
"Jika kedua kakimu patah, bagaimana bisa kau keluar dari tempat itu? Markas Tn. Stevan terletak jauh di dalam hutan," tanya Lina mencoba mengulur waktu. Ia berharap Daniel segera datang menolongnya.
"Aku menghubungi anak buah ku."
"Anak buah mu? Eghmmm......."
"Sebenarnya sejak dari dulu aku meragukan identitas ku sebagai putri keluarga Cershom. Walau ayah memberikan semua yang aku inginkan tapi ayah tidak perna peduli padaku. Setiap hari ia selalu sibuk dengan pekerjaannya dan tidak perna ada waktu untukku, bahkan dihari libur sekalipun. Di waktu-waktu aku berbincang dengannya juga terasa canggung. Sikap dinginnya itu membuatku sedikit takut menegurnya ketika aku masih kecil. Aku dulu juga sering mencoba menarik perhatiannya, tapi tetap saja reaksinya seperti tidak peduli. Ia cuman melihat sekilas lalu berkata 'iya' 'lumayan' atau 'teruslah berlatih' tanpa memperhatikan apa yang sebenarnya aku lakukan."
Mendengar masa lalu Violet membuat Lina sedikit tersentuh. Sikap dingin Ducan mamang bertanggung jawab atas sifat Violet sekarang. Andai Ducan lebih perhatian padanya mungkin ia tidak akan seperti ini. Sama hal nya dengan Lina, Ramona memperlakukan Lina layaknya putrinya sendiri. Hal hasil Lina memiliki rasa Empati yang cukup kuat. Didikan orang tua memang berpengaruh pada daya tubuh kembang dan pola pikir anak.
"Sebab itu aku secara diam-diam membentuk kelompok ku sendiri. Dengan modal uang saku ku, selamat sekian tahun kelompok yang aku pimpin semakin berkembang. Sudah ada puluhan anak buah yang mengikutiku. Mereka semua terlatih dengan sangat baik dan tidak kalah dengan pasukan khusus milik ayah. Kami juga memiliki persediaan senjata yang lengkap, serta bisnis kami bergerak di bidang jual beli ilegal dan narkotika. Sungguh pencapaian yang sangat pesat selama enam tahun ini."
"Hah... Huh.... Apa kau berencana memberontak?"
"Memberontak? Itu memang tujuan awal, namun masih ada keraguan dalam benakku. Apapun masalah yang aku alami ayah selalu datang secara langsung dan membantuku walau ekspresi dinginnya tidak perna berubah. Karna hal ini lah kami belum bergerak sama sekali dan perlahan tujuanku berubah. Aku ingin membuktikan pada ayah kalau aku bisa membentuk kelompok hebat tanpa bantuannya. Ayah pasti tidak menyangka atas pencapaian ku. Sedangkan kau... Kau itu cuman gadis miskin yang tidak bisa apa-apa jika dibandingkan denganku. Kau baru mengenal dunia bawah tanah ini. Bersifat kejam saja tidak cukup."
"Jika dilihat-lihat aku memang kejam tapi aku masih memiliki hati nurani. Aku tidak akan melukai orang yang tidak bersalah."
"Kau tidak pantas masuk ke dunia bawah tanah jika memiliki hati nurani. Sifat itu cuman dimiliki oleh orang yang lemah. Dan di dunia bawah tanah orang kuatlah yang bisa menempati puncak tertinggi."
"Hnmmmpph.....! Jadi kau kembali ingin balas dendam padaku?"
"Bisa dibilang begitu. Aku ingin merebut semua yang dulunya aku miliki!"
__ADS_1
"Hah! Yang kau miliki? Apa kau sungguh tidak tahu malu mengakui milik orang lain sebagai milikmu? Kau memang serakah Violet. Padahal ayah berencana mewariskan perusahaannya padamu tapi kau... Kau mala ingin merebut warisan yang ibu berikan untukku! Sadarlah siapa dirimu! Kau itu cuman anak akan dan aku ini putri kandung mereka."
Mendengar itu membuat Violet tidak bisa menahan emosi. Dia bukan lah tipe gadis yang bisa mengendali emosinya dengan baik. Lina tahu itu dan memang sengaja melakukannya. Dan seperti yang diharapkan. Dengan geram Violet menancaplan belati tepat disamping kepala Lina. Belati tersebut menggores pipi Lina. Darah mengalir pelan disana.
