
"Ada apa dengannya?" tanya Ira yang baru kembali dari toilet dan kebingungan melihat Violet yang pergi dengan raut wajah kesal.
"Hmp!" belum sempat menjawab pertanyaan Ira, Lina berlari menuju toilet sambil menahan mulutnya.
"Lina!" teriak Ira ikut berlari menyusul Lina.
"Hoek! Hoek!" Lina memuntahkan seluruh makan siangnya hari ini di dalam saluran pembuangan. Sambil berusaha menopang kandungannya menggunakan sebelah tangan, Lina berusaha mengatur nafasnya setelah muntah berkali-kali.
"Lina, apa yang terjadi padamu?" dengan khawatir Ira seketika masuk ke toilet dan berjongkok di samping temannya itu.
"Hah...hu... Aku merasa lebih baik setelah muntah."
Ira membantu Lina berdiri lalu keluar dari toilet tersebut. Ia membimbing Lina menuju wastafel.
"Ini pasti karna Steak yang Violet berikan pada kita. Aku sudah bilang untuk tidak memakannya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada janinmu? Kau tidak mau itu, kan?"
"Apa yang dikatakan Ira benar. Racun ini mungkin tidak terlalu berpengaruh padaku tapi tidak untuk mereka. Aku memang sudah meminum pil agar aku bisa memuntahkan racun tersebut, tapi itu tidak menutup kemungkinan masih ada sisa racun yang tertinggal. Aku harus segera kembali pulang dan meminum penawar racunnya sebelum terlambat," dengan raut wajah terlihat lemah akibat muntah berkali-kali dan tangannya masih menopang perutnya, Lina meminta Ira untuk mengatarnya pulang. "Bisa antar aku pulang Ira?"
"Pulang? Lebih baik kau ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisimu."
"Tidak, pulang saja. Aku bisa menelpon dokter Anna untuk datang ke rumah."
"Hah, baiklah."
Ira membantu Lina berjalan kembali ke mobil yang terparki di depan restoran. Rey yang menjadi sopir pribadi Lina menggantikan tugas Qazi segera keluar dari mobil disaat melihat Lina dan Ira menghampiri mobil. Ia membantu membukakan pintu mobil untuk mereka.
"Apa yang terjadi nona Lina? Wajah anda pucat sekali," berbeda dengan Qazi, tutur kata Rey jauh lebih sopan.
"Bisa tolong atar kami kembali ke rumah, Rey. Aku sedikit tidak enak badan hari ini," pinta Lina.
Rey menacap gas mobil dengan kecepatan sedikit tinggi. "Bukankah anda tadi masih baik-baik saja? Kenapa setelah keluar dari restoran tiba-tiba jatuh sakit? Apa ini karna makanan di restoran tersebut? Aku bisa melaporkan hal ini pada tuan muda agar restoran itu ditutup."
"Bukan. Ini bukan karna makanan disana. Aku, aku memang sudah merasa tidak enak badan sejak dari kampus tadi. Mohon jangan beritahu Daniel tentang hal ini," kata Lina mencari alasan.
"Oke. Apa perlu saya panggilkan dokter?"
"Tidak perlu. Aku sedang menelpon dokter Anna untuk datang ke rumah."
__ADS_1
Tut... Tut... Tut...
"Iya, hallo. Ada apa nona Lina," sapa Dakter Anna begitu mengangkat telpon.
"Dokter Anna, bisa anda berkunjung ke rumah hari ini? Aku mau melakukan pemeriksaan."
"Bisa. Tapi mungkin akan sedikit terlambat. Masih ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Tidak apa kan anda menunggu sebentar?"
"Tidak apa, asalkan anda bisa datang hari ini."
"Baik saya pasti akan datang setelah urusan ini selesai."
"Terima kasih dokter Anna."
Lina menutup telponnya. Ia membaringkan kepalanya di sandaran kursi mobil sambil memejamkan mata. Tidak ada gejala apapun yang Lina rasakan selain lesuh tak bertenaga dan matanya sedikit ngantuk. Ia tertidur selama perjalanan pulang.
"Lina, bangun. Kita sudah sampai," panggil Ira membangunkan Lina dengan cara menggoyangkan tubuhnya.
"Hah, apa? Aku ketiduran? Hoam..." dengan mata setengah terpejam Lina melangkah keluar dari mobil, tapi sebelum itu kepalanya sempat membentur pintu mobil. "Aduuh...." rinti Lina sambil mengusap dahinya.
"Hihi... Hati-jati Lina. Bangunlah sepenuhnya dulu."
Lina segera masuk ke rumah menuju kamarnya di dampingi Ira di sampingnya. Ia sempat meminta pada Emma untuk membuatkan suatu makanan yang dapat menambah energi nya. Sampai di kamar Lina dengan cepat mengambil obat penawar itu yang tersimpan di brankas dan langsung meminumnya. Ira yang melihat itu sedikit kebingungan, apa yang baru saja diminum Lina? Jika memang suatu obat, kenapa disimpan dalam brankas bukannya dalam kotak obat? Ira tentu mempertanyakan hal ini pada Lina tapi ia tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
Keadaan Lina mulai membaik. Tubuhnya tidak terasa lemas lagi sehabis makan makanan yang dibuatkan Emma. Namun ia masih was-was terhadap kandungannya. Ia berharap bayi-bayinya sesehat dirinya. Setengah jam kemudian, dokter Anna datang juga ke rumah. Ia segera melakukan pemeriksaan pada Lina setelah mendengar kelurahan pasien nya itu, dan tentu Lina tidak menceritakan kalau dirinya keracunan. Lima menit melakukan pemeriksaan, dokter Anna menyatakan kalau janin dalam kandungan Lina baik-baik saja, walau memang sempat sedikit ikut melemah karna mengikuti kondisi ibunya.
"Saya akan memberi vitamin untuk nona Lina. Dan mohon untuk memperhatikan pola makan."
"Terima kasih dokter Anna. Maaf merepotkan anda hari ini," Lina berusaha duduk di tepi ranjang setelah melakukan pemeriksaan.
"Sudah kewajiban saya nona Lina. Jangan sungkan."
"Ini sungguhan dokter Anna? Dokter terkenal yang mendapat gelar diusia yang sangat muda dan telah mendapat berbagai prestasi di dunia ke dokteran?" kata Ira dengan wajah berseri.
"Iya."
"Wah... Aku sungguh tidak menyangka dapat berjumpa dengan anda hari ini. Anda masih terlihat sangat cantik walau sudah menginjak kepala empat. Saya pengemar berat anda. Karna dokter Anna, saya bertekat ingin menjadi dokter kandungan seperti anda. Boleh saya belajar sedikit dari anda? Aku mohon."
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Suatu ilmu memang harus dibagi. Biarkan aku jadikan kau sebagai murit pribadiku."
"Benarkah? Terima kasih, terima kasih dokter Anna," dengan riang Ira memeluk dokter Anna.
"Hah... Dasar Ira," Lina hanya bisa menggeleng melihat kelakuan temannya itu.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Sepanjang sore sampai jam makan malam tiba, Lina menghabiskan waktunya dengan tertidur pulas. Daniel yang baru pulang cuman tersenyum melihat kucingnya yang tertidur begitu damai. Daniel menghampiri tempat tidur lalu duduk di samping Lina yang terbaring di sana. Dielusnya lembut helaian rambut Lina dan kemudian dikecupnya sekali dahi istri kecilnya itu. Lina perlahan membuka matanya begitu merasakan elusan di kepalanya.
"Daniel, kau sudah pulang," Lina berusaha duduk dibantu Daniel. "Hoam... Jam berapa sekarang?"
"Jam 18.55," jawab Daniel. "Aku dengar kau memanggil dokter Anna hari ini. Apa ada terjadi sesuatu padanya?"
Daniel meletakan tangannya di perut Lina, kemudian dielusnya perlahan. Setiap sentuhan hangat yang Daniel berikan membuat pergerakan janin dalam perut Lina menjadi aktif. Sepertinya mereka sangat senang bertemu dengan ayah mereka. Hal itu membuat Lina senang karna bayi-bayinya kembali aktif seperti biasa.
"Tidak. Siang tadi aku cuman merasa tidak enak badan. Sekarang sudah merasa baik kan," Lina ikut meletakan tangannya perutnya tepat di atas tangan Daniel.
"Kau harus menjaga kesehatanmu. Jangan memaksakan diri kalau masih belum sembuh sepenuhnya. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu dan pada anak kita," Daniel kini mengecup sekali dahi Lina lalu beralih mengecup perut Lina.
"Sst... Mereka semakin aktif setiap kali mendapat sentuhan darimu."
"Apa itu menyakiti bagimu?"
"Tidak. Gerakan mereka masih lembut."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε