Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Salah lawan


__ADS_3

Julius dan Julia bergegas mencari keberadaan mama mereka di seluruh area taman tersebut. Mereka tidak memperdulikan lagi Violet, walau memang Violet juga tidak peduli pada mereka. Mau hilang atau terlukapun itu memang tujuannya dari awal. Julius dan Julia menyelusuri setiap seluk-beluk taman ini namun mereka tidak menemukan sosok yang mereka cari. Ada beberapa orang mereka temui di taman itu dengan ciri-ciri hampir sama seperti yang disebutkan Julia sebelumnya tapi mereka bukanlah mama mereka.


Cukup lelah berjalan mengelilingi taman yang begitu luas membuat mereka harus melepas lelah sebentar. Disisi taman bagian belakang, tersembunyi dari parkiran. Tempat sejuk dengan pepohonan rindam dan sepi. Di sana lah Julius dan Julia menghilangkan penat.


"Apa kau sungguh yakin bertemu dengan mama, Julia? Mungkin kau terlalu merindukannya sampai berhalusinasi melihat orang lain sebagai mama," kata Julius kembali meragukan.


"Aku tidak berhalusinasi, kak. Aku benar-benar bertemu mama. Aku tidak mungkin salah. Hiks... Aku rindu mama. Hiks... Hiks..." Julia mulai menangis terseduh-seduh.


"Sudah, sudah. Berhetilah menangis. Kau bilang tadi mama yang menolongmu. Lalu, kenapa mama tidak mengenalimu?"


Julia sedikit tersentak. Ia menyekat air mata di pipinya. "Tunggu dulu, kenapa aku baru menyadari ini? Mama memang terlihat asing bertemu denganku, seperti... Itu merupakan pertemuan pertama kami."


"Apa mungkin..."


Tiba-tiba muncul lima orang pria mengepung mereka. Julius segera waspada. Ia menyembunyikan Julia di belakang tubuhnya.


"Siapa mereka, kak?" tanya Julia berbisik.


"Tidak tahu. Tapi mereka pasti tidak mempunyai maksud baik. Bersiap-siap saja Julia."


"Baik."


"Oo... Lihat siapa ini," ujar salah satu dari mereka.


"Bukankah mereka dua bocah yang menjadi target kita?" tanya seorang yang lain memastikan.


"Benar. Wanita itu meminta kita untuk menangkap mereka. Ia bilang terserah kita mau melakukan apa pada dua bocah ini asalkan mereka hilang dari muka bumi," kata pria yang paling depan. Sepertinya dia adalah pemimpin dari preman-preman ini.


"Kakak," Julia semakin bersembunyi di balik tubuh Julius.


"Hah... Merepotkan. Julia, bonekamu."


"Ini," Julia menyerahkan bonekanya pada kakaknya.


"Kalian kami beri waktu lima detik untuk meninggalkan tempat ini atau... Kalian semua mati," ancam Julius dengan raut wajah tenang.


"Ffttt.... Hahaha...." tawa mereka bersamaan.

__ADS_1


"Mereka ini lucu sekali."


"Kalian itu cuman dua bayi yang baru belajar bejalan. Ingin membunuh kami? Jangan bercanda! Hahaha..."


"Melihat darah saja kalian pasti sudah menangis. Mau mencoba membunuh kami? Kalian pikir bisa menakut-nakuti kami?"


"Hahaha... Yang benar saja. Kami berlima dan kalian cuman berdua dan kecil pula," bos mereka menyipitkan sebelah matanya mencoba mengukur tinggi Julius dan Julia mengguna jarinya.


"Oh, apa kalian mau mencobanya?" tantang Julius.


"Sudahlah bocah, kami tidak akan mungkin takut dengan ancaman kecil kalian."


"Hei, bos. Bagaimana kalau kita membiarkan mereka menyerang? Aku ingin lihat kemampuan mereka."


"Ha, kemampuan? Mereka mengelitiku saja tidak bisa. Tapi kalau kalian ingin mencoba, silakan saja. Ayok maju sini pria tangguh," kata bos preman itu dengan nada mengejek.