"Tidak!! Hanya aku putri sah dari keluarga Cershom dan bukan kau!!! Seandainya kau tidak perna muncul dalam hidupku semua ini tidak akan terjadi! Aku pasti menjadi orang yang paling bahagia. Menikahi orang yang aku cintai dan menjadi pemilih sah dari rumah lelang terbesar di negeri ini. Tapi kau... Kau menghancurkan semuanya! Kenapa... Kenapa kau harus muncul dalam hidupku?!! Kau itu seharusnya sudah menghilang lebih dari 17 tahun yang lalu!!"
"Kau juga seharusnya telah mati di reruntuhan markas itu. Memangnya aku sudi melihatmu kembali!!" betak Lina menatap benci Violet.
"Kau sungguh hebat Lina masih bisa membentaku seperti ini," Violet menekan kuat kandungan Lina.
"ARRGHHH ! ! !" pekik Lina begitu merasakan rasa sakit yang sangat hebat. Ia menghempaskan kepalanya ke belakang sambil memejamkan mata.
"Sebaiknya kau cepat lahirkan bayi mu agar aku dapat membunuh mu!!!"
"Kau tenang saja. Aku akan merawat mereka. Aku bisa pastikan mereka akan sangat menderita. Tidak akan kubiarkan mereka dapat merasakan kasih sayang sama sekali. Mereka akan menjadi budakku!" Violet semakin menekan kandungan Lina yang membuat Lina menjerit.
"AAAAAHH ! ! !"
"Cepatlah mengejan! Atau aku akan membelah perutmu ini!"
"Bos," panggil salah satu anak buah Violet yang membuat Violet menoleh.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ada barang masuk di markas utama. Mereka ngirim beberapa dokumen untuk anda tanda tangani."
"Nah Lina, sebaiknya kau cari nafas dulu. Ada pekerjaan yang tidak boleh aku tinggalkan. Ini merupakan investasi besar. Kita lanjutkan lagi nanti ya," Violet melangkah pergi meninggalkan Lina sendirian, namun ia kembali. "Oh, iya. Jika kau mengharapkan Daniel untuk datang menyelamatkan mu sebaiknya lupakan saja itu. Karna ia tidak akan mungkin datang. Aku sudah meminta beberapa anak buah ku untuk menghambat komunikasi dan perjalanannya."
Lina mengangkat kepalanya mencoba melirik pintu ketika Violet sudah pergi. "Em, sepertinya aktingku tadi terlalu dramatis. Tapi tadi itu benar-benar menyakitkan sekali. Ibu harap kalian baik-baik saja. Maafkan ibu karna tidak menjaga kalian dengan baik. Ibu telah membuat kalian dalam bahaya. Tapi ibu harap kalian mengingat gadis itu dan berjanjilah pada ibu jika kalian selamat hari ini, kalian harus membunuh dia suatu saat nanti."
Lina menjauhkan sedikit kepalanya dari belati tersebut, kemudian menoleh menghadap ke belati. Ia berusaha mencabut belati itu menggunakan mulutnya. Cukup kesusahan namun Lina tidak menyerah sampai akhirnya belati tersebut dapat ditarik. Lina melemparkan belati itu ke tangan nya. Kendala lain terjadi, lemparannya tidak cukup jauh. Tangannya tidak sampai menggapai belati itu.
Lina menghempaskan tubuhnya untuk membuat daya pantul di kasur agar belati tersebut terpental sampai dapat digapai olehnya. Tiga kali belati tersebut terangkat dan akhirnya menyentuh jari Lina. Dengan cepat Lina meraih belati tersebut dan berusaha memotong tali yang melilit pergelangan tangannya sebelum Violet kembali.
Usaha selalu membuahkan hasil, tali tersebut berhasil putus. Lina kini memotong sisa tali yang ada namun disaat hendak memotong tali terakhir di kakinya, ia mendengar langkah kaki sepatu hak tinggi. Itu Violet. Dia kembali. Lina bergegas memotong tali itu dan turun dari tempat tidur. Tidak ada jalan lain untuk keluar dari ruangan ini selain pintu itu dan Violet semakin mendekat.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε