak sepupu."


"Sifat Azkya ini tidak jauh berbeda dari Violet," batin Lina.


"Hei! Kau mendengar ku atau tidak?" bentak Azkya sambil menepak meja.


"Kau berbicara pada?" kata Lina sambil menoleh pada Azkya.


"Apa?! Berani sekali kau mengacukanku! Kau pikir kau itu siapa?"


"Azkya! Berani sekali kau membentak kakak ku!" kata Via yang tidak terima.


"Diam kau! Kau tidak perlu ikut campur!" tunjuk Azkya pada Via.


"Kau..."


"Sudahlah Via," cegat Lina. "Jadi namamu Azkya ya. Apa yang kau inginkan dari ku?" tanya Lina yang kini berdiri menghadap Azkya.


"Apa yang kuinginkan? Aku ingin kau meninggalkan kakak sepupu karna aku tidak sudi kakak sepupu menikahi orang sepertimu. Kau itu tidak pantas masuk ke dalam keluarga Flors."


"Lalu menurutmu orang seperti apa yang pantas?"


"Tentu saja cuman Violet yang cocok menjadi istri dari kakak sepupu."


"Kenapa?"


"Kau tanya kenapa? Karna dia satu derajat dengan kami. Dan juga statusnya sebagai bos besar dari rumah lelang Red Krisan. Dia tidak bisa dibandingkan dengan mu yang merupakan gadis desa," kata Azkya membanggakan Violet.


"Oh, kalau seandainya Violet bukanlah bos besar rumah lelang Red Krisan, apa dia masih cocok menjadi istri Daniel?"


"Apa maksudmu berkata seperti itu Lina?!!" tanya Violet dengan nada tinggi.


"Aku cuman mengatakan 'seandainya'. Kau tidak perlu marah."


Dalam obrolan itu mereka tidak sadar kalau sedang diawasi dari berbagai sisi. Lina dan Via memang sengaja mencari kedai es krim yang cukup tersudut di taman hiburan itu. Mereka cuman ingin mencari suasana tenang setalah lelah bermain. Tapi semua ketenangan itu mala di kacaukan oleh kehadiran Violet dan Azkya. Tidak sampai disana. Hal itu mala dimanfaatkan oleh komplotan yang berencana menyerang mereka. Komplotan ini telah mengepung mereka serta sebagian bertugas mencegat orang-orang yang mau datang ke kedai tersebut.


"Target terlihat. Apa kita serang mereka sekarang?" kata seorang yang menyamar sebagai pengunjung kedai es krim itu.


"Sebentar lagi. Tunggu kondisi lebih sepi lagi," jawab orang yang bertugas memimpin serangan terebut.

__ADS_1


"Tapi ini kondisi yang paling sepi sejauh ini. Sudah seharian kita mengikutinya. Siapa menduga kalau Terget selalu berada di keramaian."


"Sepasang kekasih di meja di arah jam tiga sepertinya telah selesai. Kita serang mereka setelah dua orang pergi."


"Baik."


Selang semenit kemudian sepasang kekasih itu melangkah pergi dari kedai. Tinggallah Lina, Via, Violet dan Azkya disana. Sisa pelanggan di kedai itu merupakan komplotan yang hendak menyerang mereka. Melihat keadaan telah sepi, mereka beraksi.


"Serang mereka!" perintah pemimpin mereka.


"Laksanakan," jawab mereka serempak.


Mereka keluar seketika mengepung Lina, Via, Violet dan Azkya sambil mengacungkan sejata api. Lina, Via, Violet dan Azkya tersentak kaget dengan serangan itu. Mereka berempat refleks mengangkat kedua tangan mereka. Tapi bersamaan dengan serangan tersebut, beberapa pengawal yang ditugaskan untuk melindungi Violet segera keluar.


"Turunkan senjata kalian!" kata salah satu pengawal Violet sambil mengacungkan senjatanya.


"Oho... Jadi mereka pengawal yang ditempatkan disisi Violet untuk melindunginya. Jumlah mereka cukup banyak," batin Lina.


"Bagus. Kalian pikir semudah itu mau menyerang ku? Semuanya lumpuhkan mereka!" perintah Violet.


