
"Sudah, sudahlah. Berhenti menangis," Samuel mencoba menenangkan Lina.
"Apa yang harus aku lakukan? Hisk... Hiks... Kemana kami akan pergi? Aku tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini."
"Kau tidak harus pergi kemana-mana. Kau masih memiliki kami. Aku akan merawatmu."
"Merawat ku?" Lina berhenti menangis. Ia menatap wajah Samuel yang terlihat serius.
"Iya. Aku... Aku bersedia menjadi ayah pengganti bagi anakmu. Kalian layak mendapat kebahagian. Tidak peduli apa yang terjadi aku akan selalu ada untukmu dan anakmu. Aku akan menganggapnya sama seperti anakku sendiri."
Lina terdiam mendengar itu. Ia tidak percaya apa yang baru saja keluar dari mulut Samuel. Pria di depannya ini bersedia menjadi ayah bagi anaknya yang malang. Tapi entah mengapa Lina tidak bahagia sama sekali. Jika ia menerima Samuel, ada perasaan bersalah yang tidak bisa dijelaskan.
Samuel mengangkat dagu Lina dengan lembut. Ditatapnya dalam-dalam mata yang masih berlinang itu. Ia membungkukkan badannya mendekatkan wajahnya ke wajah Lina lalu tiba-tiba mencium bibi manis merah delima wanita yang ada dihadapannya. Lina tersentak atas apa yang dilakukan Samuel. Matanya melebar tak percaya. Ia berusaha mendorong Samuel menjauh namun tidak bisa. Samuel telah melingkarkan tangannya di pinggang Lina dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Mmmmph.... Samuel..." kata Lina bersusah payah di saat nafasnya hampir habis.
Bukannya melepaskan Samuel mala berusaha membuka paksa bibir Lina agar lidah mereka bisa bertemu. Tidak mau membiarkan Samuel berbuat lebih, Lina mengigit bibi Samuel sampai terluka. Samuel sadar atas apa yang dilakukannya dan segera melepaskan Lina. Ia menatap bersalah pada gadis yang telah menangis kembali di hadapannya.
"Ve-Velia. Maafkan aku."
Lina hanya mundur. Tangannya merabah gagang pintu, setelah mendapatkannya ia dengan cepat membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Secepat ia mbuka secepat itu juga ia menutupnya kembali. Lina tidak akan membiarkan Samuel masuk.
"Maafkan aku Velia! Aku sungguh tidak bermaksud memaksamu. Mohon maafkan aku," teriak Samuel dari luar sambil mengedur pintu. Ia benar-benar merasa bersalah pada Lina.
"Hiks... Hiks..."
Lina terduduk di lantai dengan keadaan tubuh bersandar di pintu. Ia menggosok bibirnya menggunakan punggung tangannya berulang kali dengan air mata terus mengalir. Walau hatinya terluka ia tidak bisa menerima Samuel. Bahkan tubuhnya sendiri menolak disetuh oleh pria lain. Sangat jauh berbeda disaat Daniel memeluknya. Rasa hangat dan setiap setuhan yang Daniel lakukan benar-benar membuat dirinya merasa nyaman.
"Kenapa? Kenapa tubuh ini bahkan bisa berbuat seperti ini? Mohon jelaskan padaku. Hiks... Hiks..."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Pagi harinya jam 07.24. Dibawah langit yang terlihat mendung, Daniel baru pulang ke rumah. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar Julius dan Julia. Ia tidak mau kepulangannya di sadari oleh Violet. Sampai di depan pintu kamar anaknya, Daniel mengetuk pelan pintu tersebut. Pintu terbuka.
"Papa dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Julius yang membukakan pintu.
"Ini bukan pertama kalinya papa pulang pagi, kan?"
Daniel masuk dan mengambil tempat duduk di tepi tempat tidur Julius. Julius dan Julia menghampiri papanya lalu duduk di sisi kiri dan kanan Daniel.
"Iya, tapi kenapa semalam wanita itu pulang dalam keadaan tidak sadar?" tanya Julia.
"Kakak mu tidak cerita?" lirik Daniel pada Julius. "Kau tahu kenapa papa sekarang tidak mengenakan jas lagi?"
__ADS_1
"Aku sudah meminta papa untuk menjaga jarak dengannya. Itu bukan salahku lagi," Julius mengangkat kedua bahunya.
"Tapi racunmu terlalu kuat. Dia memuntakan apa saja yang masuk ke mulutnya."
"Tidak terlalu kuat. Mungkin cuman sampai siang ini."
"Kapan kakak memberi racun pada wanita itu? Kenapa aku tidak tahu sama sekali?" tanya Julia yang sudah cemberut.
"Salah sendiri kau yang terlalu sibuk bermain bersama Gina. Memang aku harus memberi tahu mu segala sesuatu yang aku kerjakan."
"Tidak perlu permasalahan lagi hal ini. Yang pasti dia tidak akan bisa kemana-mana seharian ini dan mungkin cuman akan terbaring di tempat tidur."
"Apa peduli kami dengan wanita itu?"
"Iya. Dia mau mati juga silakan saja, mala lebih baik."
"Kami merindukan mama."
Daniel tersenyum. "Kebetulan sekali. Papa semalam bertemu dengan mama."
"Bernarkah?" kata mereka bersamaan dengan wajah berseri.
Anggukan Daniel berikan. "Iya. Dan benar mama hilang ingatan."
"Apa kalian mau mengambil misi pertama kalian?" tanya Daniel.
"Misi pertama?"
"Boleh saja. Aku selalu siap untuk apapun," jawab Julius.
"Misi kalian adalah mengembalikan ingatan mama dan membawanya pulang kembali."
"Mengembalikan ingatan mama?" ulang mereka.
"Iya. Papa yakin hanya kalian yang bisa mengembalikan ingatan mama. Jadi papa mohon pada kalian untuk membawa mama kembali pada kita," pinta Daniel dengan sangat pada putra-putrinya.
"Papa tidak perlu meminta lagi. Kami pasti melaksanakan misi ini dengan sangat baik," kata Julia.
"Bagaimana kami mengembalikan ingatan mama jika kami saja tidak tahu keberadaan mama ada dimana?" tanya Julius.
"Paman Qazi kalian akan memberi kabar pada kalian. Saat ini dia berada di lokasi dimana mama berada sekarang."
Ting!
__ADS_1
Satu pesan mendarat di hp Daniel. Dengan cepat Daniel mengeluarkan hpnya dan melihat siapa yang baru saja mengirim pesan.
"Qazi sudah mengirimkan lokasi mama. Apa kalian siap?"
"Tentu saja."
"Kami selalu siap."
"Misi mengembalikan ingatan mama di mulai!"
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Setelah mandi dan ganti baju, Lina seperti biasa turun ke bawah untuk sarapan. Yang membedakan pagi ini dengan pagi biasanya iyalah tidak ada teriakan Samuel membangunkannya. Setelah kejadian malam itu, Samuel merasa canggung berinteraksi dengan Lina seperti biasa. Tentunya hal ini tidak diketahui oleh George apalagi Sara.
"Apa kalian bedua bertengkar?" tanya George yang menyadari kejangalan diantara Samuel dan Lina.
"Iya. Tumben pagi ini rumah terlihat damai-damai saja. Biasanya ada-ada saja yang kalian ributkan setiap paginya," ujar Sara.
"Kami tidak sedang bertengkar kok," jawab Lina yang melirik Samuel sekali.
"Memang tidak boleh kalau kami seperti ini? Bukankah ayah sendiri yang selalu mengeluh mendengar pertengkaran kami?"
"Bukan begitu. Cuman merasa sedikit aneh jika tidak mendengar pertengkaran kalian yang memang setiap hari terjadi."
"Mungkin hubungan mereka semakin membaik," kata Sara menebak-nebak.
"Jika memang begitu sih bagus."
Tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Senyap sebentar. Mereka melanjutkan sarapan pagi. Tak lama, tiba-tiba Sara mendapat telpon dari seseorang. Ia beranjak dari kursinya berjalan menjauh untuk mengangkat telpon tersebut. Hal biasa terjadi. Melihat Sara sudah menjauh Lina baru berkata.
"Em... Tn. George, apa boleh saya ke kota hari ini? Saya harus membeli bahan obat-obatan tambahan untuk obat penawar racun gold crystal."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε