Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Video mu beredar


__ADS_3

Besok paginya. Rica yang diantar sopir pribadi ke sekolah karna semalam ia tentunya kembali pulang ke rumah cukup dibuat bingung dengan siswa dan siswi yang sendari tadi terus berbisik antara satu sama lain disaat ia lewat. Mereka terlihat cekikikan sembunyi-sembunyi dibelakang Rica sambil memperhatikan hp mereka.


"Apa ada yang aku lewatkan? Kenapa pagi ini tingkah mereka semua aneh sekali?" pikir Rica sambil terus berjalan.


Drruuuttt...


Getar hpnya membuat Rica tersadar. Ia bergegas melihat siapa yang barusan menelponnya. Ternyata panggilan tersebut berasal dari temannya, Delfa.


"Halo..."


"Rica! Kau dimana sekarang?!!" potong Delfa sebelum Rica menyelesaikan kalimatnya.


"Aku baru turun dari mobil. Sebenarnya apa yang terjadi pagi ini? Kenapa semua orang tertawa melihatku?"


"Akan aku jelaskan nanti. Sebaiknya kau segera ke asrama, sekarang!"


Secepat ia berbicara secepat itu juga ia memutuskan telponnya. Dengan masih dilanda kebingungan, Rica bergegas menuju asrama. Sampai disana, begitu baru melangkah masuk, ia mendapati Delfa mondar mandir diruang tamu sambil menggigit kukunya. Rica segera menghampiri.


"Delfa!" panggil Rica.


"Rica, akhirnya kau sampai juga. Lihat ini," Delfa seketika menunjukan layar hpnya pada Rica.


Rica amat terkejut begitu melihat rekaman memalukannya di perjamuan makan malam keluarga Flors di hp temannya itu.


"Apa?! Darimana kau mendapatkan video ini?"


"Sejak dari semalam video ini mulai tersebar di situs resmi media sosial sekolah. Aku rasa pagi ini semua murid sudah melihatnya," jelas Delfa.


"AAAH!!! Ini pasti perbuatan gadis rendahan itu!! Cuman dia yang memiliki video ini. Dimana orang suruhanmu yang kau minta untuk menghajar dan mempermalukan ia kemarin?" dengan kesal Rica menarik krah baju Delfa untuk meluapkan amarahnya.


"Mereka bertiga ada dirumah sakit sekarang karna mengalami luka yang cukup serius," kata Delta dengan susahnya.


"Apa?!" mendengar itu membuat Rica melepaskan cengkeramannya. "Bagaimana bisa? Tidak mungkin karna..."

__ADS_1


"Tidak. Aku sudah bertanya pada mereka. Mereka mengalami kecelakaan sesaat sebelum menyerang Julia. Lagi pula aku tidak percaya kalau gadis itu dapat memuat ketiga pria seperti mereka masuk rumah sakit."


"Kau benar. Gadis rendahan itu mana mungkin melakukannya. Kalau begitu, kenapa pihak sekolah membiarkan rekaman itu terus beredar! Apa mereka juga menikmati menonton video tersebut? Ayok Delfa, temani aku ke ruang kepalah sekolah sekarang juga."


Rica menarik tangan Delfa menuju ruang kepalah sekolah yang ada di lantai tujuh bangunan sekolah. Untuk sampai disana mereka tentunya menggunakan lif yang tersedia. Tanpa pikir panjang dan mengetuk pintu lagi, Rica menerobos masuk begitu saja ke ruangan itu. Kepalah sekolah cukup terkejut begitu ada seseorang menerobos ruangannya.


"Tn. Vincent! Bagaimana bisa anda membiarkan video itu beredar? Apa anda sudah tidak ingin menjabat sebagai kepalah sekolah lagi?!!" bentak Rica begitu menghampiri.


"Tenangkan dirimu dulu nona Pinkston. Kami bukannya tidak mau menghapus video tersebut, cuman akun yang menyebarkan video itu memiliki pengamanan yang sangat ketat. Saya sudah meminta beberapa ahli untuk menerobos akun tersebut namun tetap saja gagal. Kami mengerti kekesalanmu. Pihak sekolah juga dirugikan karna tersebarnya video ini sebab beredar di situs resmi sekolah Anthony. Hal ini dapat mencemari nama baik sekolah ini."


