Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Perpisahan


__ADS_3

"Iya. Demi mendapatkan Token rumah lelang Red Krisan, dia dengan teganya membunuh saudara kandungnya sendiri! Apakah itu yang pantas disebut sebagai keluarga?!! Dia membunuh ibuku, dia membuatku terpisah dari ayah selama lebih dari 17 tahun! Dan karna dia juga tuan besar Flors sampai meninggal dunia. Dia memang pantas mati dengan sangat keji!!!"


Daniel yang mendengar suara parau nan sedih dari Lina bergegas menghampiri bersama Julius dan Julia.


"Kucing kecil, ada apa ini?" tanya Daniel. Ia mendekap Lina dalam pelukannya mencoba menenangkan hati yang tengah bersedih.


"Huaaa..........aah......." suara tangis Lina menghiasi senja di hari itu.


"Mama," Julius dan Julia ikut memeluk mama mereka.


"Kau mungkin hanya kehilangan kakakmu dan itupun sebenarnya kehendak kakakmu sendiri untuk mengakhiri hidupnya. Tapi apa yang telah dilakukan Stevan pada Velia mamang sungguh sangat keterlaluan. Diusianya yang masih kecil ia sudah kehilangan ibunya dan harus terpisahkan selama bertahun-tahun dari ayahnya," George mengeluarkan pistol nya dan mengarahkannya ke Sara. "Terima kasih untuk apa yang telah kau lakukan selama tiga tahun ini. Walau kau berniat membunuhku tapi bagiku kau memiliki kepribadian baik. Aku akan memberi eksekusi yang tidak akan membuatmu merasakan sakit karna aku memaafkanmu."


"Hiks... Hiks... Aku tidak butuh maaf darimu! Aku tidak butuh... Hiks... Hiks..."


"Semoga kau menjadi orang lebih baik lagi di kehidupanmu selanjutnya. Selamat tinggal."


Dor!


Tima panas melesat cepat menembus tepat ke jantung Sara yang membuatnya tewas di tempat. Karna telah mendapat maaf dari George, tubuh Sara dimakamkan dengan layak dan bahkan mendapat karangan bunga tepat di batu nisannya.


Sinar jingga di langit senja telah memudar. Lina sudah merasa baikan, mengingat dendam ibunya telah lama terbalaskan. Ia minta maaf pada George karna secara tidak langsung penyebab George mengalami lumpuh itu karna dirinya. George tidak terlalu perhitungan, mala ia mengajak keluarga kecil Lina untuk makan malam bersama. Selama makam malam George sedikit bertanya tentang perkerjaan, kabar Ducan yang Lina baru tahu kalau ternyata ayahnya masih berada di luar kota, masa lalu Lina semasa kecil dan pertemuan pertama Lina dengan Daniel. Di keasikan berbincang Lina baru menyadari ada satu orang yang hilang.


"Dimana samuel, Tn. George? Aku tidak melihatnya sendari tadi," tanya Lina.


"Dia tidak bilang padamu?" George mala bertanya balik.


"Bilang apa?"


"Beberapa hari lalu ayah perna menawari Samuel untuk mengurus salah satu perusahaan yang ada di Italia. Awalnya ia menolak karna terlalu jauh dan kemungkinan jarang bisa kembali pulang, tapi entah mengapa tiba-tiba tadi ia bersedia pergi."


"Apa?! Ia tidak memberitahuku sama sekali. Kapan dia berangkat ke Italia?" kata Lina kaget setelah mendapat kabar tersebut


George melirik jam tangannya. "Dia bilang pesawatnya akan lepas landas sekitar jam 19.00."


"Itu artinya 15 menit lagi. Kita harus cepat kesana sebelum dia pergi," pinta Lina pada Daniel.


"Apa masih sempat Velia? Jarak dari sini ke bandara cukup jauh," ujar George.

__ADS_1


"Sempat!" kata Daniel sangat yakin. "Waktunya cukup. Aku akan mengantarmu ke bandara untuk menggucapkan salam perpisahan."


"Terima kasih Daniel."


"Papa, mama, kami juga mau ikut," kata Julius.


"Jangan tinggalkan kami seperti tadi," sambung Julia.


"Maaf," Lina sedikit mengingat kejadian siang tadi. "Ayok kita berangkat sekarang. Kami pargi dulu ya paman George."


Lina, Daniel, Julius, dan Julia beranjak dari kursi mereka bergegas pergi selagi masih ada waktu untuk menyusul Samuel ke bandara.


"Hati-hati di jalan!" teriak George sebelum mereka pergi.


Diperjalanan menuju bandara internasional, Daniel menancap tinggi gas mobilnya. Sesekali maniver dijalanan Daniel lakykan untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan lain. Waktu semakin menipis. Sementara itu, di bandara.


"Mungkin dengan pergi ke Italia bisa membantuku melupakan Velia."


Samuel sempat melirik ke belakang untuk mengucapkan salah perpisahan pada kota kelahirannya. Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, Samuel memantapkan hatinya untuk berangkat. Ia menarik kopernya menuju pesawat yang akan ia tumpangi. Namun tiba-tiba...


Langkah Samuel seketika berhenti disaat mendengar suara yang memanggil namanya. Ia menoleh untuk memastikan suara tersebut. Ia cukup dikejutkan begitu melihat Daniel, Lina, Julius dan Julia berlari menghampirinya.


"A, apa yang kalian lakukan disini?"


"Apa yang kami lakukan disini? Seharusnya aku bertanya padamu, apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau sebenarnya kau akan pergi ke Italia? Jika bukan karna ayahmu yang memberitahuku..."


"Maaf, Velia. Aku tidak sanggup menghadapi perpisahan. Itu terlalu menyakitkan," potong Samuel.


"Kenapa kau harus pergi mendadak seperti ini?"


"Aku sudah perna cerita tentang perasaanku padamu," Samuel melirik Daniel yang memberi isyarat silakan. "Sejujurnya Velia, aku mencintaimu. Tapi aku tahu aku tidak akan mungkin bisa memiliki dirimu apalagi hatimu. Hatimu ini sudah jadi milik suamimu, Daniel. Aku tidak akan mungkin menuruti egoku memisahkan mu dari keluargamu. Biarlah aku yang merasakan rasa sakit ini selama aku bisa melihatmu bahagia. Dengan aku berada jauh darimu mungkin bisa membuatku perlahan-lahan melupakanmu atau mungkin tidak akan perna bisa."


"Samuel, sampai jumpa lagi. Aku harap kau menemukan apa yang kau cari."


"Aku tidak yakin dapat menemukan wanita yang sama sepertimu. Daniel, aku percayakan adik sepupuku padamu. Jika kau berani menyakitinya, aku sendirilah yang akan menjadi malaikat maut mu."


"Itu tidak akan terjadi. Kau bisa percaya sepenuhnya padaku," Daniel merangkul bahu Lina.

__ADS_1


"Aku pegang kata-katamu. Selamat tinggal," Samuel berbalik pergi.


"Paman pirang!" teriak Julius dan Julia membuat Samuel menoleh lagi.


"Julius, Julia."


"Sampai jumpa lagi!" mereka melambaikan tangan pada Samuel sebagai ucapan perpisahan. "Cepat kembali ya paman, agar kita bisa main bersama lagi!"


"Dah..." Samuel membalas lambaian tangan tersebut lalu melanjutkan langkahnya. "Semoga kita bisa bertemu lagi. Aku tidak yakin dapat kembali."


"Paman! Jangan lupa janjimu ya."


"Janji?!" kalimat terakhir yang ditangkap telinga Samuel membuat ia tersentak dan mengingat janji yang dimaksud. Samuel menebar senyum kecil. "Aku tidak akan lupa."


"Janji apa?" tanya Daniel penasaran.


"Ada deh."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Dua hari berlalu. Ducan baru pulang dari urusan bisnisnya di luar kota. Selama dua hari ini George dan Lina telah berencana untuk mempertemukan Ducan dan Tn. Down. Georgen masih belum memberitahu ayahnya soal Lina yang ternyata merupakan cucu Tn. Down sendiri. Biarlah ini manjadi sebuah kejutan.


Tepat keesokannya, George menggudang Ducan dan keluarga kecil Lina untuk berkenjung ke kediaman utama keluarga tersembunyi dengan alasan mentraktir mereka makan siang bersama di sebuah restoran agar Ducan mau pergi bersama mereka. Awalnya Ducan tidak mau turun dari mobil begitu mengetahui kalau ternyata dia diajak ke kediaman utama keluarga tersembunyi. Kenangan masa lalu masih terasa segar di ingatan Ducan begitu melihat tempat ini.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2