"Kalian sudah kami beri kesempatan tapi mala menyia-nyiakannya. Semoga reinkarnasi kalian bisa menjadi orang yang lebih berguna lagi. Julia, kau urus dua orang yang ada di kiri. Biar aku urus bos mereka dan sisa dua orang di belakangnya."


"Baik. Saatnya mencoba oleh-oleh yang diberikan papa."


Julius dan Julia melesat cepat menyerang preman-preman dihadapan mereka. Dengan mengandalkan belati kecil yang terselip dibalik resleting boneka, Julius dan Julia menebas leher para preman ini. Gerakan Julius dan Julia terlalu cepat untuk disadari oleh mereka. Kurang lebih satu menit para preman itu telah terkapar di tanah bersimbah darah.


"Aah... Tanganku kotor," rengek Julia memperlihatkan tangannya yang penuh darah.


Julius menghampiri adiknya. "Kau kurang cepat menghindari cipratan darah itu dan jangan berdiri tepat di arah kau melukai korban agar darahnya tidak belepotan ke wajahmu," ia mengeluarkan sapu tangan lalu membersikan bekas darah di tubuh Julia, apalagi di sekitar wajah dan leher. "Kita ke gedung grup Flors saja membersikan diri disana sambilan memberi tahu papa soal ini."


"Bagaimana dengan mereka," lirik Julia pada para pereman tersebut.


"Biarkan saja. Lagi pula disini juga tidak ada cctv."


Julius dan Julia pergi meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi. Lima menit menunggu akhirnya ada juga taksi yang lewat. Dengan cepat Julius memberhetikannya. Taksi berhenti tepat di depan mereka. Julius segera membukakan pintu dan membantu Julia masuk.


"Oh, sepertinya hari ini hari keberuntunganku. Aku mendapatkan dua penumpang yang imut. Kemana tujuan kalian anak-anak yang manis?" tanya sopir taksi itu ramah.


"Perusahaan grup Flors," jawab Julius.


"Baiklah," sopir taksi itu segera melajukan mobilnya diantara kendaraan lain. "Kalau boleh tahu, apa yang ingin kalian lakukan disana?" tanyanya memecah keheningan.

__ADS_1


"Kami cuman ingin menjenguk papa," jawab Julia.


"Oh... Papa kalian salah satu pegawai di perusahan itu?"


"Tidak. Papa kami pemilik dari perusahaan grup Flors tersebut."


Sopir tersebut mengangkat sebelah alisnya sambil melirik dua penumpang kecil dibelakangnya. "Maksud kalian... Kalian putra-putri dari Tn. Flors?"


"Iya," jawab mereka serempak dengan anggukan.


"Wow... Aku sungguh tidak percaya aku bisa mendapatkan penumpang dari kalangan atas seperti kalian. Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa sendirian ada disana? Sebagai kalangan atas tentunya kalian pasti memiliki banyak pengawal yang mendampingi kalian."


"Kami sudah biasa pergi sendiri," kata Julius.


"Iya. Jika didampingi pengawal biasanya kami tidak bebas melakukan apa-apa."


"Kalian ternyata anak-anak yang pemberani. Okey, kita sampai," sopir itu tepat memberhentikan mobilnya di depan pintu gedung grup Flors.


"Terima kasih. Kembaliannya untuk paman saja," Julius menyerahkan selembar pecahan 100 dolar pada supir taksi itu lalu melangkah keluar dari mobil.


"Ini terlalu banyak," ujar sopir tersebut begitu melihat nominalnya.


"Sampai jumpa lagi paman," kata Julia sambil melambaikan tangan. Setelah itu ia berlari masuk ke dalam gedung menyusul kakaknya.


"Hah... Mereka anak-anak yang murah hati. Sungguh sangat tidak bisa di percaya kalau mereka adalah putra-putri dari bos besar tempat ini," ia menginjak pedal gas meninggalkan tempat tersebut.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2