"Kurang ajar! Dia bahkan tidak segan-segan membayar seorang ahli agar video tersebut sulit dihapus dari sosial media. Julia!!! Suatu hari aku pasti akan memenggal kepala mu!" teriak Rica tanpa memperdulikan ia dimana.


"Kenapa tidak langsung paksa saja Julia untuk hapus itu video dari media sosial? Kita tahu betul kalau dia lah yang melakukannya. Bila perlu, keluarkan ia dari sekolahan ini!" saran Delfa.


"Aku tak yakin kalau dia mau melakukannya dengan mudah."


"Ha? Kau itu putri keluarga Pinkston, Rica. Belum lagi ada paman. Sedangkan ia cuman gadis biasa. Kita sudah sering memberi pelajaran pada orang yang sok berani seperti dia. Ada apa denganmu? Sifatmu ini bukanlah Rica yang aku kenal."


"Bukan begitu, Delfa. Walau aku yakin dia bukankah Julia dari keluarga Flors, tapi perasaanku mengatakan kalau dia bukanlah gadis biasa. Bagaimana bisa ia membayar seorang ahli yang sangat hebat untuk menyebarkan video itu?"


"Apa mungkin yang kau katakan benar? Tapi instingku ini biasanya tidak pernah salah," perasaan ragu masih menyelimuti Rica.


"Sedahlah, lupakan itu. Percayalah pada temanmu ini. Lebih baik pikirkan cara agar videomu itu hilang dari situs sekolah."


"Kau benar Delfa. Mau siapapun Julia ini, ia pasti menyesal berurusan denganku."


"Ini baru Riva yang aku kenal."


"Entah mengapa aku benci pada mereka berdua," batin Tn. Vincent yang sendari tadi seperti tidak dianggap.


"Tapi apa yang harus kita lakukan?" tanya Rica.


"Hm, andai kita tahu siapa orang yang Julia bayar untuk menyebarkan video itu, dengan begitu kita bisa membayar dia dua kali lipat agar mau menghapusnya."

__ADS_1


"Apa sebaiknya aku minta bantuan paman saja, ya untuk mencarinya? Kebetulan kan paman baru pulang kemarin. Ia pasti bisa membantuku menyingkirkan si kecoa Julia ini," pikir Rica. "Apa sungguh suruhanmu tidak tahu sama sekali siapa pemilik dari akun misterius tersebut?" tanya Rica pada Tn. Vincent.


"Sama sekali tidak," jawab Tn. Vincent sambil menggeleng.


"Aku sudah mendengar permasakahanmu Rica. Apa boleh aku berkenanan membantumu?" kata seorang yang tiba-tiba melangkah masuk ke ruang kepalah sekolah. Ia datang tidak sendirian.


"Tuan muda Arlo," Rica seketika senang melihat sang pujaan hati menawarkan diri untuk membantunya. "Ini bukan mimpi, kan? Yusra sendiri mengatakan ingin membantuku. Sepertinya ada cukup keuntungan dari masalah ini."


"Wow, tidak aku sangka dia akan datang," ujar Delfa.


"Ah, Tuan muda Arlo. Suatu kehormatan tuan muda datang ke kantor saya. Silakan duduk,"


Tn. Vincent langsung berdiri dan mempersilakan Yusra duduk. Berbeda dengan Rica dan Delfa yang masih membuatnya tidak bergeming walau sudah diancam, perlakuan Tn. Vincent ke Yusra seperti seorang bawahan yang bertemu atasan. Walau jika dilihat, hal tersebut tidak pantas. Bagaimana bisa seorang kepalah sekolah terlihat memberi hormat pada seorang murid? Tapi, iya... Mau bagaimana lagi. Status sosial di masyarakat bisa membuatnya seperti itu. Dan ditambah lagi keluarga Arlo merupakan salah satu penyokong dana di sekolah ini.


"Buatlah diri anda senyaman mungkin. Oh, apa perlu saya minta seseorang membawakan minuman untuk anda?" tawar Tn. Vincent.


"Jangan sungkan begitu Tn. Vincent," Yusra mengambil tempat duduk di sofa yang tersedia ruang kepalah sekolah.


"Dasar Tn. Vincent penjilat!" caci Rica dalam hati.


"Marjorie, lacak siapa yang telah menyebarkan video yang mempermalukan nona Pinkston. Tunjukan kehebatan mu," perintah Yusra.


"Baik tuan muda."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2