"Bagaimana ini, bos?"


"Serang mereka! Tangkap gadis yang mengenakan perhiasan mencolok itu hidup-hidup!"


"Sudah aku duga kan, perhiasanmu itu menarik perhatian para penjahat," kata Lina yang melirik Violet.


"Apa peduli mu? Toh, aku memiliki banyak pengawal yang siap siaga melindunggiku."


Dor! Dor! Dor!


Baku tembak terjadi disaat salah satu peyerang mulai meluncurkan tembakan. Violet, Azkya, Lina dan Via segera dibawa menuju tempat yang aman. Mereka berpisah setelah pergi sejauh seratus meter dari kedai tersebut. Violet dan Azkya langsung diantar pulang untuk keamanan mereka. Tapi Lina dan Via masih mau melihat baku tembak itu yang sebenarnya tidak berlangsung lama. Para penyerang menarik mundur begitu kalah jumlah dari para pengawal.


"Mereka menargetkan Violet. Apa mungkin mereka orang-orang itu?" kata Rey mencoba menebak.


"Bisa jadi. Tapi ada yang aneh disini. Jika mereka sungguh ingin menculik Violet, mereka tidak mungkin seceroboh ini. Menyerang secara terbuka tentunya tidak akan mungkin berhasil, dan mereka tahu itu. Menurutku mereka cuman mengeretak saja untuk mengetahui seberapa kuat penjagaan yang kita tempatkan di sekeliling Violet," ujar Lina.


"Apa kita tidak perlu mengejar mereka hari ini? Untuk mencegah kemungkinan ini merupakan jebakan."


"Bagi dua kelompok. Kelompok pertama ikuti mereka secara terang-terang dan buatlah sebisa mungkin kalian seolah-olah gagal mengikuti mereka. Kelompok kedua ikuti mereka secara diam-diam. Cari informasi siapa bos mereka."

__ADS_1


"Baik."


"Kakak memang luar biasa. Tidak heran kakak ku yang dingin itu bisa jatuh hati padamu," puji Via.


"Kau terlalu memujiku. Jadi sekarang kita langsung pulang atau masih mau main?"


"Langsung pulang tapi setelah kita naik yang itu," tunjuk Via pada bianglala yang ada di belakang Lina.


"Bianglala," Lina menoleh kebelakang. "Aku juga berpikiran yang sama."


Mereka berdua segera pergi ke arah bianglala tersebut. Tidak terasa hari telah menjelang malam. Di atas bianglala setinggi 65 meter, Lina dan Via menikmati pemandangan ibu kota pada malam hari. Kerlap-kerlip lampu menghiasi setiap bangunan dan jalan di bawah payung kegelapan.


"Wah... Indah ya," kata Lina yang terpesona dengan keindahan ibu kota.


Kletar!


Kilatan petir yang diiringi suara menggelegar dengan begitu dasyatnya. Lina sedikit kaget mendengar suara itu. Langit malam yang awalnya tenang kini mulai tidak bersahabat. Kilatan kembali terlihat jelas berulang kali bermain di atas gedung-gedung pencakar langit. Walau terlihat mengerikan namun juga terlihat indah dimata Lina.


"Sepertinya badai akan mampir malam ini," kata Via yang duduk di samping Lina.


"Badai yang dasyat."


Satu titik air hujan jatuh tepat dibalik kaca di depan Lina. Tak lama titik-titik air hujan lainnya mulai menerpa ibu kota dan semakin lebat. Kilatan petir masih menghiasi bersamaan dengan angin kencang yang juga tidak mau ke tinggal memeriahkan badai malam ini. Kafsul bianglala yang ditempati Lina dan Via saat ini tepat berada di puncak. Di ketinggian 65 meter itu, mereka dapat menyaksikan pemandangan malam berselimut badai dari dekat.


Turun dari bianglala, mereka langsung pulang. Diperjalanan mobil tidak bisa melaju terlalu cepat. Jarak pandang sedikit berkurang akibat hujan lebat dan juga jalanan menjadi licin. Akan sangat rentan terjadi kecelakaan. Jam 20.08 mereka baru sampai di rumah. Daniel menyambut mereka di ruang tamu.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2